Kolom

Membantu yang Tak Terbantu

Edo Putra - detikNews
Jumat, 04 Des 2020 16:17 WIB
Relawan Indonesia Bersatu Lawan COVID-19 terus bergerak membantu pemerintah ringankan beban masyarakat terdampak COVID-19. Salah satunya bagikan sembako.
Susus gang sempit, bagikan sembako (Foto: dok. Relawan Indonesia Bersatu Lawan Covid-19)
Jakarta - Pandemi Covid-19 belum berhenti. Tak ada satu orang pun yang dapat memastikan kapan pandemi ini akan selesai dan pergi dari muka bumi ini. Kita hanya bisa menanti dan terus menjalani roda kehidupan kita dengan penuh kewaspadaan sambil tetap patuh pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan untuk menahan laju perkembangan virus yang mematikan ini.

Satu hal yang pasti bahwa pandemi Covid-19 ini telah membawa kita pada krisis kemanusiaan yang ditandai dengan adanya berbagai penderitaan dan tantangan di berbagai lini kehidupan kita sebagai manusia. Krisis kemanusiaan ini telah mengangkat ke permukaan sisi kemanusiaan kita yang rentan (vulnerable) dan rapuh (fragile).

Namun, apakah benar kita berada di perahu yang sama? Apakah badai Covid-19 ini menyerang semua orang di muka bumi ini? Tampaknya ada orang-orang yang berada di perahu yang mewah dan kuat, tetapi ada juga orang-orang yang berada di perahu yang kecil dan selalu mempunyai resiko untuk terbalik.

Ada orang-orang yang mempunyai berbagai macam sarana untuk tetap bertahan hidup dengan penuh kepastian di tengah situasi yang serba terbatas saat ini. Namun, ada juga orang-orang yang tak mempunyai apa-apa dan berjuang dalam ketidakpastian untuk mempertahankan hidup. Mereka itulah yang dapat kita sebut sebagai "yang tak terbantu".

Mereka yang tak terbantu adalah mereka yang tak pernah dijangkau dan jauh dari pantauan mata kita. Mereka yang tak terbantu ini ada di sekitar kita, namun kita terasa enggan untuk menyapa apalagi mengajak bicara. Mereka juga acap menjadi korban dari keegoisan segelintir manusia yang haus akan harta dan kekuasaan.

Sadar atau tidak, pandemi Covid-19 ini sebenarnya telah mendongkrak ke permukaan sisi keegoisan manusia. Manusia kini berjuang untuk mempertahankan hidupnya masing-masing tanpa memperhatikan orang lain yang lebih lemah dan perlu dibantu. Fraternitas dan solidaritas perlahan-lahan pudar dari kehidupan manusia.

Pada akhir Maret lalu, kita telah melihat bagaimana Amerika Serikat mendapat hak khusus pada vaksin yang diciptakan di laboratorium Jerman, CureVac. Ide utama mereka adalah untuk melindungi terlebih dahulu warga negara Amerika Serikat dan membiarkan warga negara yang lain mengurus dirinya sendiri. (Afrique Espoir Edisi Oktober-Desember 2020).

Kita juga telah melihat bagaimana negara-negara oksidental, di pasar internasional, berjuang untuk mendapatkan peralatan-peralatan medis hanya untuk warga negara mereka sendiri. Hal ini mau menunjukkan bahwa solidaritas dan kerja sama internasional telah lenyap dari muka bumi ini. Oleh karena itu, kita perlu menghidupkannya kembali.

Gerakan Membantu

Tidak perlu idealisme yang luar biasa untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas di tengah dunia kita saat ini. Semangat solidaritas itu dapat hidup kembali jika kita mengaplikasikannya dalam gerakan membantu.

Pada 18 Oktober lalu, Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan hari Minggu Misi. Pada hari Minggu Misi ini, Paus Fransiskus secara khusus mengangkat tema "me voici, envoies moi!" (Ini aku, utuslah aku!)

Saya mengikuti perayaan Minggu Misi ini di sebuah paroki kecil yang tidak cukup jauh dari kota Kinshasa. Satu hal yang menarik bagi saya dalam perayaan ini adalah antusiasme umat untuk memberi sumbangan bagi karya-karya misi khususnya untuk membantu mereka yang tak terbantu.

Setelah perayaan ini selesai, saya mencoba mendekati Pastor Gode Manunga, SVD yang merupakan Pastor Paroki sekaligus Direktur dari OPM (Oeuvre Pontifical Missionnaire) untuk berbicara sedikit tentang penggunaan uang sumbangan dari umat untuk karya-karya misi. Dia menyatakan bahwa uang sumbangan itu akan digunakan untuk membantu anak-anak jalanan dan anak-anak yatim piatu khususnya di Zimbabwe.

Tahun-tahun sebelumnya mereka juga melakukan hal yang sama. Uang sumbangan di hari Minggu Misi itu digunakan untuk membantu anak-anak jalanan dan yatim piatu di berbagai negara seperti Madagascar, Malawi, dan beberapa negara lainnya.

Apa yang dilakukan oleh umat di sebuah paroki kecil di Kinshasa ini dapat menjadi contoh yang baik bagi kita untuk membangun gerakan saling membantu. Di tengah pandemi Covid-19 yang menggoncang dunia saat ini, kita perlu bekerja sama untuk membantu sesama kita yang sangat membutuhkan bantuan kita. Dengan begitu, kita akan mampu menghidupkan kembali semangat solidaritas yang akan membuat kita tetap kuat bertahan di tengah krisis yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.

Edo Putra biarawan Serikat Sabda Allah (SVD), tinggal di Kinshasa, RD Congo

(mmu/mmu)