Kolom

Perkara Baca Buku dan Pencitraan Intelektual

Purnama Ayu Rizky - detikNews
Selasa, 01 Des 2020 15:20 WIB
Kuot Politik: Kontroversi Anies Pamer Baca Buku How Democracies Die
Foto: Tim Infografis detikcom
Jakarta -

Demi menghindari tipes karena kerja keras sepekan, saya jelas tak sudi jika Minggu syahdu harus repot bangun pagi. Apalagi disuruh baca buku berat macam How Democracies Die (2018), yang isinya musabab kenapa demokrasi bisa rontok di Amerika Serikat. Tahun lalu, ketika terpaksa baca buku karya profesor Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt itu, semata-mata karena saya takut diomeli profesor saya --bukan profesor Harvard-- jika tak mengerjakan tugas critical review di kampus.

Namun bagi seorang Anies Baswedan, Minggu (22/11) pagi bukan alasan bermalas-malasan. Di tengah kerja keras bagai kuda membereskan masalah Jakarta, ia masih sempat membaca buku setebal 341 halaman itu. Tak main-main, keseriusannya menghayati buku itu bahkan diabadikan dalam foto estetik di Instagram pribadinya, seolah-olah membaca memang bagian dari napas kehidupannya sebagai orang nomor satu di ibu kota. Kelihatan luwes, tak dibuat-buat, intelek, berdedikasi.

Anehnya, respons publik atas foto tersebut sedemikian hebohnya. Fadli Zon, politisi Gerindra yang mantan aktivis 1998 itu balas membaca buku adiluhung, Demokrasi Kita (1960) karya Bung Hatta. Seniman Sudjiwo Tejo pada hari yang sama juga tak mau kalah: ia menyapa pengikutnya di media sosial sembari mengunggah foto tengah membaca buku Lutung Kasarung.

Itu belum termasuk latah warganet kita yang mendadak ramai ikut berpose dengan buku masing-masing, kendati tetap tak bisa menyaingi luwesnya pose gubernur kita. Sisanya memilih menyesaki kolom komentar di unggahan foto Anies --ada yang memuji, mencela, bahkan ada yang mengancam akan melaporkannya karena dituding bikin gaduh linimasa berhari-hari.

Itu jelas berbeda dengan respons publik terhadap tokoh politik lain yang sebelumnya kedapatan baca buku. Misalnya, Presiden Jokowi yang membaca komik Si Juki atau Setya Novanto yang baca Kamus Kosakata Alquran saat "disidak" Najwa Shihab di sel (bohongannya) di Lapas Sukamiskin. Bandingkan pula dengan foto Sukarno, si kutu buku yang dari tangannya telah lahir banyak magnum opus kenegaraan, tapi respons kita ya biasa-biasa saja.

Padahal jika mau adil, politisi sekaliber Jokowi tentu punya alasan lugas kenapa ia membaca komik jenaka. Dalam prasangka saya, ia mengajak warganya untuk menertawakan problematika di Tanah Air, mulai dari COVID-19, UU Cipta Kerja, kemiskinan, dan kebakaran hutan. Jangan serius-serius, lha wong hidup di negeri ini saja sudah susah kok, demikian kira-kira.

Setya Novanto lebih canggih lagi; butuh keyakinan makrifat untuk membaca buku yang tak ada sangkut pautnya dengan urusan profan macam kosakata Alquran. Dalam hal ini, dia tampaknya mengajak kita untuk melupakan sejenak ingar bingar duniawi dan mendekatkan diri pada Tuhan. Subhanallah.

Sementara, maksud Anies tak jelas membaca buku How Democracies Die. Dia menyindir pemerintah pusatkah, menyindir dirinya sendiri, atau bagaimana? Pesannya tak pernah jernih diterima rakyat jelata seperti saya. Namun, satu hal yang pasti, bagi juara telematika cum pengamat pencitraan tingkat Citayam, kehebohan Anies yang sedang baca buku bisa saya analisis pakai teori yang, ehm, ndakik-ndakik.

Jadi begini. Teori pertama, ia sedang berikhtiar mencari jawaban atas keresahan-keresahannya soal ibu kota. Dalam hal ini, perannya sebagai seorang Gubernur sudah barang tentu membuatnya berkewajiban untuk menjelaskan pada warga Jakarta hal-hal apa saja yang sudah dilakukan selama beberapa tahun belakangan. Mirip seperti ketika Jakarta dikepung banjir pada Tahun Baru hingga akhir Februari, dengan sigap ia langsung berpose dengan seragam dinasnya tengah mengunjungi titik-titik banjir termasuk di Pulogadung, Rawa Indah, dan Pintu Air Manggarai.

Pun, Juni lalu saat kasus Corona meledak, dia berkampanye soal kesadaran memakai masker dan mencuci tangan sembari naik sepeda. Luar biasa! Seorang pejabat sekelas Anies mau turun gunung menaiki sepeda --Jokowi saja maunya naik Mercedes lho. Belum termasuk kerendahan hati Anies mengunjungi ulama Rizieq Shihab sepulang dari Arab Saudi, padahal pejabat lain menahan diri.

