Kolom Kang Hasan

Beragam Sikap Menanggapi Vaksin

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 21 Des 2020 10:40 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Vaksin Covid-19 sudah tiba sebagian. Di beberapa negara vaksinasi sudah dimulai. Apa boleh buat. Vaksin akhirnya menjadi satu-satunya harapan untuk keluar dari pandemi ini. Usaha untuk mengisolasi virus agar tidak menyebar seperti yang dilakukan China tidak sanggup dilakukan di banyak negara, termasuk di negara kita.

Indonesia memilih untuk membeli vaksin buatan Sinovac, dan vaksin kiriman pertama sebanyak 1,2 juta dosis sudah tiba. Tapi vaksin ini belum bisa segera digunakan, karena masih menunggu hasil uji klinis tahap ketiga yang masih berlangsung, dan akan selesai akhir Januari.

Kenapa belum selesai uji klinis kenapa sudah dibeli? Itu salah satu tanggapan yang muncul. Ada tanggapan biasa, ada pula tanggapan yang sinis dan curiga. Salah satu penjelasannya, kita perlu mengamankan sejumlah stok di tengah tingginya permintaan terhadap vaksin. Bahasa awamnya, takut kehabisan.

Tanggapan lain soal keampuhan. Benarkah vaksin buatan China itu ampuh? Tidak hanya kita orang Indonesia yang mempertanyakan. Masyarakat internasional pun banyak yang mempertanyakan. Sinovac belum secara tegas mempublikasikan tingkat efikasi atau keampuhan vaksinnya. Yang baru muncul adalah keterangan parsial.

Hasil uji klinis yang diumumkan oleh UAE menyebutkan angka 86%. Sumber tak resmi di Biofarma menyebutkan angka 97%, tapi Biofarma secara resmi menyebutkan bahwa belum ada hasil final. Posisi Sinovac berbeda dengan 3 produsen lain yaitu Pfizer, Moderna, dan Oxford yang mengklaim efikasi di atas 90%.

Belum adanya hasil resmi yang dipublikasikan membuat orang berspekulasi. Banyak informasi simpang siur yang diedarkan orang. Salah satunya berupa ranking yang konon dikeluarkan oleh WHO, yang menyebut efikasi vaksin Sinovac itu rendah. Kabar itu dibantah oleh BPOM.

Selain itu ada banyak lagi kabar yang cenderung berupa hoax. Kabar-kabar itu disebarkan, tampaknya sebagai upaya untuk membangun kesan bahwa vaksin Sinovac itu tidak berguna. Ada yang menyebar informasi bahwa vaksin itu tidak dipakai di China --China sendiri katanya mengimpor vaksin Pfizer, Moderna, dan lain-lain itu untuk keperluan mereka. Itu informasi yang keliru.

China sudah menyuntikkan 1 juta vaksin buatan mereka sendiri untuk keperluan darurat. Tapi kenapa masih impor juga? Jawaban pastinya harus ditanyakan kepada pemerintah China. Tapi spekulasinya bisa kita pikirkan, di antaranya untuk keperluan perdagangan. Ada yang ingin berdagang vaksin.

Jadi, sebenarnya bagaimana kualitas vaksin buatan China itu? Sekali lagi, jawaban pastinya masih menunggu hasil uji klinis. Tapi secara umum kita bisa berpikir begini. Dalam logika umum pengembangan vaksin, uji klinis tahap ketiga tidak akan dilakukan kalau hasil uji klinis tahap kedua tidak meyakinkan. Tapi siapa yang berwenang menilai hasil uji klinis itu? Hasil uji klinis itu dipublikasikan di jurnal ilmiah.

Kalau mengikuti nalar berbasis kaidah ilmiah, sebenarnya kita tidak perlu khawatir soal kecurangan-kecurangan menyangkut data uji klinis. Di pihak kita pun soal ini dinilai oleh para pakar, bukan orang sembarangan. Jadi, kita tunggu saja.

Kenapa pemerintah Indonesia memilih vaksin Sinovac? Apa bedanya dengan vaksin lain? Vaksin Sinovac dibuat dengan metode tradisional, yaitu memakai virus yang dilemahkan. Sistem kekebalan tubuh kita "diperkenalkan" dengan virus lemah, dengan tujuan agar tubuh membangun kekebalan berdasarkan informasi itu.

Sedangkan vaksin lain memakai metode baru, yaitu mRNA. Kode genetik virus diinjeksikan ke tubuh, yang akan memberi instruksi kepada sel-sel tubuh untuk memproduksi protein yang bisa membunuh virus sejenis. Perlu diketahui bahwa metode ini baru pertama kali diizinkan di Amerika dalam produksi vaksin.

Salah satu keunggulan vaksin Sinovac ini adalah bahwa ia tidak memerlukan pendinginan ekstrem. Sedangkan vaksin baru tadi memerlukan pendinginan di suhu -20 derajat Celcius, bahkan ada yang memerlukan suhu -70 derajat. Vaksin Sinovac cukup didinginkan dalam suhu kulkas biasa. Untuk negara kita dengan berbagai keterbatasan infrastruktur, Sinovac yang mudah ditangani ini adalah pilihan yang tepat. Tentu saja tanpa mengabaikan aspek terpenting yaitu keampuhan tadi.

Ada lagi tanggapan-tanggapan yang basisnya di luar soal vaksin, tapi ke soal politik. Presiden Jokowi sering dicitrakan sebagai pemimpin yang jahat khususnya kepada umat tertentu. Banyak isu disebar untuk memojokkan dia. Isu vaksin ini pun dipakai untuk memojokkan Jokowi. Salah satu bentuknya adalah dengan menantang Presiden untuk disuntik pertama. Ini tantangan yang sudah ada sejak uji klinis dimulai.

Kenapa Presiden harus disuntik pertama? Tak perlulah mencari alasan logis soal itu, karena tuntutan itu dasarnya hanya sikap nyinyir belaka. Kalau soal jaminan keamanan, bukan begitu cara mendapatkannya. Ada puluhan ilmuwan yang bekerja untuk memastikannya melalui uji klinis. Ada pula BPOM yang nanti akan mengeluarkan persetujuan akhir. Kalau hasil kerja mereka pun masih diragukan, tidak ada lagi pihak yang bisa dipercaya.

Lalu ada tanggapan politis soal apakah rakyat harus menanggung biaya vaksin. Presiden menegaskan, pemerintah menanggung biayanya. Presiden juga menegaskan bersedia disuntik pertama. Puas? Belum juga. Masih ada lagi tanggapan nyinyir soal syarat harus jadi anggota aktif BPJS. Itu pun sudah dibantah.

Bagi saya, justru syarat menjadi anggota BPJS untuk mendapat suntikan vaksin itu perlu. Biar masyarakat semakin sadar soal pentingnya sebuah sistem untuk menyelenggarakan jaminan kesehatan. Selama ini BPJS kerap diperlakukan seperti permen karet; dipakai saat dibutuhkan, kemudian dibuang saat manisnya sudah habis. Tapi pemerintah sepertinya lebih memprioritaskan untuk menangani pandemi ini dengan segera.

Tanggapan yang paling parah adalah yang menyebutkan bahwa vaksin itu usaha jahat untuk melemahkan dan menghancurkan umat tertentu. Tanggapan seperti ini sebaiknya diabaikan saja.

Satu catatan kecil mesti terus kita ingatkan, agar pengadaan vaksin ini jangan jadi ajang korupsi.

(mmu/mmu)