Jeda

Bagaimana Cara Menghilang

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 22 Nov 2020 12:06 WIB
mumu aloha
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

"Bangun pagi, duduk berjemur, melihat bunga-bunga...aduh, senengnya!"

Perempuan tua bertopi gaya anak muda itu berkali-kali berdecak. Tatapannya sibuk berkeliling menikmati hamparan bunga-bunga aneka warna, memanjakan dirinya untuk mereguk kesenangan dan udara segar-bersih sebanyak-banyaknya. Hari masih pagi. Waktu sarapan baru saja lewat. Anak-anak masih terdengar jejeritan gembira di kolam renang di tengah taman di bawah ketinggian pepohonan pinus yang seolah hendak menjala langit.

Perempuan itu, bersama rombongannya, sejumlah perempuan seusianya, bangkit dari bangku kayu, lalu menyusuri jalan-jalan setapak yang membelah taman, menghampiri sebuah rumah pohon. Salah seorang dari mereka, mengenakan kaos loreng gaya army, menaiki separo tangga, lalu membalikkan badan, dan berseru pada seorang lelaki muda yang ada di dekat situ.

"Tolong fotoin!"

Anak muda itu memotretnya beberapa kali.

"Alismu bagus sekali," kata perempuan itu ketika mengambil kembali HP-nya dari tangan sang anak muda. Anak muda itu tersenyum malu-malu.

"Kami artis ya?"

Anak muda itu hanya tertawa kecil.

Seekor lebah, tanpa terdengar dengungnya, tanpa seorang pun memperhatikannya, berputar-putar sendirian, dari satu kelopak bunga ke kelopak bunga lainnya. Dari satu kubangan danau mungil serbuk sari ke kubangan danau mungil lainnya; sayapnya bergetar-getar seolah hendak mengukur keluasan taman itu, yang dikuasainya tanpa gerombolannya, asyik sendiri, menikmati pestanya.

Di situlah, pada pagi itu, akhir pekan kedua bulan November yang dingin, kehidupan merajut momen-momennya seperti serentetan adegan film yang silih berganti, seperti rangkaian foto yang bercerita, seperti lukisan naturalis dalam bentang kanvas raksasa --sebuah lembah yang tersembunyi di balik perbukitan, di dalam sebuah hutan pinus, di satu areal hotel berkonsep "lodge and organic farm".

Sepasang muda-mudi, sepertinya suami-istri pengantin baru, meninggalkan kamarnya yang berjendela menghadap ke jurang dengan pemandangan rumpun bambu dan suara gemericik air dari sebuah sungai kecil yang hanya kelihatan samar di balik rimbun dedaunan. Suara jangkrik yang kedinginan dan kokok ayam yang bersahut-sahutan memecah keheningan.

Satu keluarga besar yang menempati sebuah kamar berteras, tentu saja datang dari Jakarta, meminta anak-anak mereka yang baru saja selesai berenang untuk bergegas, tak ingin melewatkan pagi di taman bunga, dengan tangga-tangga semen bercat warna-warni, ayunan, dan rumah Hobbit. Pagi hanya akan mampir sebentar. Cahaya matahari hanya berkilau sesaat. Kabut akan turun melintas, lalu siang yang muram datang, kadang diiringi gerimis yang menggigilkan.

Taman itu pun semakin ramai. Sepasang muda-mudi lain tampak telah pergi meninggalkan hotel. Tamu-tamu baru, dalam rombongan-rombongan bermobil plat B mulai berdatangan. Inilah hidup yang sesungguhnya, pelarian sesaat di hotel tersembunyi di balik bukit pinus, berlangsung singkat antara Jumat siang dan berakhir pada Sabtu atau Minggu pagi.

Orang Solo punya Tawangmangu. Orang Jakarta punya Puncak. Berbondong-bondong orang berusaha menghilang dari rutinitas, memasuki dunia paralel, mencari sebuah "hidden gem", yang melenyapkan mereka sesaat dari hiruk-pikuk, dari kebosanan dan kepenatan. Walaupun kadang yang dilakukan di kamar hotel hanya menonton televisi, atau memelototi layar HP, agar tetap terhubung dengan dunia, terakses dengan berita-berita yang menjemukan dan menyesakkan dada.

Kita memang tidak mungkin lari sepenuhnya dari itu semua. Tapi, setidaknya, orang tetap butuh penghiburan. Perasaan bahwa dirinya bisa menghilang, terputus dari kesibukan dan ingar-bingar dunia fana dan terus-menerus menuntut kehadiran dalam keserbacepatan. Perasaan untuk mengalami dan menyaksikan momen-momen kecil yang sederhana, tapi berbeda dari keseharian --hamparan wortel segar masih berdaun yang ditata di rak dan dijajakan di sepanjang jalan, pisang-pisang mungil dalam tandan-tandan yang bergelantungan, dan jalan berkelok-kelok yang sulit ditempuh dan kadang menyesatkan.

Dalam hidup ini, kadang-kadang hanya momen-momen sesaat yang menghadirkan denyut lirih perasaan-perasaan lain seperti itulah yang kita butuhkan. Kita bekerja seharian, meeting dengan klien, berdebat saling mempertahankan ide masing-masing, untuk kemudian duduk bersama menyeruput kopi sambil tertawa. Kita berselingkuh, menelantarkan anak-istri, sesekali bertengkar dengan tetangga. Kita habiskan uang untuk mencalonkan diri jadi caleg, pergi ke panti pijat, dan terjaring rasia polisi.

Kita menulis buku, berharap bisa mengubah dunia, meluncurkannya lewat sebuah pesta meriah, dipuji kritikus, untuk akhirnya hanya menumpuk di toko sampai berdebu. Kita bekerja, bergaul, bercinta, berpolitik, bermusuhan, bermimpi, membangun bisnis, dan membuat rencana-rencana untuk menghadapi masa depan, lalu semua itu hancur-berantakan dalam sekejap karena pandemi virus yang tak tersangka-sangka.

Kita menjalani hidup, terobsesi dan terus berusaha untuk memberinya makna, berbuat sesuatu, berpikir, mencari kebahagiaan, melakukan apa saja, jam sekian di sini, jam sekian di sana, lalu berakhir di sebuah hotel tersembunyi di ujung jalan berbatu, sekian puluh kilo meter dari kota, di tengah kegelapan lembah yang dingin di tengah hutan di atas perbukitan yang masih menyimpan suara-suara makhluk-makhluk kecil di balik pepohonan.

Kita menikah, belanja bulanan, berlibur pada akhir pekan, memesan makan malam di restauran yang temaram, sambil menuntaskan obrolan yang kemarin dan kemarinnya lagi, sambil mengisap rokok, merenung, mengecek "timeline", membalas pesan Whatsapp, dan berkali-kali berbisik kepada diri sendiri, meyakinkan diri bahwa hidup yang hampa, hidup yang membosankan, hidup yang begini-begini saja, yang kadang hanya memberikan luka, telah cukup dimaknai....

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)