Kolom

Pengangkatan Satu Juta Guru

Agus Siswanto - detikNews
Senin, 21 Des 2020 15:48 WIB
Hidup Hanya Dengan Rp 200.000/Bulan ala Pak Guru
Ilustrasi: Tim Infografis/Fuad Hasim
Jakarta -

Berita bahwa Mendikbud akan mengangkat satu juta guru menjadi angin segar bagi para guru honorer. Putus asa lantaran tidak diterima dalam penerimaan CPNS tahun lalu berubah menjadi sebuah harapan baru. Bagaimanapun, satu juta bukanlah jumlah yang sedikit.

Reaksi yang tak kalah hebat pun muncul dari Senayan. Komisi X DPR memberikan acungan jempol atas langkah Mendikbud kali ini. Rencana tersebut diungkap dalam sebuah rapat kerja dengan Komisi X pada 16 November yang lalu. Apalagi dalam gebrakan kali ini, ditambahkan pula pemberian tambahan insentif bagi guru-guru honorer. Sebuah langkah yang patut diapresiasi tentunya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kesejahteraan guru honorer selama ini berada dalam posisi yang menyedihkan. Ketidakmampuan sekolah untuk memberikan penghasilan yang layak membuat mereka harus menderita. Sebuah ironi yang tak terbantahkan, saat gaji mereka disandingkan dengan gaji para buruh. Perbedaan tingkat pendidikan mereka membuat kesenjangan yang sangat luar biasa.

Kesenjangan itu terlihat manakala seorang buruh dengan pendidikan paling tinggi SMA mendapatkan gaji sesuai UMR. Sementara kelompok guru dengan gelar sarjana hanya berhak atas beberapa lembar uang seratus ribu. Terbayang di benak kita, bagaimana mereka mampu menghidupi keluarganya? Sementara apa yang mereka lakukan adalah proyek yang luar biasa. Sebuah kerja yang akan menentukan masa depan seorang anak, bahkan negara ini sendiri.

Memang sudah ada beberapa langkah yang ditempuh oleh pemerintah daerah berkaitan dengan kesejahteraan guru. Langkah itu berupa pengangkatan mereka menjadi semacam honor daerah; guru yang sudah tercatat dalam database pemerintah daerah berhak mendapatkan penghasilan setingkat UMR daerah setempat. Namun lagi-lagi karena keterbatasan anggaran, hanya beberapa guru honorer saja yang terjangkau.

Langkah sebelumnya juga sudah ditempuh, yaitu berupa pemberian TPG (Tunjangan Sertifikasi Guru). Meski jumlahnya hanya separoh dari guru PNS, tapi cukup lumayan. Tapi, lagi-lagi karena anggaran, maka perlu seleksi di dalamnya. Seleksi dilakukan melalui kegiatan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dan tidak semua guru honorer mendapat kesempatan.

Lompatan Besar

Langkah Mendikbud melakukan pengangkatan guru ini memang sebuah lompatan besar. Meskipun status mereka adalah pegawai kontrak yang nantinya disebut Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), namun tetap merupakan angin segar. Apalagi janji yang diberikan adalah gaji Rp 4,3 juta setiap bulan. Benar-benar sebuah jumlah yang fantastis bagi kalangan guru honorer.

Nada sumbang tentu saja muncul bersamaan dengan keluarnya rencana ini. Pertanyaan mengenai metode perekrutan, pembiayaan, perlakukan pada guru-guru pada kategori K2, dan lain-lain menjadi PR besar buat Mendikbud. Apalagi jumlah yang direncanakan begitu besar. Namun apapun yang terjadi, langkah ini patut mendapat apresiasi. Ada dua hal yang membuat keputusan ini layak didukung.

Pertama, pengangkatan satu juta guru ini akan menjadi solusi bagi pensiun massal yang akan dialami oleh sebagian guru dalam 2-3 tahun mendatang. Fakta di lapangan menunjukkan betapa beratnya beban mengajar guru. Terjadinya pensiun beberapa guru dan larangan mengangkat tenaga guru honorer menjadi pukulan telak bagi sang guru. Rata-rata guru di sekolah saat ini harus mengampu 30 jam pelajaran. Jika dihitung secara rata-rata, mereka harus berdiri di depan kelas 6 jam per hari.

Kedua, langkah ini sudah pasti akan meningkatkan kesejahteraan guru honorer. Kepastian hukum akan status mereka ditambah dengan kelayakan penghasilan pasti akan berdampak pada kinerja. Ketika kinerja bagus, maka dapat diduga akan bermuara pada peningkatan kualitas pendidikan.

(mmu/mmu)