Kolom

Bersiap Hadapi Dampak La Nina

Azsep Kurniawan - detikNews
Senin, 16 Nov 2020 15:10 WIB
BMKG La Nina
Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta -

La Nina sudah melanda Indonesia. Ibarat permainan, saat ini baru fase awal. Namun, di beberapa daerah sudah serius terkena dampaknya. Prediksi BMKG menyebut puncak La Nina akan jatuh pada Desember 2020 hingga Januari 2021. Meski belum fase puncak, pada Oktober sudah sering terjadi hujan lebat yang terbentang dari Aceh hingga Papua. Fenomena La Nina diprediksi akan menyebabkan peningkatan akumulasi hujan 20-40% di atas normal curah hujan bulanan di Indonesia.

Sektor pertanian harus bersiap menghadapi fenomena La Nina. Maklum, sektor pertanian menyumbang tertinggi pertumbuhan ekonomi nasional yang sedang mengalami perlambatan. Sektor pertanian tumbuh positif 16,24 % pada Kuartal II - 2020, sementara ekonomi nasional terjun hingga minus 5,32 % pada periode tersebut.

Kenaikan Harga

Curah hujan yang tinggi mulai mengerek kenaikan harga pangan. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) mencatat kenaikan beberapa komoditas strategis. Pada pasar tradisional per 27 Oktober 2020, kenaikan komoditas tertinggi dipimpin oleh harga cabai merah keriting sebesar 1,2%. Harga tertinggi cabai merah keriting terjadi di Sorong sebesar Rp 70.000 per kg dan harga terendah terjadi di Yogyakarta sebesar Rp 26.250 per kg.

Bawang merah juga mengalami kenaikan sebesar 0,43%. Tertinggi, harga bawang merah di Jayapura sebesar 53.000 per kg dan terendah di Bima sebesar Rp 20.000 per kg. Komoditas strategis seperti beras, telur, minyak goreng terpantau masih belum bergerak. Kenaikan harga pangan ini tidak serta-merta mengindikasikan kenaikan permintaan. Namun, lebih karena suplai yang mulai menurun. Ada persoalan di tingkat produksi.

Stok hasil panen raya, seperti cabai, pada Juni-Juli 2020 sudah mulai berkurang. Akibatnya harga cabai mulai merangkak naik. Panen raya bawang merah pada Agustus-September lalu mendapatkan hasil yang bagus, namun stok semakin menipis. Ke depan rasanya akan sulit mendapatkan hasil yang sama pada periode tanam berikutnya.

Curah hujan yang tinggi bisa mengancam terjadinya gagal panen. Kondisi lembab menjadi pemicu jamur penyebab penyakit berkembang biak. Jamur Colletotrichum capsica dituding sebagai penyebab penyakit antraknose (patek) pada tanaman cabai. Kalau sudah terkena jamur ini sulit diobati. Solusinya hanya dicabut. Tidak hanya itu, bakteri yang menjadikan tanaman menjadi layu juga akan banyak muncul.

Di tengah kondisi pandemi yang belum berakhir, tren kenaikan harga pangan pasti akan semakin membebani rumah tangga, terutama masyarakat menengah ke bawah. Pada Kuartal III (Juli-September) tingkat konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi minus, namun lebih baik daripada Kuartal II (April-Juni) yang terkontraksi cukup dalam minus 5,32%. Kondisi ekonomi rumah tangga masih pada masa sulit ini jangan dibebani lagi dengan kenaikan harga pangan.

Antisipasi

Pemerintah sudah mempunyai resep mujarab mengantisipasi dampak La Nina. Ada tujuh langkah dari Kementerian Pertanian dalam menghadapi fenomena La Nina. Yakni mapping wilayah sistem banjir, early warning system dan rutin pantau informasi BMKG, pembentukan tim, rehabilitasi jaringan irigasi, pemilihan varietas tahan genangan, asuransi pertanian dan pemanfaatan alat pengering/dryer (detikcom, 26/10).

Apa yang dilakukan pemerintah harus diikuti pula langkah di tingkat bawah. Upaya alternatif yang bisa dilakukan masyarakat sebelum harga pangan makin meroket adalah memaksimalkan pekarangan rumah. Kalau selama ini pekarangan rumah belum bisa produktif, maka mulai sekarang harus lebih produktif. Kalau selama lama ini hanya diisi oleh berbagai tanaman hias, karena lagi booming, maka bisa ditambahkan pula tanaman semusim yang lebih produktif.

Berbagai tanaman sayuran dan tanaman obat keluarga bisa menjadi penghuni utama pekarangan rumah. Polybag, kaleng bekas, atau barang bekas lain bisa menjadi tempat budidaya secara intensif. Jika satu pohon cabai menghasilkan 5-6 ons, maka kalau kita mempunyai 20 pohon bisa menghasilkan sekitar 10 kg untuk satu kali musim. Tinggal dikalikan saja dengan harga cabai sekarang. Itu baru satu komoditas, baru satu keluarga. Toh kalau tidak dijual pun tidak apa. Minimal kebutuhan cabai untuk kebutuhan rumah tangga bisa terpenuhi.

Benar adagium "tanam yang kita makan dan makan apa yang kita tanam". Bukan berarti kemudian semua harus menjadi petani. Minimal setiap rumah tangga harus bisa berproduksi. Ketika berproduksi tentu akan mendapatkan pendapatan, minimal mengurangi pengeluaran. Selanjutnya, melakukan belanja konsumsi, sisanya baru menjadi tabungan. Setiap konsumsi harus diimbangi dengan produksi.

Alternatif lain yang bisa dilakukan masyarakat adalah penganekaragaman pangan. Bisa dalam bentuk substitusi komoditas yang mempunyai kandungan gizi yang sama atau dalam bentuk olahan lain dengan teknologi pengawetan pangan. Saat beras mahal bisa diganti atau dicampur dengan jagung seperti yang dilakukan sebagian masyarakat Madura. Bentuk olahan awetan cabai sudah banyak di pasaran; ini bisa menggantikan kebiasaan pemakaian cabai secara langsung. Pada Juli-Agustus stok cabai melimpah, bisa dijadikan olahan seperti sambal, abon, flake yang lebih awet.

La Nina sebagai fenomena alam tidak perlu kita cemaskan. Tak perlu juga kita lawan. Yang terpenting bagaimana kita bisa berdamai dengannya. Mempersiapkan diri dengan mengoptimalkan lahan pekarangan dan mengubah kebiasaan dengan penganekaragaman pangan merupakan langkah kompromi yang bisa kita lakukan saat ini. Mumpung belum semua harga pangan melambung tinggi.

Azsep Kurniawan alumnus Fakultas Pertanian UGM

(mmu/mmu)