Sentilan Iqbal Aji Daryono

Menonton Jasad Televisi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 17:54 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Untuk entah ke berapa ratus kalinya, pagi tadi saya rebutan tivi lagi dengan anak saya yang kecil. Pagi-pagi dia sudah minta nonton Blippi, saluran Youtube pendidikan campur hiburan (atau hiburan campur pendidikan?) untuk anak-anak bikinan orang Amerika bernama Stevin John. Sedangkan saya kebelet banget nonton film di Netflix. Film apa pun bebas, pokoknya nonton, sebab saya butuh cari-cari ide untuk tulisan saya.

Tentu saja saya kalah melawan anak saya. Apa kata Kak Seto dan KPAI kalau saya tetap ngotot? Dan kekalahan ini sudah menimpa saya untuk ke sekian ratus kalinya pula. Kadang realitas yang pahit itu membuat saya kepingin beli satu tivi lagi. Tapi ruang di rumah saya terbatas, lagi pula dua suara tivi akan membuat rumah kami seberisik Terminal Kampung Rambutan. (Saya sih belum pernah ke Terminal Kampung Rambutan, tapi kata orang-orang di sana berisik)

Sampai kemudian saya memilih rebahan, membuka HP saya, dan membaca satu laporan dari sebuah lembaga survei bahwa televisi menggeliat lagi selama pandemi. Orang-orang pada ngendon di rumah, WFH, dan mereka mengisi waktu dengan menonton televisi. Hasilnya adalah kesimpulan bahwa peluang bisnis stasiun-stasiun televisi sedikit meningkat kembali.

Seketika saya sepakat dengan laporan itu, apalagi baru beberapa detik berselang saya terlibat dalam aksi rebutan tivi. Namun, kesepakatan saya ternyata hanya bertahan beberapa detik saja. Langsung saya merasa ada yang janggal. Benarkah angka "kepemirsaan" (duh, istilah yang aneh) televisi meningkat? Bahwa saya dan anak saya rebutan tivi, dan kami bagian dari jutaan orang Indonesia yang kembali rajin menonton tivi gara-gara pandemi, itu benar. Tapi lihat, yang saya tonton film di Netflix. Yang ditonton anak saya tayangan Youtube. Lalu di mana televisinya?

Sampai di sini tiba-tiba saya sadar, ada kekaburan istilah yang menjebak kita begitu lama.

***

Saya teringat iklan layanan masyarakat itu, puluhan tahun silam. Dalam adegan iklan, seorang petugas dengan seragam cap TVRI datang ke sebuah rumah. Pemilik rumah menemuinya, lalu si petugas meminta pembayaran "iuran TVRI". Tuan rumah menjawab bahwa keluarganya sudah tak pernah lagi menonton TVRI, sebab sudah beralih ke televisi-televisi swasta. Lalu si petugas menimpali, "Iuran ini memang bukan untuk menonton TVRI, Pak. Tapi untuk kepemilikan pesawat televisi."

Sebagaimana wajarnya iklan, tentu saja kemudian si empunya rumah (sekaligus empunya pesawat televisi) manggut-manggut, lalu berkenan membayar. Happy ending pun tercapai, dan mereka bahagia selamanya.

Malangnya, akhir cerita seperti itu tidak terjadi ketika petugas TVRI sungguh-sungguh datang ke rumah kami, dan mendiang bapak saya menemuinya. Bapak bilang, kalau pembayaran itu untuk TVRI, kami tak pernah lagi menonton TVRI. Tapi kalau untuk kepemilikan pesawat televisi, berarti itu bersifat pajak, dan yang berhak mengambil pajak adalah pemerintah daerah, bukan institusi TVRI. Si petugas pun berpamitan dengan wajah lesu.

Happy ending ala iklan tidak terjadi di rumah kami (meski bukan berarti kami tak ingin bahagia selamanya). Tapi saya tidak yakin apakah keluarga-keluarga lain bisa menjawab seperti halnya bapak saya menjawabnya. Sangat mungkin mereka manggut-manggut saja seperti di iklan, lalu membayar iuran TVRI yang nggak jelas itu.

