Kolom

Tetap Mendidik pada Masa Pandemi

Dodo Hinganaday - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 15:00 WIB
Siswa Siswi mengikuti simulasi sekolah percontohan pembelajaran tatap muka di SMP Negeri 2 Bekasi, Jawa Barat, Senin (3/8/2020). Pelaksanaan ini dilaksanakan mulai hari ini hingga 28 Agustus 2020. Siswa yang yang mengikuti pelajaran tatap muka hari ini 18 anak perkelas.  setiap kelas 7, 8 dan 9 diwakili 1 kelas yang bergantian setiap harinya.
SMP 2 Bekasi gelar simulasi untuk kembali belajar tatap muka (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November, pada tahun ini diharapkan menjadi saksi lahirnya para pendidik pada masa pandemi. Para pendidik ini menjadi garda terdepan pembentukan generasi muda bangsa kita ketika pendidikan Indonesia dihantam tantangan berupa wabah virus Covid-19. Para pendidik pada masa pandemi diharapkan tetap menghasilkan generasi muda terdidik yang kualitasnya masih dapat dipertanggungjawabkan.

Harus diakui, ada orang-orang tertentu meragukan kualitas hasil didikan model pembelajaran jarak jauh (PJJ), yang disebut juga belajar dari rumah (BDR). Keraguan itu muncul karena berbagai keterbatasan yang muncul dalam PJJ atau BDR. Diukur dari segi kompetensi, misalnya, cara belajar yang berbeda-beda menjadikan tidak semua peserta didik dapat memahami penjelasan lewat sarana-sarana pembelajaran daring (dalam jaringan), baik itu sekadar membaca dari sumber tertulis, maupun saat diajarkan melalui Google Meet, Microsoft Team, Zoom, atau video tutorial di Youtube.

Sementara itu, guru juga tidak selalu dapat memberikan pengajaran yang menarik dan mudah dipahami peserta didik. Ditambah lagi ada guru yang hanya memberi tugas kepada peserta didik tanpa penjelasan sama sekali. Mengharapkan orangtua untuk mendampingi para peserta didik nyatanya tidak terlalu efektif karena sebagian dari mereka masih perlu bimbingan dan pendampingan pendidik yang sungguh menguasai bahan pelajaran.

Para peserta didik juga tidak dapat diharapkan untuk selalu dengan sendirinya insyaf akan pentingnya belajar demi masa depan mereka. Di satu sisi, masih ditemukan peserta didik yang meninggalkan proses pembelajaran daring tanpa izin dan alasan yang jelas. Ada pula peserta didik yang tertinggal dalam pelajaran karena menyibukkan diri dengan permainan dan media sosial di gawainya. Di sisi lain, guru tertentu tidak mau merepotkan diri dengan mendampingi peserta didik, sekalipun secara daring, contohnya dalam memilah informasi yang perlu untuk mereka.

Ada pula guru yang mengukur kualitas tanggung jawab peserta didik dengan cara cukup diberi tugas dan dituntut mengumpulkan tugas tepat waktu. Orangtua dengan segala kesibukannya tidak selalu dapat menuntun anak-anak mereka agar pada akhirnya dapat belajar secara mandiri.

Pembelajaran daring juga kerap dijadikan alasan peserta didik untuk kurang peduli pada orang-orang lingkungan di sekitarnya. Peserta didik mulai terbiasa sibuk dengan dirinya sendiri, baik karena mengerjakan tugas yang menumpuk maupun memiliki alasan untuk asyik dengan gawainya sendiri. Para guru yang hanya membanjiri peserta didik dengan tugas-tugas tidak memperhatikan kebutuhan peserta didik untuk mengembangkan diri melalui interaksi dengan orang lain dan lingkungan.

Dengan kompetensi yang terbatas, tanpa didukung pembentukan karakter yang memadai, wajarlah kualitas generasi muda pada masa pandemi ini diragukan. Keraguan ini harus ditanggapi oleh para guru dengan tetap setia menjadi pendidik. Menjadi pendidik tetap dapat dan harus dilakukan, bahkan pada saat pandemi sekalipun.

Tetap Menjadi Pendidik

Dengan segala keterbatasannya pada masa pandemi, guru tetap diharapkan dapat menjadi pendidik, tidak sekadar menjadi pengajar, apalagi pemberi tugas. Sembari mengajarkan kompetensi, guru tetap membentuk karakter para peserta didik. Dan, untuk menjadi manusia utuh, selain kompetensi, sekurangnya yang harus dibentuk adalah kemampuan peserta didik mengoptimalkan kesadaran dan hati nurani serta berbela rasa kepada sesamanya.

Untuk mengikat optimalisasi kompetensi, kesadaran dan hati nurani, serta kemampuan berbela rasa, pendidik melatih peserta didik untuk menjalani segala sesuatu dengan komitmen. Secara praktis, melalui tugas-tugas mereka, peserta didik dapat lebih diarahkan untuk melakukan observasi dan belajar dari lingkungan sekitar. Peserta didik juga dapat diajak, misalnya, melihat kemungkinan menerapkan pengetahuan yang baru dipelajari dalam upaya membantu orang lain.

Penugasan juga dapat diberikan dengan melibatkan orangtua. Sebagai contoh, selain hasil tertulis, peserta didik juga dapat diminta merekam diri saat mengerjakan tugas bersama orangtuanya. Peserta didik dapat pula diminta membuat video ketika ia sedang memanfaatkan pengetahuannya untuk membantu orang lain.

Pendampingan personal pun tetap dilakukan, bahkan walaupun secara daring. Selain kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik, pendidik juga menyusun daftar karakter yang harus dimiliki oleh peserta didik yang ia dampingi. Daftar tersebut dilengkapi dengan indikator pencapaian yang konkret, kriteria penilaian, dan sarana atau metode yang pendidik gunakan.

Setelahnya, yang paling penting, pendidik secara konsekuen dan penuh komitmen menjalankannya, termasuk di luar jam pelajaran resmi yang ditentukan sekolah. Peserta didik dilatih dan didampingi untuk dapat beradaptasi dan mencapai indikator demi indikator. Evaluasi pun dilakukan bersama peserta didik terkait pencapaian kualitas kompetensi dan karakter mereka.

Pendidikan masa pandemi mendorong pendidik untuk tidak lagi mengharuskan peserta didik, menurut istilah filsuf Jacques Rancière dalam The Ignorant Schoolmaster (1991), "membeo" (repeat like parrots). Seorang pendidik, bagi Rancière, tidak "menjejalkan peserta didik dengan pengetahuan dan mengharuskan mereka mengulanginya seperti beo." Transfer ilmu tetap perlu dilakukan, tapi pada saat yang sama juga merangsang peserta didik untuk meningkatkan ilmunya hingga ke level yang lebih tinggi.

Dalam hal ini, pendidik tetap dapat mendorong peserta didik untuk meningkatkan kualitas kompetensi dan karakternya sesuai kemampuan tanpa menjadikan pandemi sebagai alasan membatasi diri.

Dodo Hinganaday pendidik di SMK St. Mikael Surakarta

(mmu/mmu)