Pustaka

Belajar dari Abad Kedua Puluh

Ahmad Kurnnia Sidik - detikNews
Sabtu, 19 Des 2020 11:19 WIB
Belajar dari Abad Kedua Puluh
Jakarta -

Judul Buku: Tentang Tirani: Dua Puluh Pelajaran dari Abad Kedua Puluh; Penulis: Timothy Snyder; Penerjemah: Zia Anshor; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2020; Tebal: 112 halaman

Bertepatan dengan runtuhnya Uni Soviet pada pengujung abad ke-20, banyak masyarakat berharap bel penutup pagelaran tirani penguasa pun berbunyi. Perubahan politik dunia juga cukup dramatis. Periode awal 1970-an hingga pertengahan 2000-an, Samuel P. Huntington menyebutnya sebagai "Gelombang Ketiga Demokratisasi" karena negara demokrasi yang awalnya berjumlah 35 negara melonjak pesat menjadi 110 negara.

Hal tersebut membuktikan bahwa setiap individu ingin bisa bebas dan berkontribusi langsung maupun tak langsung dalam setiap kebijakan negara. Demokrasi memang meniscayakan setiap individu secara leluasa untuk menuliskan setiap peristiwa publik tanpa adanya mekanisme kontrol dari penguasa, serta memberi kebebasan berserikat dalam lingkup kecil maupun besar bagi masyarakat.

Namun, di sisi lain demokrasi tidak menjamin hal yang disebutkan tadi berjalan semestinya serta bebas dari tirani penguasa dalam pusparagam bentuknya. Dengan demikian kebebasan yang dipunyai demokrasi menjadikannya sebagai pisau bermata dua yang mungkin bisa menyayatkan sejarah tirani.

Timothy Snyder melalui karyanya On Tyranny (Tentang Tirani) ini menyuguhkan kepada pembaca pelajaran ihwal cara antisipasi dari kebijakan menuju kuasa-kuasa tirani yang sangat memungkinkan terjadi di ruang demokrasi. Profesor dari Yale University ini membawa pembaca untuk melihat ke belakang, pada tahun-tahun demokrasi tersabotase oleh otoritarianisme.

"Sejarah mengungkapkan momen-momen, masing-masing berbeda, tak satu pun sepenuhnya unik. Memahami satu momen adalah melihat kemungkinan turut menciptakan momen berikutnya. " (hlm. 96).

Hari ini kita hidup di lingkungan modern, kompleks, serta rekursif yang mengandung banyak feedback loop (suatu peristiwa disebabkan oleh peristiwa sebelumnya), yang mengakibatkan kemungkinan akan apa saja bisa terjadi, termasuk berkuasanya otoritarianisme. Dengan memahami narasi sejarah tentang otoritarianisme memungkinkan kita untuk bisa belajar dan menghindarinya.

Pada 1938, ketika Hitler berkuasa, ia mengancam akan menyerbu negara tetangga, Austria. Hal ini berakibat menyerahnya kanselir Austria dan kepatuhan warganya untuk mengantisipasi, menentukan nasib orang-orang Yahudi Austria. Awalnya, kepatuhan untuk mengantisipasi berarti menyesuaikan diri secara naluriah kepada situasi baru, namun hal ini sia-sia dan tetap terjadi pemusnahan besar-besaran atas orang-orang Yahudi tersebut serta semakin langgengnya kuasa otoritanisme Nazi di Jerman dan negara sekitarnya.

Stanley Milgram, ahli psikologi Amerika mengungkapkan, "Orang sangat mudah menerima aturan baru dari latar baru. Orang ternyata bersedia menyakiti dan membunuh orang lain demi suatu tujuan baru bila diperintahkan demikian oleh otoritas baru." (hlm. 5).

Dari situ Snyder memberi kita satu pelajaran penting, "Jangan patuh begitu saja, sebagian besar kekuasaan otoriterianisme diberikan dengan gratis. Pada zaman seperti itu, orang-orang berpikir mengenai apa yang akan diinginkan pemerintah yang lebih represif, lalu menawarkan diri tanpa diminta. Seorang warga yang menyesuaikan diri dengan demikian berarti mengajari kekuasaan mengenai apa yang bisa dilakukan." (hlm. 1).

Perhatikan Lingkungan Sekitar

"Kehidupan itu politis, bukan karena dunia peduli mengenai yang Anda rasa, melainkan karena dunia bereaksi terhadap apa yang anda lakukan." (hlm. 15).

Setiap pilihan, baik sikap maupun kepercayaan kita sangat mungkin berpengaruh untuk masa depan. Pada masa kekuasaan Stalin, penggunaan simbol seperti petani kaya yang digambarkan sebagai babi, atau pada masa kekuasaan Hitler yang memberlakukan label "Yahudi" dan "Arya" untuk warganya berujung pada maut.

Beberapa warga awalnya menerima semua (simbol kebencian) itu sebagai tanda kesetiaan, namun ketika kesadaran itu sudah menjadi kesadaran kolektif dan ranah publik dipenuhi dengan simbol yang sama, perlawanan menjadi terlupakan serta melanggengkan kekuasaan. "...dengan menerima ritual, menerima penampilan sebagai realitas, menerima aturan permainan yang ada, sehingga memungkinkan permainan berlangsung dan berlanjut. "(hlm. 18).

Dan, pembaca bisa menerka ketika kekuasaan berlanjut, hal apa yang akan terjadi? Maka bertanggungjawablah terhadap dunia, dan berilah contoh agar orang lain paham dan melakukan hal yang sama baiknya.

Perkembangan teknologi begitu berarti bagi setiap orang. Mudahnya akses informasi memberikan kita kesempatan berbagi ataupun menerima informasi secara leluasa. Hal ini sangat memungkinkan timbulnya bias konfirmasi, yaitu kecenderungan lebih menerima bukti yang mendukung hal yang sudah kita percayai lebih dahulu.

Snyder juga menyampaikan, "Kita tunduk kepada tirani ketika kita menyangkal perbedaan antara apa yang ingin kita dengar dengan apa yang sebenarnya kita dengar." (hlm. 43) Penyangkalan atas realitas seta melanggengkannya bias konfirmasi itu mungkin saja terasa menyenangkan, tetapi hasilnya adalah kemusnahan kita sebagai individu.

Dalam lingkup negeri ini, belakangan kita sering melihat bagaimana simbol-simbol kebencian kita biarkan dan menjadi hal lumrah di setiap perhelatan politik, serta munculnya media alternatif dadakan yang validitas informasinya tak dapat dipertanggungjawabkan sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Hadirnya buku ini sangat relevan untuk dijadikan refleksi kita dalam berpartisipasi di panggung demokrasi.

Ahmad Kurnia Sidik bergiat di lingkar diskusi Sasadara

(mmu/mmu)