Kolom

Potensi Ekspor Olahan Singkong

Adelina Rahmasari - detikNews
Kamis, 19 Nov 2020 15:40 WIB
Salah satu pusat pembuatan tape singkong (peyeum) berada di Kampung Poncol, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Pabrik ini telah beroperasi sejak tahun 1970-an.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -
Pemerintah telah membentuk program pembangunan lumbung pangan dengan implementasi perluasan lahan singkong untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia. Singkong memang memiliki potensi besar dan seharusnya menjadi peluang bagi Indonesia sejak era Orde Baru.

Dalam mengolah kebijakan tersebut, pemerintah harus dapat melihat lebih jauh potensi singkong dan perlu menyiapkan program pendukung lainnya. Bahan pangan ini akan diolah menjadi mie dan roti, menggantikan bahan terigu atau gandum yang selama ini masif diimpor oleh Indonesia. Produk olahan singkong ini berpotensi untuk diekspor ke beberapa negara, seperti Kawasan Eropa Tengah.

Alternatif Terigu


Selama ini, masyarakat Indonesia mengonsumsi bahan pangan gandum ataupun tepung terigu yang sering dijumpai dalam bentuk mie, roti, dan produk bakery lainnya. Gandum secara rutin diimpor dari beberapa negara seperti Amerika dan Kanada. Nilai impor Indonesia tersebut bahkan mencapai 2,7 miliar dolar AS pada 2019 (BPS).

Satu hal yang sangat disayangkan adalah potensi singkong di Indonesia yang sebenarnya dapat digunakan sebagai pengganti terigu.

Seiring dengan berkembangnya tren diet bebas gluten (gluten free), popularitas singkong pun meningkat. Singkong yang secara alami tidak mengandung gluten dinilai memiliki manfaat kesehatan terutama bagi penderita intoleransi gluten. Singkong pun mulai mendapat perhatian dan diolah menjadi tepung singkong (mocaf) sebagai alternatif tepung terigu.

Permintaan Meningkat

Tren gluten free sangat berkembang di Eropa, termasuk kawasan Eropa Tengah. Dengan berkembangnya tren hidup sehat dan popularitas diet bebas gluten, permintaan produk bebas gluten pun meningkat di Kawasan Eropa Tengah, seperti Jerman dan Hongaria.

Contohnya di Budapest, ibu kota Hongaria, produk kemasan berlabel bebas gluten dapat dengan mudah ditemukan di swalayan. Sebagian produk bebas gluten tersebut merupakan impor dari negara tetangga. Bahkan, kota ini menyelenggarakan festival tahunan Mentes, berkonsep healthy life style dan salah satunya mengusung label bebas gluten. Festival ini diikuti oleh UMKM dari berbagai negara Eropa, dan banyak ditemukan produk-produk organik dan bebas gluten dari Jerman dan Italia.

Potensi Ekspor


Hingga saat ini, Indonesia belum maksimal dalam mengelola singkong dan melihat potensi ekspor produk bebas gluten. Padahal, Indonesia bisa menjadi salah satu mitra alternatif untuk memenuhi permintaan produk bebas gluten dengan harga yang lebih terjangkau. Ekspor olahan singkong tersebut dapat menjadi salah satu penyumbang nilai ekspor Indonesia.

Sebenarnya pengolahan singkong sebagai alternatif produk bebas gluten telah dilakukan oleh beberapa pelaku bisnis Indonesia. Sejumlah UMKM melihat tren diet bebas gluten sebagai potensi dan memanfaatkan singkong sebagai alternatif terigu dalam memproduksi kue kering, roti, donat, pizza, bahkan mie.

Penambahan lahan singkong diharapkan dapat meningkatkan kembali popularitas tanaman pangan lokal yang tergeser akibat impor gandum. Program lahan singkong dari pemerintah seharusnya dapat memberikan peluang bagi UMKM untuk mengolah produk bebas gluten dan melakukan giat ekspor.

Harga yang Kompetitif


Pelaku usaha dan pemerintah harus dapat melihat potensi pasar gluten free di Eropa Tengah. Melihat karakteristik masyarakat Eropa Tengah yang sangat tertarik dengan produk gluten free, tentu Indonesia memiliki peluang besar terhadap produk olahan singkong.

Selain itu, olahan singkong bisa menjadi opsi produk bebas gluten dengan harga yang kompetitif di pasar Eropa Tengah. Dalam giat ekspor tersebut, tentu perlu identifikasi regulasi dan sertifikasi yang diperlukan bagi pelaku usaha, misalnya pemberian label bebas gluten maupun organik terhadap produk olahan singkong dapat menjadi strategi promosi dan pemasaran Indonesia.

Tentunya peran pemerintah sangat penting dalam mendorong pemanfaatan singkong sebagai produk UMKM. Misalnya, melakukan diseminasi terkait potensi ekspor, menyediakan pelatihan dan edukasi, memberikan informasi market research, serta memfasilitasi ekspor ke negara mitra. Promosi internasional juga dibutuhkan untuk meningkatkan awareness masyarakat internasional terhadap produk bebas gluten berbahan singkong.

Perlu menjadi catatan bahwa Indonesia memiliki beragam bahan pangan potensial lainnya untuk diolah menjadi produk bebas gluten, misalnya saja tepung beras, tepung kentang, tepung pati garut, dan lain-lain Ke depan, pemerintah dapat mengembangkan program perluasan lahan terhadap tanaman pangan lainnya, tidak hanya terpaku pada singkong.

Adelina Nur Rahmasari Staf Direktorat Eropa II Kementerian Luar Negeri


(mmu/mmu)