Kolom

Pandemi dan Pertaruhan Angkatan Kerja Muda

Kadek Swarniati - detikNews
Rabu, 18 Nov 2020 12:00 WIB
Para pencari kerja yang didominasi fresh graduate memadati Indonesia Career Expo (ICE) di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (14/10). Bursa kerja yang berlangsung sampai Sabtu (15/10) diikuti 150 perusahaan dari berbagai sektor industri.
Sebuah career expo yang dipadati kaum muda (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis pada 5 November 2020 mengungkap bahwa ancaman kesempatan kerja yang dialami para fresh graduate, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 20,46 persen, jauh lebih tinggi dibanding kelompok umur lainnya. Tak hanya pelik bagi kelompok penduduk muda, fenomena ini tak ayal juga menjadi ancaman bagi Indonesia.

Wabah virus corona agaknya membawa seluruh penjuru negeri ke fase ketika perekonomian berjalan sangat lamban dan kian mengkhawatirkan. Pandemi ini tak pelak juga menyumbang pergerakan sosial yang kian merenggang. Kebijakan-kebijakan yang diperuntukkan pada pencegahan penyebaran virus rupanya menggiring pasar tenaga kerja ke fase krusial. Perjanjian kontrak sementara terjadi secara jamak.

Lebih dari itu, pemutusan hubungan kerja menjadi hal yang marak diterapkan. International Labour Organization (ILO) memperkirakan total penurunan jam kerja sebesar 17.3% pada kuartal kedua 2020 (relatif terhadap kuartal keempat 2019) untuk semua pekerja full-time di seluruh dunia. Lebih lanjut, ILO mengestimasi hilangnya pendapatan pekerja hingga 3,5 triliun dolar AS atau 5,5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) global untuk tiga kuartal pertama 2019.

DKI Jakarta yang menyandang posisi sebagai pusat industri tadinya merupakan harapan bagi tidak sedikit angkatan kerja. Namun, harapan itu lantak lantaran pandemi. Memasuki bulan ke-9 pandemi Covid-19 di Indonesia, Jakarta masih menjadi episentrum penyebaran wabah. Hingga 7 November, situs resmi Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mencatat jumlah kasus Covid-19 di Provinsi DKI Jakarta mencapai 107.846 jiwa, tertinggi di antara provinsi lainnya.

Sejalan dengan itu, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), DKI Jakarta menjadi provinsi dengan TPT tertinggi pada Agustus 2020, yang mencapai 10.95 persen. Angka ini sekaligus menempatkan DKI Jakarta sebagai provinsi dengan kenaikan TPT tertinggi dari tepat setahun sebelumnya yaitu Agustus 2019, dengan total kenaikan TPT mencapai 4,41 persen.

Tantangan Kaum Muda

Bercermin dari krisis ekonomi sebelum-sebelumnya, siapa lagi jika bukan lulusan baru yang akan mendapat pukulan terhebat dari badai pandemi ini. Situasi ekonomi yang kian lemah diperkirakan akan menggeser puluhan ribu kaum muda masuk menjadi bagian youth not in employment, education or training (NEET).

Rilis BRS data Angkatan Kerja BPS menjelaskan ketakutan ini nyata adanya. Menurut BPS, pada Agustus 2020, TPT penduduk kelompok umur muda (15-24 tahun) adalah TPT tertinggi yang mencapai 20,46 persen. Sementara, TPT penduduk kelompok umur tua (60 tahun ke atas) merupakan yang paling rendah, yaitu sebesar 1,70 persen.

Kendati mengejutkan, banyak hal menjelaskan fenomena ini. Kaum muda di negara berkembang dan maju merupakan mayoritas pekerja di sektor perdagangan grosir dan eceran, akomodasi, dan jasa makanan, yang paling terdampak oleh pandemi. Pola ini pun diperparah oleh kenyataan bahwa pekerja muda cenderung bekerja di industri jasa yang rentan dipengaruhi oleh kebijakan physical distancing.

