Kolom

Mereka Lebih Takut "Swab", Bukan Corona

Sandry Windiharto - detikNews
Rabu, 02 Des 2020 15:06 WIB
Sejumlah tahanan di penjara Bekasi menjalani tes swab. Hal itu dilakukan guna mencegah penyebaran virus Corona di penjara.
Tes swab yang menakutkan (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -
Grup Whatsapp yang anggotanya bapak-bapak di sebuah perumahan mendadak ramai pada awal long weekend akhir Oktober lalu. Ada salah satu member yang membagi screen shot surat dari Kepala Dinas Kesehatan yang isinya jadwal swab test acak di tempat-tempat wisata pada saat liburan panjang. Foto itu dilengkapi caption, "Ojo lungo-lungo lur!" yang artinya, "Jangan bepergian, Saudara-Saudara!"

Seketika gegerlah anggota grup itu. Terutama yang sudah berencana berwisata di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda.

Surat tersebut bukan hoaks dan bukan pula editan. Benar adanya kebijakan pemerintah yang akan melakukan tes acak saat libur panjang untuk mencegah penyebaran Covid-19. Dari hasil tes, jika ada orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 akan segera ditangani sehingga penularan Covid-19 dapat terkendali.

Namun dengan membaca caption dan respons yang muncul, saya menangkap ada yang salah dengan pemahaman masyarakat terhadap tujuan pemerintah melakukan tes acak ini. Apalagi jika disandingkan dengan perilaku masyarakat yang semakin tak acuh dengan protokol kesehatan.

Pemahaman yang keliru itu membuat masyarakat justru lebih takut pada swab test dibanding pada virus Covid-19-nya itu sendiri. Kenapa? Karena jika hasil swab test menunjukkan seseorang terkonfirmasi positif Covid-19, maka ia berisiko menjadi korban stigma masyarakat.

Setidaknya ada dua dampak stigma yang akan dihadapi oleh pasien Covid-19. Pertama pada aspek sosial. Stigma masyarakat di lingkungan sosial adalah bahwa pasien Covid-19 harus dihindari karena merupakan sumber masalah di lingkungan tersebut. Selain itu pasien akan menjadi pergunjingan dan pembicaraan masyarakat sekitarnya.

Pergunjingan tidak hanya seputar individu yang bersangkutan, namun juga pada seluruh keluarga dan orang-orang yang mimiliki kontak erat dengan penderita. Situasi ini akan menjadi beban mental bagi pasien Covid-19.

Kedua adalah dampak secara ekonomi. Untuk beberapa lapisan masyarakat, terkonfirmasi positif Covid-19 bisa menjadi awal dari bencana ekonomi dalam keluarga. Statement salah seorang rekan secara tidak langsung menegaskan fenomena ini. "Covid-19 ini lebih mengerikan dari HIV/AIDS. Sekali seseorang terdeteksi positif, sekeluarga bisa langsung diisolasi. Kalau sudah diisolasi, pekerjaan bisa hilang dalam sekejap."

Mungkin tidak ada yang salah dengan treatment isolasi. Namun bagi masyarakat level bawah, yang harus keluar dari rumah setiap hari untuk mendapatkan beberapa rupiah, maka isolasi itu ibarat malaikat pencabut nyawa bagi si penderita dan keluarga. Tidak sedikit kasus pemutusan hubungan kerja terjadi hanya karena karyawan tersebut terkonfirmasi positif Covid-19 dan harus diisolasi.

Stigma muncul karena adanya persepsi. Dan, dalam kehidupan sosial masyarakat, persepsi sangat tergantung pada nama baik seseorang atau sebuah keluarga. Seperti dalam kasus penyakit gangguan mental, stigma ini sering dihubungkan dengan lunturnya bangunan nama baik seseorang atau keluarga. Jika nama baik seseorang sudah tercemar karena mengidap Covid-19, maka besar kemungkinan stigma masyarakat akan turut serta di belakangnya.

Dengan situasi saat ini, stigma terhadap pasien Covid-19 justru akan memperberat beban ganda bagi para penderita. Sudah tertimpa penyakit ditambah beban dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Selain itu stigma dapat menimbulkan bahaya lebih jauh yakni adanya kecenderungan orang yang mengalami gejala namun menyembunyikannya.

Masyarakat lama-lama akan cenderung menutup-nutupi jika mereka mengalami gejala-gejala terinfeksi Covid-19 karena khawatir akan dikucilkan dan digunjingkan oleh lingkungan sosialnya. Jika hal ini terjadi secara masif, maka yang sakit tidak akan tertangani dan yang sehat semakin berisiko tertular oleh orang lain.

Pada Desember ini akan ada lagi rangkaian hari libur panjang. Terlepas dari kebijakan pemerintah yang mengurangi jumlah hari libur, tetap akan ada dua momen besar yang menempel pada akhir pekan, yakni Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2021. Sebelum pesan berantai seperti di grup Whatsapp tadi muncul lagi, pemerintah perlu memahamkan masyarakat, apa sebenarnya tujuan tes acak yang dilakukan oleh pemerintah serta dan lebih jauh lagi memahamkan bahwa pasien Covid-19 tidak layak menjadi korban stigma.

Dari sisi masyarakat, saya juga yakin masih banyak individu yang bisa berpikir lebih bijak. Sebagai salah satu negara paling dermawan di dunia, Indonesia tentu memiliki modal sosial yang besar dengan potensi membantu beban sesama dibanding memberikan pandangan negatif kepada pasien Covid-19. Mengubah persepsi masyarakat memang tidak mudah. Namun bukan berarti tidak mungkin kan?
Sandry Windiharto pegawai negeri pada sebuah kementerian

(mmu/mmu)