Jeda

Semua Ini Politik Kok, Mas!

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 29 Nov 2020 11:09 WIB
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Saya belum lagi benar-benar menghenyakkan pantat ke ujung bangku dekat pintu ketika sopir angkot itu langsung berseru, "Sepi banget, Mas...nggak ada penumpang!"

Saya duduk seorang diri di dalam angkot yang melaju malas-malas, dari arah Pasar Jumat menuju ke Pondok Labu. Saya naik dari ujung gang di Jalan Karang Tengah. Hari masih pagi. Tidak ada orang-orang berbusana kantoran yang biasanya menumpang angkot sampai ke Pondok Labu untuk melanjutkan perjalanan ke arah Blok M atau Pasar Minggu dengan menyambung naik angkutan yang lain.

Pun tak ada orang-orang seperti saya, yang dengan muka masih terlihat baru saja bangun tidur, baru sempat cuci muka, dan hendak belanja ke pasar. Saya belum menemukan kata-kata untuk sekadar berbasi-basi mengomentari keluhan sang sopir tadi, ketika dia sudah menyambung lagi, dengan nada yang terdengar lebih putus asa, "Semua ini politik kok, Mas!"

Tanpa harus berpikir dua kali, saya langsung bisa menebak ke mana arah pembicaraan lelaki berusia paruh baya itu, serta merujuk pada kondisi dan situasi apa. Sepi. Tak ada penumpang. Politik. Ada benang merah yang tak terucapkan, namun cukup mudah ditarik untuk menyimpulkan kaitan antara hal-hal itu: pandemi.

Saya hafal dengan wajah bapak sopir itu, dan sepertinya dia juga mengakrabi wajah saya, karena saya memang biasa naik angkot pagi-pagi, entah untuk pergi ke pasar atau ke tempat kerja, dan kemungkinan untuk bertemu dengan sopir yang sama frekuensinya lumayan tinggi.

Saya tersenyum di balik masker saya, untuk sekadar memberi isyarat bahwa saya mendengar dan menyimak obrolannya. Tapi sesaat kemudian saya langsung sadar, bahwa senyum saya pasti tidak tertangkap olehnya, karena selain memakai masker, saya juga duduk di belakangnya. Tapi, bapak sopir itu seolah tak peduli dengan kondisi itu, dan dia terus bicara, kali ini tiba-tiba tentang "dana dari pemerintah yang melimpah."

Saya pun langsung menemukan celah untuk menanggapi pembicaraannya. Politik. Dana yang melimpah. Lagi-lagi tidak sulit untuk membaca maksud si bapak sopir: bahwa baginya, Covid-19 ini hanyalah "dalih" bagi pihak-pihak tertentu agar mendapat bagian dari dana itu.

Dengan lagak seorang komentator profesional kelas warung pinggir jalan yang serba, saya pun menyergah, "Waduh, Pak...dananya memang nggak kira-kira ini, dan nggak tahu larinya ke mana."

"Lha ya itu, memang semua ini cuma politik," sahutnya, lalu ngedumel panjang-pendek yang kali ini tak cukup jelas tertangkap oleh saya, karena bapak sopir itu juga memakai masker.

Ketika kemudian hening untuk beberapa jenak, saya mencoba mencairkan suasana, "Tapi masih dapat bantuan kan, Pak?"

"Halah, bantuan cuma gitu aja, Mas!"

Saya tahu beberapa tetangga kanan-kiri saya mendapat bantuan rutin setiap dua minggu sekali --setiap PSBB Jakarta dinyatakan diperpanjang-- berupa beras (sekira 5 liter), kadang-kadang plus satu-dua kaleng sarden dan satu-dua bungkus mie instan, masing-masing dengan merek yang tak pernah kau dengar atau kau jumpai di supermarket. Kadang-kadang plus minyak goreng (1 liter), juga dengan merek yang sangat asing, seolah diproduksi dari negeri antah-berantah.

Belakangan, para tetangga saling "menggunjing" di sekitar tukang sayur yang biasa datang pada sore hari (saya biasa nimbrung untuk membeli ikan cue buat kucing-kucing saya, dan mencuri dengar), bantuan beras itu disertai dengan roti atau wafer kaleng, atau susu coklat bubuk --sepertinya tiap keluarga menerima bantuan dengan variasi yang berbeda-beda.

Bantuan itu dibungkus tas kain tipis merah-putih penuh tulisan-tulisan dan logo-logo, dan terbaca tulisan paling besar: Bantuan Presiden Melalui Kementerian Sosial RI. Lalu ada serangkaian tulisan lain tentang "protokol kesehatan", seolah-olah tas itu adalah selebaran iklan layanan masyarakat.

