Analisis Zuhairi Misrawi

Menolak Normalisasi Hubungan dengan Israel

Zuhairi Misrawi - detikNews
Jumat, 18 Des 2020 08:46 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Presiden Jokowi secara resmi menolak normalisasi dengan Israel. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sembari menegaskan komitmen Indonesia pada kemerdekaan Palestina dan solusi perdamaian di kawasan konflik yang menyejarah itu. Presiden Palestina Mahmud Abbas secara khusus menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Presiden Jokowi karena berani memilih berbeda dengan negara-negara Arab yang telah melakukan normalisasi dengan Israel.

Sungguh, langkah Indonesia terbilang berani dan konsisten. Pasalnya, The Jerusalem Post, media terkemuka di Israel menyebutkan dalam beberapa pekan yang akan datang, ada dua negara yang akan melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, yaitu Indonesia dan Oman. Arab Saudi disebut-sebut sebagai mediator dalam upaya normalisasi tersebut.

Sontak, beberapa media asing memberitakan kabar burung tersebut, seperti Aljazeera, CNN, dan lain-lain. Sejumlah media di dalam negeri juga memberitakan perihal kemungkinan normalisasi hubungan dengan Israel Israel. Atas berita yang dilansir The Jerusalem Post tersebut, Kementerian Luar Negeri langsung merespons cepat dengan menegaskan bahwa tidak ada rencana normalisasi hubungan dengan Israel. Puncaknya, Menlu RI menyampaikan arahan Presiden agar kita istikamah membela Palestina.

Perihal normalisasi hubungan dengan Israel sebenarnya sebagian besar dunia Islam saat ini sudah memilih jalan kerja sama dengan Israel. Mesir, Turki, dan Jordania menjadi negara-negara yang sudah lama membuka kerja sama dengan Israel. Dalam beberapa bulan terakhir, negara-negara Arab juga menyusul langkah pendahulunya, di antaranya Uni Emerate Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko. Arab Saudi sebenarnya sudah melakukan normalisasi hubungan dengan Israel secara sirry. Kira-kira, skenario akhirnya, Arab Saudi akan menjadi negara terakhir yang mengakui Israel.

Bagi warga Arab, normalisasi hubungan dengan Israel yang berlangsung masif, terstruktur, dan dalam skala besar dalam beberapa bulan terakhir merupakan mimpi buruk yang sangat menyedihkan. Pasalnya, air mata dan penderitaan Palestina masih menghunjam dalam sanubari mereka. Rudal-rudal dan kekejaman Israel terhadap Palestina masih terus berlangsung dan dipertontonkan secara kasat mata. Bersamaan dengan itu, para elite mereka justru memilih tidur seranjang dengan Israel.

Beruntung masih ada dua negara yang secara lantang menolak normalisasi hubungan dengan Israel, yaitu Iran dan Indonesia. Kedua negara ini mempunyai ideologi dan komitmen yang sama terhadap Palestina. Iran masih merujuk pada komitmen revolusi Islam Imam Khomeini yang menentang imperialisme Israel di bumi Palestina. Kita pun mempunyai komitmen yang sama untuk terus bersama-sama Palestina memperjuangkan kemerdekaan, sebagaimana ditegaskan kembali oleh Presiden Jokowi.

Konon, sikap Imam Khomeini tersebut mendapatkan inspirasi dari Indonesia. Pertanyaannya, kenapa kita harus menolak normalisasi dengan Israel?

Pertama, komitmen kita dalam membela Palestina mempunyai landasan konstitusional yang kokoh. Sejak awal kemerdekaan RI, sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kita sudah menegaskan komitmen yang kuat menentang penjajahan, Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Kita berpihak pada Palestina bukan hanya karena sesama negara yang mayoritas warganya Muslim, melainkan lebih dari itu, karena penjajahan Israel terhadap Palestina yang berlangsung lama itu bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Palestina berhak menjadi negara yang merdeka dan berdaulat dari berbagai penindasan yang sangat tidak manusiawi dan berkeadilan, yang dilakukan Israel selama puluhan tahun.

Lebih-lebih di dalam sejarah, para pemuka Palestina di masa lampau menjadi sosok-sosok terdepan yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka yang masih terjajah saat itu menyambut kemerdekaan RI dengan gegap-gempita. Mereka mempunyai mimpi dan harapan agar suatu saat nanti Palestina juga dapat merasakan nikmatnya kemerdekaan.

Kedua, komitmen konstitusional tersebut dipegang teguh oleh Bung Karno agar menjadi visi dan misi yang tidak boleh redup, hingga Palestina betul-betul merdeka dan berdaulat. Konferensi Asia-Afrika yang digelar pada tahun 1955 di Bandung menjadi tonggak bersejarah agar dunia mempunyai kesadaran kolektif perihal pentingnya memperjuangkan kemerdekaan negara-negara yang terjajah. Beberapa negara Asia-Afrika yang dulu masih terjajah sudah meraih kemerdekaan. Sementara Palestina, sejak deklarasi Bandung, menjadi satu-satunya negara yang hingga saat ini belum meraih kemerdekaan dan kedaulatan.

Api pemikiran dan perjuangan Bung Karno tersebut menjadi obor penerang dunia dan negeri ini agar jangan sesekali memadamkan perlawanan melawan penjajahan, khususnya penjajahan Israel terhadap Palestina. Meskipun dunia-dunia Islam dan Arab lainnya telah memilih jalan bersama Israel, tetapi kita tidak boleh menutup mata hati terhadap penderitaan Palestina.

Ketiga, keberpihakan dan komitmen RI terhadap kemerdekaan Palestina merupakan janji politik Presiden Jokowi sejak 2014 hingga saat ini, yang terus disuarakan dengan lantang tanpa lelah di berbagai forum internasional, baik di Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun Organisasi Kerja Sama Negara-Negara Islam (OKI). Sebab itu, sejak rumor normalisasi hubungan dengan Israel dihembuskan media-media asing dan dalam negeri, saya menepis kabar burung tersebut. Saya tahu betul komitmen Presiden Jokowi dalam membela Palestina, dan kita semua akan selalu bersama Palestina hingga mereka meraih kemerdekaan.

Di tengah rayuan maut Amerika Serikat dan negara-negara Timur-Tengah agar kita memilih jalan normalisasi hubungan Israel, kita mesti memberikan apresiasi terhadap Presiden Jokowi yang memilih jalan konstitusional, jalan Bung Karno, dan jalan negara-negara Asia-Afrika. Kita semua bangga pada Presiden Jokowi atas keberanian dan ketegasannya. Dan masa mendatang, jalan tidak mudah, karena mayoritas sudah memilih tidur seranjang dengan AS dan Israel. Semoga kita tetap istikamah memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Muslim, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)