Nah, sambil manggut-manggut, mereka pusing membedakan antara kata "televisi" pada "pesawat televisi" dan kata yang sama pada "Televisi Republik Indonesia". Terlebih lagi, selama masa yang panjang di era Orba, satu-satunya stasiun televisi ya TVRI, sehingga kata "televisi" memang kembar identik dengan TVRI. Tambah bingunglah mereka itu.

Dan, kebingungan itu agaknya tidak hanya terjadi pada puluhan tahun lalu, ketika saya menonton iklan layanan masyarakat itu. Sebab sekarang pun, ketika muncul kalimat "ada peningkatan sekian persen populasi yang menghabiskan waktu di depan televisi selama pandemi" tidak pernah benar-benar bermakna bahwa jutaan orang itu menonton tayangan-tayangan dari stasiun televisi. Sangat besar kemungkinannya bahwa banyak di antara mereka yang seperti kami, rebutan remote tivi untuk memperjuangkan keinginan menonton Netflix atau Blippi. Sialnya, tetap saja kami bisa dengan seenaknya dituduh "menonton televisi".

***

Televisi memang sudah megap-megap. Tunggu, maksud saya, stasiun-stasiun televisi sudah megap-megap. Banjir arus digital membuat kita menjadikan siaran-siaran dari stasiun televisi bukan lagi sebagai menu primer untuk asupan informasi. Untuk menyantap informasi kita sudah lari ke media-media daring, juga media sosial. Sementara, untuk format audio visual sebagaimana kekuatan dasar televisi yang kita pahami, Youtube tak bisa dilawan lagi.

Anak saya yang kecil menonton tayangan untuk anak-anak di Youtube. Kualitas kontennya bisa kita kontrol, bisa juga kita pilih sendiri dari ribuan pilihan, tidak sebagaimana ketika kita memasrahkan anak kepada siaran stasiun televisi yang sering mengecewakan hati. Anak saya yang gede juga menonton Youtube, untuk menyimak drama-drama ABG, unboxing mainan, atau panduan bermain rubik.

Adapun istri saya menonton tutorial oles-oles skincare dan review sepatu ya dari Youtube, sedangkan saya sendiri menonton potongan-potongan berita, atau video street fight dan instant karma juga dari Youtube.

Lalu, untuk apa televisi? Maksud saya, untuk apa tayangan stasiun televisi?

Bahkan bukan cuma terkait urusan-urusan kebutuhan praktis seperti itu tadi. Dengan ramainya Youtube, sesungguhnya yang terjadi bukan hanya pergantian media. Sebab ada pergeseran yang lebih mendasar di sana, yakni runtuhnya "otoritas kebudayaan" yang dulu digenggam stasiun-stasiun televisi.

Dulu kala, orang jadi ngetop kalau diorbitkan televisi. Stasiun-stasiun televisi menjadi dewa yang menentukan nasib seorang manusia, apakah wajah dan suara si manusia itu akan dikenal publik luas ataukah tenggelam dalam kegelapan. Namun sekarang, orang tak perlu melamar untuk masuk tivi, atau menunggu dilamar tivi. Semua bisa membikin tivi sendiri. Mulai Ria Ricis sampai gitaris Alip Ba Ta telah membuktikan itu. Ibaratnya mereka bilang, "Oke, tivi nggak kasih aku panggung. Persetan, sekarang aku bikin panggungku sendiri!"

Akibatnya jelas, stasiun-stasiun televisi tidak menjadi dewa lagi. Bahkan yang lebih mengenaskan, banyak program di stasiun televisi malah menayangkan potongan-potongan video dari Youtube, dunia yang telah melawan otoritas kebudayaan mereka sendiri.

***

Kemarin tanggal 21 November adalah Hari Televisi. Saya yakin Anda tidak tahu itu. Tapi toh Anda juga tak perlu tahu, daripada nanti malah bingung apakah hari tersebut maksudnya Hari Stasiun Televisi ataukah Hari Pesawat Televisi.

Yang jelas, tak berapa lama lagi kita akan lebih rajin menonton pesawat televisi, yang di dalamnya bersemayam jasad stasiun-stasiun televisi.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)