Kolom

Menanam Pohon: Kompetensi Abad ke-21

Wahyu Kuncoro - detikNews
Jumat, 04 Des 2020 13:15 WIB
Ribuan bibit tanaman diserahkan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Depok. Gerakan menanam pohon pun dilakukan sebagai upaya menghijaukan lingkungan.
Menanamkan cinta bumi pada anak dengan cara sederhana: menanam pohon ( (Foto: Dedy Istanto/detikcom)
Jakarta -

Dalam seminggu pada bulan November kemarin, pohon mempunyai gawe. Tanggal 22 adalah Hari Pohon Sedunia, sedangkan tanggal 28 merupakan Hari Menanam Pohon Nasional. Dua perayaan ini tidak populer di Tanah Air.

Sekalipun hal tanam-menanam masih menjadi idola kita, kita baru suka menanam tanaman dalam pot. Gandrung pada Si Rondo Bolong masih bergema, selain kita sibuk mengurusi hal-hal lain seperti agama, moralitas, dan kompetensi manusia abad ke-21.

Dalam dunia pendidikan, hal-hal tersebut tak kalah untuk diberi penekanan. Dengan rapi, isu-isu tersebut dikemas dalam sebuah sistem baik dalam kurikulum maupun dalam kebijakan yang lebih spesifik dari tingkat pusat, daerah, atau sekolah. Isu-isu ini jauh lebih seksi dari tahun-tahun lalu hingga kini daripada isu tentang pohon. Apalah artinya pohon bagi abad ke-21!

Tentang penguatan budi pekerti, misalnya, pemerintah mengeluarkan Permendikbud No. 23 Tahun 2015. Kebijakan dibuat untuk menciptakan manusia-manusia kecil yang berbudi pekerti baik. Lalu, sekolah-sekolah menerapkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Pramuka menjadi ekstra-kulikuler wajib.

Kita mudah membuat kebijakan. Tujuannya sangat mulia, untuk menciptakan generasi yang kompeten dan berbudi baik. Dalam hal budi pekerti dan pendidikan karakter tersebut, seolah-olah ada yang masih kurang dalam sebuah proyek besar masa depan anak-anak kita. Abad ke-21 seperti sebuah monster bagi anak-anak kita.

Mengisi abad ke-21 dan menyambut bonus demografi, budi pekerti dan karakter anak harus diperkuat. Sayangnya, kita belum bisa bereaksi sama dengan lingkungan alam kita. Sikap kita masih antroposentris. Pembangunan manusia menjadi proyek utama dan mengesampingkan perhatian pada alam.

Dalam dunia pendidikan, wacana diarahkan pada moralitas dan kompetensi unggul. Moralitas berhubungan dengan pembedaan baik dan buruk; kompetensi diarahkan pada critical thinking, creativity, collaboration, dan communication (4C) yang kemudian disebut sebagai kompetensi abad ke-21. Semua menyasar pada pengembangan kapasitas manusia, human capital.

Tapi, desain bagaimana kapasitas manusia berhubungan dengan lingkungannya belum tampak jelas penekanannya. Pun dalam implementasinya masih jauh panggang dari api.

Anak-anak baru diajak membuang sampah pada tempatnya dan menyapu daun-daun di halaman. Kalau anak-anak menanam, mereka baru menanam dalam pot atau menanam untuk apotek hidup. Yang merawat adalah tukang kebun sekolah. Kalau tidak ada tukang kebun, bisa kita tebak bahwa 3 bulan kemudian tanaman-tanaman akan mati. Kasus seperti ini sering terjadi menjelang akreditasi sekolah.

Di sekolah, anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya. Ini patut dirayakan. Namun, semangat yang dibangun justru lebih menonjol untuk membuat sekolah bersih dan rapi saja, atau untuk kepentingan akreditasi sekolah. Pengembangan karakter anak yang cinta lingkungan masih nomor berikutnya.

Kegiatan pramuka sangat potensial untuk melibatkan anak-anak mengenal isu-isu ekologis. Aspek ekologi penting dikenalkan kepada anak. Kegiatan menyusur sungai dan petualangan sejenis bisa digantikan dengan hal lain yang lebih berguna bagi lingkungan seperti menanam pohon. Baru sedikit daerah yang melakukan penanaman pohon secara massal. Di Kabupaten Lampung, pramuka menanam pohon secara massal. Di tempat lain, belum terdengar gaungnya.