Saya paham bapak sopir itu bukannya tidak bersyukur dengan adanya bantuan tersebut. Tapi dengan mengatakan "bantuan cuma gitu aja", saya menerjemahkannya bahwa dia menganggap semua itu hanyalah formalitas belaka. Mengingat, sebelumnya dia bicara tentang "politik" dan "dana yang melimpah" yang telah dikeluarkan pemerintah untuk ini dan itu dalam penanganan pandemi ini.

Setelah turun dari angkot, saya masih terus memikirkan "logika orang awam" dalam melihat situasi pandemi saat ini, yang diwakili oleh bapak sopir angkot tadi. Saya pikir, kita tidak bisa menyalahkan orang-orang yang secara tersirat seolah tak percaya bahwa pandemi ini benar-benar nyata dan ada. Bahwa semua ini hanya "politik". Saya berusaha keras memahami "logika awam" yang polos itu, namun terucap dengan sangat meyakinkan sebagai suatu argumen yang bisa diterima.

Di Twitter, kita sudah terbiasa menyaksikan aneka debat, respons, dan data yang luar biasa banyaknya mengenai pandemi ini. Ahli-ahli epidemologi mengkritik dan mengeluhkan buruk dan kacaunya perekaman data pasien di berbagai daerah. Ahli yang lain membuat prediksi-prediksi bahwa angka kasus positif masih akan terus naik. Ahli yang lainnya lagi tak bosan-bosan menggemakan pesan agar masyarakat tetap di rumah, menghindari kerumunan, dan patuh pada protokol pembatasan sosial.

Terlalu banyak ahli. Terlalu banyak pesan dan informasi. Naiklah bus TransJakarta, dan kupingmu akan pekak dengan rekaman yang diputar berulang-ulang dalam bentuk pantun ala Betawi: Pergi ke Muara Angke, jangan lupa mampir Pasar Manggis; Nyok terapin 3M rame-rame, kita lawan korona sampek habis.

Saya terhari, tapi sejujurnya sekaligus bosan. Saya bosan, tapi juga terharu. Ada semangat yang demikian tulus di tataran akar rumput. Saya kemarin pergi ke mall di wilayah ujung selatan Jaksel untuk sebuah keperluan. Saya sudah hampir mencapai pintu masuk ketika satpam yang berjaga meminta saya cuci tangan dulu. Saya terpaksa balik lagi, karena tempat cuci tangan sudah saya lewati. Dalam hati saya agak kesal, tapi sekaligus juga terharu. Kesal, karena saya harus balik lagi. Terharu, karena sekali lagi, inilah dia: di tataran akar rumput, warga demikian patuhnya menerapkan aturan protokol kesehatan.

Saya kembali agak kesal (saya orangnya memang mudah kesal) ketika hendak meninggalkan mall, dan lagi-lagi oleh satpam diminta berbalik arah karena pintu keluar dibedakan secara khusus dengan pintu masuk. Saya harus memutar lagi. Tapi, sekali lagi saya juga terharu untuk kesekian kalinya --ya, selain mudah kesal, saya sebenarnya juga mudah terharu. Apalagi kalau ingat kehebohan berita-berita belakangan ini, di mana ada seorang pemimpi ormas yang baru kembali dari luar negeri, disambut oleh pendukungnya dengan begitu gegap gempita, lalu disambung dengan serangkaian acara dan kerumunan lainnya yang seolah-olah dibiarkan begitu saja oleh aparat. Dan saya harus cuci tangan sebelum masuk mall, dan harus duduk berjauh-jauhan dengan teman saya, dipisahkan oleh tanda silang merah besar-besar!

Belakangan, sang pemimpin ormas dirawat di sebuah rumah sakit di Bogor, dan menolak untuk mengumumkan hasil tes swab-nya. Ia dan pihak rumah sakit juga menolak untuk dilakukan swab ulang oleh Satgas Covid daerah tersebut. PSBB Jakarta diperpanjang terus-menerus. Kita tak henti diingatkan untuk mematuhi protokol kesehatan dan menerapkan 3M. Tapi ada pihak tertentu, kelompok tertentu, yang seolah berada di luar jangkauan aturan-aturan itu, dan otoritas seperti tak berdaya.

Kluster-kluster dihindari, dari sekolah hingga pesantren, sambil dengan riang gembira dan pura-pura tak terjadi apa-apa menciptakan kluster-kluster baru. Dunia pendidikan terlantar. Bisnis hancur. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Tapi, ada kerumunan yang justru difasilitasi oleh otoritas dengan pembagian masker dan tawaran test swab sukarela secara gratis --dan itu pun banyak yang menolak!

Bisik Alanis Morissette, "Isn't it ironic, don't you think?"

Kata bapak sopir angkot langganan saya, "Ini semua politik kok, Mas!" Sungguh, betapa ingin saya percaya pada "logika awam"-nya yang sederhana itu....

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)