Dengan kata lain, pasar tenaga kerja kaum muda dicirikan oleh tingkat pekerjaan yang lebih tinggi dalam peran yang menghadapi konsumen secara langsung. Hal ini membuat kaum muda lebih rentan kehilangan pekerjaan dan mengalami pengurangan jam kerja.

Selama pandemi, pemilik usaha mungkin cenderung memberhentikan pekerja kaum muda karena berbagai alasan terkait budaya industri, sifat pekerjaan, dan struktur biaya. Dalam industri yang membutuhkan pengetahuan spesifik mengenai perusahaan, pekerja muda dengan masa kerja yang baru sebentar biasanya belum memiliki pengetahuan yang cukup yang dapat menghindarkan mereka dari PHK.

Ancaman Bonus Demografi

Bukan hal yang asing lagi bahwa bangsa ini menaruh harapan besar pada penduduk muda. Dengan proporsi penduduk usia produktif yang mendominasi komposisi penduduk Indonesia pada 2020-2030, anak muda diharapkan menjadi penggerak utama pembangunan di masa yang akan datang (BPS, 2019). Kaum muda adalah tulang punggung bangsa ini, dengan masing-masing menanggung penduduk usia non produktif di keluarganya.

Lebih dari itu, pada masa pandemi ini, korban meninggal akibat Covid-19 sebagian besar adalah penduduk usia non-produktif. Berdasarkan analisis data Covid-19 Indonesia per 1 November 2020 oleh Satgas Penanganan Covid-19, kelompok umur 60 tahun ke atas masih menyandang persentase tertinggi kematian akibat Covid-19 yakni mencapai 14,26%. Kelompok umur selanjutnya dengan persentase kematian akibat Covid-19 tertinggi adalah 46-59 tahun.

Grafik yang berbentuk U menarasikan bahwa risiko kematian kembali naik pada balita usia 0-5 tahun. Dengan kata lain, penduduk usia non produktiflah yang lebih berisiko mengalami kematian akibat wabah ini. Hal ini, meski tidak terlalu kentara, akan mengubah struktur umur penduduk Indonesia, memperbesar lagi proporsi penduduk usia muda yang membuat piramida penduduk makin menggembung di bagian tengah.

Artinya, sekali lagi, bila kelompok penduduk muda yang sangat besar ini kurang berkualitas baik pendidikan maupun pekerjaannya, maka alih-alih menjadi harapan, malah akan menjadi beban bagi Indonesia.

Berusaha meraih bonus demografi, selama beberapa tahun sebelum pandemi muncul, Indonesia sudah berjuang melakukan perbaikan di segala sisi. Namun, memastikan penduduk muda mengenyam pendidikan berkualitas dan mendapat lapangan kerja yang layak menjadi tantangan yang semakin sulit digapai di tengah pandemi. Kegagalan mendapatkan dua hal tersebut dapat mengancam peluang mencapai bonus demografi, pun akan kesulitan menanggung beban penduduk muda yang belum dapat mandiri.

Investasi pada Kaum Muda

Kendati resesi ekonomi dan masalah ekonomi lainnya sangat menakutkan, ganjalan yang dihadapi pekerja muda saat ini tidak dapat dianggap remeh. Berinvestasi pada kaum muda untuk pekerjaan yang layak dan berkelanjutan harusnya menjadi prioritas saat ini.

Pelbagai kebijakan sangat perlu untuk diperkuat seperti meningkatkan keterampilan kaum muda, memperkuat keterlibatan sipil, serta mempertemukan para pengusaha, organisasi pemuda, masyarakat sipil, pendidik, dan otoritas lokal untuk menyesuaikan kurikulum pendidikan yang dibutuhkan saat ini dan memperluas program magang.

Menghubungkan pemuda ke sektor swasta dan pekerjaan pemerintah dan peluang kewirausahaan juga patut diperjuangkan. Semua pihak harus turut andil dalam mendukung kebijakan ekonomi makro pemerintah untuk merangsang ekonomi dan menciptakan lapangan kerja secepat mungkin, sehingga dapat meningkatkan prospek pekerjaan para kaum muda saat ekonomi pulih nanti.

Kadek Swarniati Fungsional Statistisi pada Badan Pusat Statistik

(mmu/mmu)