Khusus foto membaca buku, menurut terawangan saya, Anies ini sebenarnya sedang mencari jawaban yang tampaknya tak bisa ditemukan dari aktivitas blusukan itu. Jika banjir terus terjadi di Jakarta kala musim hujan, Corona tak kunjung minggat, kemacetan masih jadi bayang-bayang, protes warga direspons senyap pemerintah pusat, hutan Papua dibakar taipan Korea Selatan, tapi pemerintah adem ayem saja, maka segala solusinya bukan tak mungkin bisa ditemukan di buku best seller yang tengah ia baca.

Di buku itu seingat saya memang dijelaskan empat indikator utama yang membuat demokrasi mundur, yakni penolakan aturan main yang demokratis, penolakan legitimasi lawan politik, intoleransi atau dorongan kekerasan, serta pembatasan kebebasan sipil lawan, termasuk media massa. Nah, sebagai warga Jakarta yang baik, saya jelas mendoakan agar jawaban semua centang perenang ini bisa ditemukan Anies di buku tersebut. Semangat, Pak!

Namun, jika ternyata jawabannya nihil, barangkali teori kedua inilah yang bisa digunakan untuk menganalisis motivasi foto Anies. Mantan Rektor Universitas Paramadina itu tampaknya tengah melakukan apa yang disebut dengan pencitraan intelektual. Hah, makanan apaan tuh? Menurut Lippman sebagaimana dikutip Dan Nimmo (1978), citra adalah gambaran tentang realitas buatan. Dalam hematnya, pencitraan sendiri menjadi cara seseorang untuk menghubungkan dirinya dengan orang lain.

Setidaknya ada empat model pencitraan bisa dilakukan dalam konteks kegiatan politik. Pertama, pure publicity alias mempopulerkan diri melalui aktivitas masyarakat dengan latar sosial yang natural atau apa adanya. Kedua, free ride publicity, maksudnya publisitas dengan cara memanfaatkan akses atau menunggangi pihak lain guna memopulerkan diri. Ketiga, tie-in publicity, yaitu memanfaatkan kejadian-kejadian yang sangat luar biasa, seperti peristiwa tsunami, gempa bumi, longsor, Corona, banjir, dan lain-lain. Keempat, paid publicity, artinya cara memopulerkan diri lewat pembelian rubrik atau program, dan sejenisnya.

Masalahnya, dalam fenomena foto baca buku Anies Baswedan, saya sukar mengelompokkannya dalam kategori yang mana. Bagian satu sudah barang tentu tidak, mengingat latar yang ia gunakan untuk mencitrakan dirinya bukan publik, melainkan kediamannya. Itu tampak dari foto keluarga, artefak rumah yang sangat nyeni, lukisan kaligrafi, dan buku Plato yang tak kalah ndakik-ndakik ketimbang buku kematian demokrasi Amerika tersebut.

Lebih lanjut, foto Anies juga tak bisa digolongkan di kategori keempat, karena ia tak pernah dibayar oleh empunya penulis buku untuk mempopulerkan karyanya. Masak iya ia begitu murah hatinya memasarkan buku bersampul hitam itu? Jadi, jika bukan empat model pencitraan itu, lantas pencitraan jenis apa yang dilakukan Anies?

Tampaknya jawaban yang paling mendekati adalah Anies sedang melakukan pencitraan intelektual. Maksudnya, ia sedang "memasarkan" dan "menjual" dirinya sebagai seorang pemikir cerdas, konseptor ulung, kaum intelektual, alih-alih pejabat publik yang gemar blusukan atau berpikir praktis. Ini wajar saja dilakukan oleh Anies.

Mengamini pernyataan William James, si "bapak psikologi Amerika", diri kita ini memang mengandung banyak (identitas) diri dan kita bisa memecahnya dalam keadaan yang berbeda. Beberapa dekade berselang, sosiolog Erving Goffman menggambarkan kehidupan sehari-hari manusia, termasuk politisi, sebagai pertunjukan teater: kita mempersiapkan diri di belakang layar pribadi, kemudian melompat ke depan panggung untuk tampil sesuai zaman dan konteks yang terus berubah.

Dalam konteks ini, mungkin Anies --yang hari ini ramai diberitakan positif Covid-19-- sedang enggan menunjukkan identitasnya sebagai Gubernur yang harus dituntut berpikir, berstrategi, berkonfrontasi, sekaligus beraksi lewat tindakan konkret. Jadi, jangan over thinking mengira Anies sedang menyindir Jokowi atau rival politiknya. Mungkin ia sedang lelah saja. Sesederhana itu.

Purnama Ayu Rizky tengah merampungkan studi S2 Politik di UI

(mmu/mmu)