Kolom

Nelayan Maluku: Miskin di Lumbung Ikan

La Sugi - detikNews
Jumat, 18 Des 2020 10:40 WIB
Kondisi rumah Nelayan Maluku (Foto: dok. La Sugi)
Jakarta -
Laut Maluku biasa disebut sebagai golden fishing, yang berarti lautan Maluku tidak mengenal musim tangkap ikan. Kapan pun nelayan dapat melakukan penangkapan berbagai jenis ikan. Memang, pada musim-musim tertentu beberapa jenis ikan sulit didapat, namun pada saat yang sama pula ada jenis ikan lain yang melimpah.

Label tersebut tidak berlebihan, karena Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi selama kurun waktu 17 tahun terakhir (2000-2017), Maluku sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Lumbung Ikan Nasional (LIN). Tetapi dalam kurun waktu yang sama pula, BPS juga mencatat Provinsi Maluku sebagai daerah termiskin ke-4 di Indonesia.

Mengapa demikian? Pada tulisan ini, saya tidak ingin membahasnya dari segi kebijakan yang menyebabkan Maluku miskin. Melainkan kemiskinan yang disebabkan oleh struktur sosial internal nelayan Maluku itu sendiri.

***

Dibandingkan dengan petani, nelayan Maluku adalah kelompok sosial yang paling kreatif menciptakan sumber-sumber pinjaman modal. Oleh karena itu, mereka memiliki pilihan yang relatif banyak dalam memanfaatkan sumber-sumber pinjaman.

Selain meminjam pada koperasi simpan pinjam, masyarakat nelayan Maluku juga meminjam dari tetangga, pemilik modal, pemilik toko, pedagang ikan, rentenir dan juga juragan kapal.

Peluang pilihan terbuka tersebut telah mengakibatkan nelayan Maluku terlibat dalam jaringan utang-piutang yang kompleks dan tiada putus-putusnya. Misalnya peminjaman pada tengkulak atau juragan kapal akan membuat nelayan sulit untuk memasarkan hasil tangkapannya kepada pihak lain dengan harga tinggi karena tersandera oleh utang dari tengkulak atau juragan kapal.

Berbagai upaya dilakukan oleh nelayan untuk meningkatkan pendapatan. Celakanya, upaya mereka untuk melepaskan diri dari kemiskinan itu justru sering menjebak mereka dalam kemiskinan yang lebih dalam.

Semua itu terjadi karena nelayan sulit mengakses lembaga keuangan misalnya perbankan. Karena persyaratan untuk mendapatkan modal usaha dari bank harus memiliki jaminan berupa sertifikat tanah. Masalahnya, nelayan Maluku kebanyakan tidak memiliki sertifikat tanah. Sehingga kebutuhan dana hanya bisa diperoleh melalui pemilik perahu, pemilik modal, yang tidak lain adalah para tengkulak.

Pada satu sisi, kita tidak bisa menyalahkan tengkulak. Karena tak jarang mereka justru hadir di saat nelayan membutuhkan uang. Interaksi antara pemilik modal dan juragan kapal atau tengkulak dengan nelayan ini sebenarnya adalah hubungan patron-client atau majikan buruh.

Hubungan patron-client dalam masyarakat nelayan sama halnya yang terjadi pada petani yakni penguasaan alat-alat produksi dan modal oleh entitas tertentu. Hubungan ini divalidasi oleh kewajiban timbal balik yang dinyatakan dalam pertukaran layanan.

Karakteristik yang menentukan hubungan patron-client adalah asimetris yang terjadi di antara kedua aktor. Pertama, tengkulak (patron) sebagai pemilik alat tangkap ikan, pemilik kapal serta modal; lapisan sosial ekonomi ini mencerminkan lapisan masyarakat yang mendominasi penguasaan alat-alat produksi, penyediaan modal, dan akses pasar.

Kedua, nelayan, buruh (client), hanya menyediakan jasa memancing. Kesulitan mengakses modal dan pasar ini menjadi kendala dalam pengembangan masyarakat nelayan di Maluku pada umumnya.

Hubungan yang timpang ini salah satunya berakibat pada sistem bagi hasil yang tidak ideal. Tidak idealnya sistem bagi hasil pada nelayan, karena ada kontrak kerja dengan juragan kapal, pemilik modal atau tengkulak tadi. Seperti nelayan tuna yang kebanyakan bukan pemilik kapal. Kapal tersebut dimiliki oleh pemilik modal sekaligus pedagang ikan atau tengkulak.

Padahal tengkulak sering melakukan hal-hal yang justru merugikan nelayan. Misalnya membeli ikan dengan harga murah meskipun sebenarnya ikan yang dihasilkan oleh nelayan berkualitas tinggi. Tetapi karena nelayan menganggap tengkulak adalah orang yang sering menolong di saat susah, maka nelayan tidak punya pilihan lain.

Struktur sosial nelayan Maluku yang tercermin dalam hubungan majikan-buruh memiliki kontribusi besar dalam membentuk corak lapisan kemiskinan nelayan. Mereka yang menempati lapisan atas hanya sebagian kecil dari masyarakat nelayan, sebagian besar masyarakat nelayan berada di lapisan terbawah.

Masalah lainnya yang membuat nelayan Maluku makin berada di dasar jurang kemiskinan adalah mereka tidak memiliki budaya saving hemat). Budaya mereka adalah konsumtif. Hasil tangkapan ikan melimpah atau tidak jika telah dalam bentuk uang maka akan dibelanjakan kepada hal-hal yang tidak berguna.

Kebutuhan dasar hidup kadang dikesampingkan yang penting tampil necis (gaya). Nelayan Maluku tidak memikirkan tentang nasib mereka ke depan. Bahkan membayar utang pada tengkulak atau juragan kapal, kadang tidak dilakukan.

Meski pada musim puncak panen, tetapi mentalitas nelayan yang konsumtif tadi, menjadikan nelayan sulit naik dari jurang kemiskinan.

Memancing adalah aktivitas yang sulit, namun untuk mendapatkan value atau nilai yang lebih tinggi, nelayan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan diversifikasi terhadap usahanya.

Memang tidak semua nelayan seperti ini; ada yang sebenarnya bisa menabung. Yang saya temui, mereka dapat hidup sejahtera dengan hasil memancing ikan yang mereka tabung, namun memang jumlahnya tidak banyak.

Bisa dibayangkan: sudah terlilit utang masih konsumtif. Jadi label golden fishing hanyalah di lautan. Sementara di daratan, kemiskinan masih menjadi teman baik nelayan Maluku.

La Sugi research fellow pada Mata Garuda Institute

(mmu/mmu)