Pustaka

Dokter Mochtar dan Kecelakaan Vaksin Masa Penjajahan Jepang

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Sabtu, 28 Nov 2020 09:23 WIB
dokter jepang
Jakarta -

Judul Buku: Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Maut Rōmusha 1944-1945; Penulis: J. Kevin Baird & Sangkot Marzuki; Penerjemah: Gatot Triwira; Penerbit: Komunitas Bambu, September 2020; Tebal: xxx+288 halaman

Saya kerap membayangkan sejarah Indonesia seperti sebuah gudang tempat menyimpan barang rongsokan. Gelap sekaligus lusuh, lengkap dengan sarang laba-labanya. Padahal, ruangan itu bisa saja dimanfaatkan sebagai tempat yang lebih terhormat, ruang kerja atau bahkan kamar tidur.

Barangkali itu analogi itu cocok untuk menggambarkan mengapa pelajaran sejarah di sekolah jarang diminati. Mungkin karena pelajaran sejarah di sekolah mirip seperti gudang itu. Setidaknya berdasarkan pengalaman saya dulu; teman-teman saya di SD hingga SMA memang sering mengantuk saat pelajaran sejarah atau lebih memilih izin ke toilet.

Padahal, banyak sekali kepingan sejarah bangsa ini yang masih remang-remang dan tentu saja menarik untuk dipelajari. Misalnya, episode kekejaman penjajahan Jepang di Indonesia. Saya bahkan baru tahu bahwa pada masa penjajahan Jepang itu ada seorang ilmuwan cemerlang dari kalangan pribumi yang harus mati di bawah kilatan pedang algojo Jepang. Dia adalah Prof. Dr. Achmad Mochtar, ilmuwan biologi molekuler asal Sumatera Barat.

Mochtar mati usai menjadi korban fitnah yang keji. Cerita tragis Mochtar diselidiki dan dianalisis dengan sangat baik oleh Sangkot Marzuki (Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta 1992-2014) bersama J Kevin Baird (Direktur Eijkman Oxford Clinical Research Unit) dalam buku Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Maut Rōmusha 1944-1945. Mereka berusaha membersihkan nama Mochtar dari fitnah itu.

Buku ini sebenarnya pernah terbit pada 2015, tetapi dalam bahasa Inggris. Tahun ini, akhirnya buku ini diterbitkan oleh Komunitas Bambu untuk pertama kalinya dalam bahasa Indonesia. Kajian buku ini salah satunya berfokus pada hipotesis kecelakaan pembuatan vaksin TCD (tifus-cholera-disentri) yang menyebabkan 900 romusha di Kamp Klender tewas pada awal Agustus 1944.

Para romusha itu tewas setelah menerima vaksin TCD dari Jepang; mereka kejang-kejang karena mengidap tetanus akut. Ternyata, vaksin itu memang sudah tercemari toksin tetanus. Guna menutupi kegagalan eksperimen (kejam) itu, Jepang pun menjadikan Mochtar, yang ketika itu mengepalai Lembaga Eijkman, sebagai salah satu kambing hitam dari insiden ini. Mochtar dan para ilmuwan di Lembaga itu ditangkap dan disiksa untuk mengakui tuduhan "sabotase vaksin" itu.

Namun, sebenarnya memang tidak ada yang perlu diakui. Mochtar pun akhirnya keluar sebagai pahlawan. Mochtar rela mengakui tuduhan itu demi menyelamatkan kawan-kawannya. Setelah 10 bulan dipenjara dan menerima siksaan kejam, Mochtar merelakan nyawa usai dipancung pada 3 Juli 1945 di sebuah pohon di Everald Ancol. Keberadaan mayat Mochtar itu baru diketahui pada tahun 2010.

Ksatria Perang Asia Timur Raya

Kekejaman Jepang dalam dua tragedi tragis itu --kematian 900 romusha dan pemancungan Mochtar-- menurut Baird dan Sangkot tak bisa dilepaskan dari latar belakang Perang Asia Timur. Sifat fasis masih begitu melekat pada Jepang ketika itu. Bahkan, derajatnya seperti Nazi di bawah kepemimpinan Adolf Hitler.

Jepang dengan kematian romusha tak ubahnya seperti Nazi dengan holocaust-nya, yang sangat terkenal karena dianggap sebagai kejahatan perang terkejam di dunia. Sayangnya, semua kejahatan itu tersamarkan usai Jepang mengakui kekalahannya dari Amerika Serikat.

Maka rasanya kita bisa bersepakat dengan Baird dan Sangkot saat menyematkan gelar "ksatria Perang Asia Timur Raya" kepada Mochtar.

Keduanya juga sedikit menyinggung soal konteks politik yang meliputi peristiwa Mochtar yang terjadi beberapa minggu sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Mochtar memang terhubung erat dalam jaringan elite politik pada masa itu. Rupanya saat itu ada perbedaan pendapat soal status Mochtar sebagai penyabot vaksin.

Sukarno dan Hatta, dua elite politik Indonesia paling dikenal menjelang proklamasi, memiliki pandangan bertolak belakang tentang penangkapan dan eksekusi Mochtar. Sukarno percaya bahwa Mochtar bersalah atas pembunuhan massal romusha, sedangkan Hatta percaya itu hanya tuduhan tidak adil. Perbedaan pendapat ini tak bisa dilepaskan dari sikap kompromis Sukarno yang memang pernah berterima kasih kepada Jepang karena berhasil mengenyahkan Belanda.

Dari sini kita bisa melihat bahwa politik memang kerap membuat banyak hal menjadi sumir. Apa yang kita sebut sebagai kebenaran sejarah justru tercelup dalam lumpur kepentingan-kepentingan lain. Maka tak mengherankan bila ilmuwan secemerlang Mochtar, namanya baru saya tahu setelah membaca buku ini.

Untuk itu, saya merasa perlu berterima kasih kepada Sangkot dan Baird. Berkat kegigihan mereka memunguti kepingan fakta sejarah di seputar peristiwa Mochtar, saya bisa melihat sisi kelam sejarah Indonesia yang selama ini tak pernah saya dapatkan di sekolah. Mereka bak pembawa pelita yang berusaha menerangi "gudang sejarah" yang lama terbengkalai. Bukan hanya itu, mereka juga membawa karbol untuk membersihkan sejarah dari bau amis darah korban kejahatan kolonialisme.

Rakhmad Hidayatulloh Permana wartawan detikcom

(mmu/mmu)