Tapi, mengapa pohon? Pohon itu menyimpan air. Abad ke-21 ditandai melesatnya teknologi dan AI (Artificial Intelligence), tapi juga munculnya permasalahan ekologi. Salah satunya adalah permasalahan air bersih. Volume air turun. Sementara itu, atas nama pembangunan dan kemajuan, pohon-pohon ditebang. Hutan dialifungsikan untuk kepentingan lainnya. Dari laporan Forest Watch Indonesia (FWI), laju deforestasi selama kurun 2013-2017 adalah 14,7 juta hektar per tahun.

Hutan sebagai rumah pohon-pohon merupakan tempat satwa hidup. Keseimbangan perlu dijaga. Kasus Wuhan yang kemudian menyebabkan pandemi Corona juga terjadi karena habitat satwa direcoki manusia. Satwa kemudian begitu dekat dengan manusia sehingga mutasi virus dengan gampang menjangkiti manusia.

Gretta Turnberg saya kira patut menjadi hero baru bagi anak-anak. Bukan Superman, Thor, atau Doraemon lagi. Dia adalah aktivis cilik yang berani menyuarakan kegelisahan masa depan manusia. Jadi, anak kecil berhak menyuarakan isu lingkungan, berhak melakukan perbuatan menyelamatkan lingkungan.

Gretta pantas diteladani. Tak perlu harus dengan keberanian yang sama. Cukup mencintai bumi ini dengan sederhana: menanam pohon.

Menurut data, siswa SD tahun ajaran 2019/2020, terdapat 25,2 juta siswa. Jika separonya menanam pohon, maka lebih dari 12 juta pohon tertanam. Jika kegiatan ini berkelanjutan, dampaknya bisa masif. Kesempatan tanah bisa menyimpan air semakin banyak. Sayang, Hari Pohon dan Hari Menanam Pohon hanya sebuah pameo saja, diperingati tapi tanpa aksi yang "menggigit". Kita senang dengan selebrasi, tapi jauh dari aksi nyata.

Berlebihankah anak-anak menanam pohon? Tidak. Setidaknya kesadaran mencintai bumi menjadi sebuah agenda. Anak-anak perlu mengerti apa arti what to give and what to get agar mereka tidak rakus.

Saya harus mengingat Shel Silverstein yang menulis buku anak dengan sangat menyentuh, The Giving Tree. Pohon adalah sebuah kehidupan yang mulia, yang memberi tanpa henti kepada manusia. Dari daun hingga akar semua memberi manfaat bagi manusia.

Dalam buku tersebut, Silverstein bercerita tentang persahabatan yang membuat masygul: di akhir cerita, si anak kecil yang menua kembali datang ke pohon yang sudah ditebang dan tidak bisa memberi apa-apa. Lalu, pohon menawarkan si tua untuk duduk di tunggulnya. Sebuah kehidupan yang sudah mandek bagi dua sahabat itu. Si manusia tak berdaya untuk mengambil; si pohon tak bisa memberi lagi.

Abad ke-21 telah datang dan anak-anak bisa kita harapkan mampu menyelesaikan masalah-masalah mereka. Mungkin akan ada yang bisa menciptakan air setelah ditempa untuk memiliki kompetensi 4C dan ikut pramuka. Mungkin, dunia tanpa pohon-pohon yang menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan manusia akan dicarikan solusinya oleh generasi masa depan.

Saya curiga dengan Silversten yang mengakhiri cerita dengan happy ending. Mereka --si tua dan kayu yang tinggal tunggulnya itu-- bahagia. Benarkah begitu?

Tapi, mungkin di situ pesannya. Tugas pohon selesai setelah bisa memberikan apa yang bisa ia berikan. Karenanya, ia bahagia. Tapi, tugas manusia tak pernah selesai. Karenanya, ia masih terus menebangi pohon. Kita lupa menanam, padahal suka menanam.

Kalau pramuka menjadi ekstrakurikuler wajib, menanam pohon bisa menjadi agenda wajib di dalamnya. Di situ, anak-anak turut merespons masalah abad ke-21 ini, supaya anak-anak tidak hanya belajar menanam Rondo Bolong.

Wahyu Kuncoro penulis buku anak tinggal di Denpasar

(mmu/mmu)