Kolom

Biden-Harris dan Kepemimpinan Menghadapi Covid-19

Sudirman Nasir - detikNews
Kamis, 19 Nov 2020 11:43 WIB
President-elect Joe Biden joins Vice President-elect Kamala Harris on stage Saturday, Nov. 7, 2020, in Wilmington, Del. (AP Photo/Andrew Harnik, Pool)
Joe Biden-Kamala Harris (Foto: Andrew Harnik/AP)
Jakarta -

Akhirnya Joe Biden dan Kamala Harris dinyatakan memenangkan pemilihan presiden-wakil presiden Amerika Serikat (AS), mengalahkan pasangan petahana Donald Trump dan Mike Pence. Angka keramat 270 electoral vote akhirnya dicapai Biden-Harris. Lalu, apa dampak kemenangan Biden-Harris khususnya bagi kepemimpinan Amerika menghadapi pandemi Covid-19?

Dampak kemenangan pasangan yang diusung Partai Demokrat ini cukup besar dalam mengubah pendekatan pemerintah AS menghadapi pandemi. Kebijakan dan pendekatan pemerintahan Trump-Pence dalam menghadapi Covid-19 sangat ditandai dengan sikap anti-sains dan anti-ilmu pengetahuan serta kepakaran (expertise). Pasangan dari Partai Republik ini menganggap remeh bahaya Covid-19 dan mengabaikan rekomendasi para ilmuwan, seperti perlunya menjaga jarak dan memakai masker.

Trump-Pence juga menolak perlunya kebijakan pemerintah federal untuk mendorong pemakaian masker secara luas (mask mandate) ke seluruh wilayah negara bagian di negeri adidaya itu. Berkali-kali Trump bahkan mengecam para ilmuwan dan profesional kesehatan yang ia anggap membesar-besarkan bahaya Covid-19. Trump malah sempat mengancam akan memecat Dr. Anthony Fauci, salah satu ilmuwan biomedis terkemuka AS dalam menghadapi Covid-19.

Fauci sebagai ilmuwan tentu kukuh menyatakan bahwa sains adalah modal terbaik dalam menghadapi pandemi ini dan tegas menyatakan pentingnya tindakan pencegahan seperti menjaga jarak dan memakai masker, dua hal yang sangat sering diabaikan pasangan Trump-Pence termasuk selama masa kampanyenya.

Sebaliknya, Biden-Harris selama masa kampanye dan juga ketika berpidato menyatakan kemenangannya senantiasa menekankan pentingnya sains dalam upaya mengatasi Covid-19. Biden-Harris juga disiplin menggunakan masker dan mengimbau menjaga jarak selama berkampanye di banyak kota dan negara bagian.

Dalam pidato kemenangan pasangan ini, peran sains dan saintis (ilmuwan) juga berkali-kali ditekankan. Tindakan pencegahan utama seperti menjaga jarak dan memakai masker terus didengungkan sambil membangkitkan harapan bahwa kemajuan sains biomedis saat ini memungkinkan penemuan vaksin dalam jangka waktu lebih cepat dibandingkan dasawarsa lalu.

Sains, Kebaikan, Harapan

Biden-Harris berkali-kali menyebut tiga kata kunci yang akan mewarnai strategi mereka menghadapi Covid-19, yakni Science, Decency, Hope --Sains, Kebaikan, Harapan. Menurut mereka, Covid-19 tidak bisa dihadapi dengan ketidaktahuan atau ketidakpedulian pada sains, ketakutan, keputusasaan. Covid-19 adalah fenomena yang bisa dipahami dan dihadapi dengan mengandalkan ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan menyediakan pemahaman mengenai masalah ini dan juga aneka cara untuk menghadapinya. Sains terkait Covid-19 memang belum sempurna, namun terus berkembang. Manfaat menjaga jarak dan memakai masker dapat dihitung, begitu pula risiko bila tidak mematuhi kedua tindakan pencegahan dasar tersebut.

Sains mampu menghitung bahwa kebijakan Trump-Pence menghadapi Covid-19 telah mengakibatkan ratusan ribu korban nyawa. Sejumlah pemodelan menunjukkan bahwa antara 130 sampai 230 ribu nyawa bisa diselamatkan di AS seandainya Trump-Pence lebih mendengarkan rekomendasi para ilmuwan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam menghadapi pandemi.

Selain sains, Biden-Harris menyebut perlunya decency atau kebaikan di tingkat individu maupun masyarakat. Ini menekankan bahwa Covid-19 adalah masalah dan tanggung jawab bersama dan karena itu kita sebagai individu maupun anggota masyarakat harus turut berperan melakukan tindakan pencegahan untuk keselamatan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Tidak melakukan tindakan pencegahan adalah sebuah perilaku buruk dan tidak bertanggung jawab --membahayakan diri sendiri sekaligus orang lain dan masyarakat.

Kedua hal di atas menurut Biden-Harris akan memperbesar harapan (hope) bagi Amerika dan juga dunia untuk mengatasi pandemi Covid-19. Sejarah umat manusia memang menunjukkan bahwa banyak pandemi atau wabah besar pernah terjadi namun berakhir, cepat atau lambat. Era modern saat ini yang ditandai perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi membuat harapan untuk mengatasi pandemi menjadi lebih besar.

Kembalinya Peran AS

Peran AS dalam kepemimpinan global menghadapi Covid-19 tetap sangat penting. AS betapapun adalah negara adidaya dengan sumber daya manusia, sains, teknologi, ekonomi, dan politik yang masih amat besar. Keteladanan AS tetap sangat penting.

Apalagi, berbeda dengan Trump-Pence yang cenderung isolasionis, Biden-Harris mengutamakan kerja sama multilateral dan internasional. Sesuatu yang sangat penting dalam menghadapi wabah yang bersifat mendunia seperti Covid-19. Preseden seperti itu terlihat misalnya ketika dunia menghadapi pandemi HIV/AIDS di mana peran AS sangat penting. Begitu pula ketika terjadi wabah Ebola beberapa tahun lalu.

Akhirnya, banyak orang di dunia bernapas lega setelah mengetahui berita kemenangan Biden-Harris. Ini salah satu tanda kembalinya AS pada peran tradisionalnya sebagai negara adidaya setelah selesainya Perang Dunia II yang bertumpu ada multilateralisme yang sempat meredup selama 4 tahun di bawah Trump-Pence. Semoga kerja sama global menghadapi Covid-19 semakin menguat.

Sudirman Nasir dosen-peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, meraih PhD dari School of Population and Global Health The University of Melbourne

(mmu/mmu)