Kolom

Pengajian dan Produksi Sosial Ruang Perkotaan

Hamzah Fansuri - detikNews
Jumat, 20 Nov 2020 14:00 WIB
Malam tahun baru,pemuda di ciamis pengajian
Sebuah acara pengajian pemuda di Ciamis, Jawa Barat (Foto: Dadang Hermansyah)
Jakarta -
Dalam tradisi masyarakat Islam, pengajian yang berlangsung dari rumah ke rumah sebenarnya sudah dimulai sejak periode Nabi Muhammad. Di masa itu, Baitul Arqam atau rumah Arqam, tempat untuk mengidentifikasi berkumpulnya komunitas Muslim awal merupakan frase yang lazim untuk menyebutkan forum yang belakangan kita kenal dengan pengajian.

Namun seiring perkembangan zaman dan teknologi, medium pengajian ini sudah mulai memanfaatkan berbagai macam teknologi. Di tengah pandemi Covid-19 misalnya, pengajian menggunakan aplikasi telekonferensi Zoom Meeting menjadi populer, terutama bagi masyarakat di kota-kota besar, mengikuti popularitas Instagram LIVE, grup-grup Whatapps, dan YouTube LIVE.

Sebelum era digital, kita telah mengenal pengajian yang dimediasi melalui media konvensional seperti kaset untuk diputar di tape seperti ceramah dari dai kondang pada masanya yaitu KH Zainuddin MZ, melalui radio, televisi, dan tentunya pengajian tatap muka baik di masjid, dari rumah ke rumah, perkantoran, universitas, sekolah, hingga ruang publik lainnya termasuk mal dan kafe.

Masyarakat Muslim perkotaan, dengan demikian, sangat erat berhubungan dengan fenomena pengajian di berbagai ruang tersebut. Mengikuti pemikiran Lefebvre, maraknya fenomena pengajian bisa dikatakan sebagai upaya-upaya produksi sosial ruang perkotaan.

Dengan infrastruktur perkotaan yang memadai untuk menunjang mobilitas, misalnya, ruang-ruang kota yang terhubung tidaklah bisa dilihat tercipta dengan sendirinya. Karena merupakan hasil produksi sosial, maka manusia ditempatkan sebagai produsennya meliputi seluruh tubuh, indera, imajinasi, pikiran, dan ideologinya yang saling berhubungan melalui berbagai aktivitas dan praktik (Faruk, 2020).

Oleh karenanya, memahami pengajian tidak hanya sebagai fenomena praktik sosial keagamaan masyarakat perkotaan, tetapi juga bersinggungan dengan aspek lain yang lebih luas termasuk sejarah. Bagi masyarakat Muslim sendiri, pengajian tidak lepas dari sejarahnya yaitu dalam rangka penyebaran dakwah Islam hingga menjangkau masyarakat luas. Ruang pengajian, dengan sendirinya berarti ruang di mana tercipta jalinan utama antara eksistensi sosial, media yang dijalin dari relasi antar subjek, serta tindakan-tindakan dan lingkungannya (Lefebvre & Nicholson-Smith, 1991).

Jika ruang pengajian, di mana pun berlangsungnya itu tidak lain adalah ajang berkumpulnya berbagai kepentingan, baik individu maupun kelompok, maka ruang pengajian juga menjadi ruang untuk mengkontestasikan kekuatan setiap material di balik kepentingan tersebut. Setidaknya, motivasi setiap orang untuk mengikuti pengajian tentunya tidak sama. Namun, pengkhotbah dalam posisi memiliki kendali atas pengajian berusaha untuk mengontrol subjek melalui pengetahuan agamanya dengan harapan dapat menyamakan pandangannya tentang materi yang disajikan.

Pada titik inilah pengajian menjadi semacam kreasi masyarakat Muslim perkotaan. Dengan nalar Lefebvre, setiap ruang kota ibarat arena kontestasi di mana semua pihak yang berkepentingan, mulai dari masyarakat kapitalis modern dan komunitas religius terus berinovasi untuk melestarikan dominasi dan hegemoni mereka atas ruang yang ada.

Fenomena hijrah para artis yang bergabung di Kajian Musawarah adalah contoh fenomena pengajian masyarakat Muslim perkotaan yang berhasil merebut berbagai ruang perkotaan. Bahkan tak hanya dari rumah ke rumah yang terkesan cenderung eksklusif, mereka telah berhasil menyedot puluhan ribu orang dalam pengajian akbar di hall sebesar Jakarta Convention Center dalam acara Hijra Fest pada 2018 lalu.

Tidak hanya itu, media pengajian juga bisa dipromosikan melalui ruang kota seperti ketika berlangsung konser band, di antaranya seperti grup band Wali yang secara khusus ikut menulis lagu berjudul Kuy Hijrah.

Lefebvre memang meletakkan analisisnya pada perspektif Marxian, sehingga ruang baginya menjadi seperti komoditas yang membuka peluang baik produksi maupun reproduksi sosial yang basis utamanya adalah corak produksi itu sendiri. Dalam konteks ini, pengajian yang digagas para selebritis sudah barang tentu memiliki basis material yang absah untuk mendominasi ruang perkotaan.

Belum lagi jika ruang digital seperti media sosial, menjadi sangat mudah bagi komunitas hijrah untuk memperebutkan ruang-ruang itu melalui konten-konten keagamaan. Setidaknya hal ini terlihat dari semakin banyaknya follower, viewer, dan subscriber pada setiap akun media sosial yang mereka kelola, dalam contoh kasus ini Kajian Musawarah beserta komunitas-komunitas hijrah lainnya kota-kota besar seperti Shift di Bandung, Jogja Hijrah Bikers, dan Kahf di Surabaya.

Baik ruang perkotaan (fisik maupun digital), perlu dicermati bahwa keduanya erat kaitannya dengan dorongan dari apa yang disebut self-exhibition. Dalam pemahaman ini, para artis hijrah menjadi contoh nyata bagaimana mereka tidak bisa lepas dari keinginan untuk "unjuk gigi" melalui ruang atau komoditas yang melekat padanya. Sejalan dengan itu, kita menyaksikan bagaimana fenomena masyarakat hybrid juga tercipta manakala terjadi pergeseran masyarakat dari fenomena Gesellschaft ke Gemeinschaft, antara ciri-ciri perilaku pedesaan dan perkotaan.

Jika ruang perkotaan layaknya etalase atau tontonan (Debord, 2012), fenomena pengajian pasti dihadapkan pada tantangan yang paling kentara dari kemajemukan kehidupan kota itu sendiri. Artinya, pengajian sebagai produksi sosial ruang perkotaan meskipun mengandung muatan ideologi tertentu, akan berhadapan dengan dimensi kehidupan perkotaan yang juga bersifat ideologis. Lebih lanjut, jika pengajian mampu menghasilkan ruang perkotaan tetapi mengabaikan posisi subjek yang mendiami kota, maka berpotensi juga mengabaikan konteks sejarah perkembangan masyarakat yang turut memeriahkan ruang tersebut.

Hamzah Fansuri sosiolog Universitas Krisnadwipayana

(mmu/mmu)