Kolom

Pesona Sang Habib yang Tak Pudar

Purnama Ayu Rizky - detikNews
Selasa, 17 Nov 2020 10:34 WIB
Dampak Penjemputan Habib Rizieq
Ilustrasi: tim infografis detikcom
Jakarta -

Tetangga kami, sebut saja Karjo, mendatangi suami saya pada suatu sore dengan muka masam. Sebelum suami tanya kenapa mukanya berkerut berlipat-lipat, dengan spontan ia langsung nyerocos, "Boleh enggak pinjam uang, lima puluh juta rupiah saja?"

"Buat apa?" tanya suami kaget. Biar bagaimanapun, pada masa pandemi sekarang, yang lockdown tak hanya kota Jakarta, tapi perusahaan ikut lockdown, dan gaji bulanan pun disunat sana-sini dengan dalih efisiensi.

"Buat jaga-jaga bayar denda ke pemerintah."

Saya yang mencuri dengar di belakang ingin tertawa, tapi tampaknya Karjo tak bercanda. Baginya yang hidup di tengah keluarga besar dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur, mengundang para kerabat di acara mantu anak bungsunya adalah kewajiban yang pantang dilanggar jika tak mau kualat tujuh turunan.

"Demi menjaga kerukunan keluarga dan menghindari kecemburuan sosial," ungkapnya.

Sebelum Habib Rizieq kembali, Karjo santai saja membayangkan akan menggelar pernikahan anak ala kadarnya di masjid, rumah, atau Kantor Urusan Agama (KUA). Ia bisa berdalih ke keluarga besarnya: "Maaf, sedang pembatasan sosial berskala besar di Jakarta." Namun, ia berubah pikiran sejak 10 November 2020.

Pembuktian

Hari itu adalah pembuktian bahwa pesona imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu tak luntur kendati mendekam tiga tahun lamanya di Arab Saudi. Begitu pemerintah mengumumkan Rizieq pulang pada Hari Pahlawan, ribuan orang dari berbagai penjuru pun ikut menjemput "pahlawannya" itu di Bandara Soekarno Hatta.

Tak usah dibayangkan mereka tertib menjaga protokol kesehatan dengan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak minimal satu meter. Massa berjubel hingga membuat sejumlah ruas di Jakarta lumpuh saat itu. Maklum, para pengikut Rizieq berharap bisa memuntahkan kerinduannya setelah ulama itu hanya menjadi "mitos" di media massa kita.

Pengikut Rizieq juga memadati markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat. Bahkan, pada malam setelah kedatangannya, Rizieq yang mestinya masih menjalani karantina mandiri didatangi oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Beberapa elite Partai Keadilan Sejahtera pun ramai-ramai sowan ke rumahnya.

Namun, bukan itu yang jadi sumber kegundahan Karjo sesungguhnya. Ia kesal karena pemerintah DKI Jakarta memberi keleluasaan bagi Rizieq untuk menghelat acara perayaan Maulid Nabi Muhammad dan mantu anak perempuannya, Minggu (15/11), seraya mengundang puluhan ribu orang. Kendati secara administratif, ia disanksi Rp 50 juta karena tak mengindahkan imbauan pemerintah, tapi itu tak otomatis membuat potensi penyebaran Corona jadi tertahan karenanya.

Jika Karjo kesal karena pelanggaran Rizieq akan jadi preseden bagi warga Jakarta "berada" lainnya untuk menggelar acara akbar serupa hanya dengan membayar denda, saya punya kekesalan lainnya. Saya termasuk yang hingga kini masih takut keluar rumah karena kondisi pandemi. Tetangga saya belum lama terjangkit Corona, sehingga kewaspadaan pun berlipat dua.

Masalahnya, belum tuntas kekesalan itu, Rizieq juga mengumumkan akan menggelar konsolidasi ke daerah-daerah se-Indonesia demi mempopulerkan gagasan Revolusi Akhlak. Jangankan melokalisasi potensi wabah di satu kota, cita-cita besar Rizieq justru akan membuat wabah Corona bisa jadi kian tak terkendali.

Pertanyaannya, kenapa pemerintah diam dan permisif? Kenapa pemerintah takut bersikap tegas pada Rizieq?

Triumvirat Baru

Sebagai informasi, hingga tulisan ini dibuat, total kasus Corona di Indonesia mencapai 467 ribu, dengan kematian lebih dari 15.000 jiwa. Membandingkan penanganan Corona dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam, Indonesia lebih banyak gagap melakukan langkah mitigasi. Contoh kongkretnya, pembiaran Satgas COVID-19 pada hajatan akbar Habib Rizieq sendiri menjadi sinyalemen buruk bahwa pemerintah memang tak mau serius mengatasi persebaran Corona.

Ada alasan kenapa pemerintah keder meminta Rizieq untuk patuh pada aturan. Sebelum bertolak ke Arab Saudi tiga tahun silam, Rizieq adalah aktor penting dalam rimba politik Indonesia, terutama ketika tren isu agama kerap dijadikan sebagai alat untuk memobilisasi politik.

Buktinya, Rizieq sukses menjungkalkan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dalam Pemilihan Gubernur DKI 2016 lewat kasus penistaan agama. Memanfaatkan isu agama adalah jurus yang sakti, apalagi ditambah kendaraan ormas FPI yang setia padanya. Pada akhirnya, gerakan populisme kanan, yang salah satunya didukung Rizieq, 212 pun menjadi salah satu kekuatan politik yang tak bisa dianggap remeh, meskipun kini sudah terpecah-pecah.

Rizieq juga kemungkinan ditakuti karena berhasil memompa dukungan yang besar untuk condong pada Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dan 2019.

Pesona Rizieq tak pudar. Ia adalah ikon oposisi yang akan terus vokal pada rezim. Kekuatannya saat ini bahkan mungkin bisa menandingi triumvirat politik Indonesia: Jokowi, PDIP, dan polisi. Namun, sebaiknya ia berhati-hati dengan ketokohannya di bidang agama, agar tak dimanfaatkan untuk mengolah isu-isu politik pula. Sama berhati-hati pula dengan seruan agar ia maju di Pilpres 2024.

Bukankah lebih baik mengurus umat dan akhlaknya, Habib?

Purnama Ayu Rizky penulis, editor, peneliti yang tengah merampungkan studi S2 Politik di UI

(mmu/mmu)