Kolom

Pandemi Corona dan Drama "Terra Incognita"

Jusman Dalle - detikNews
Senin, 16 Nov 2020 14:00 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Jeremy namanya. Ia pilot salah satu maskapai penerbangan di Indonesia. Sejak tujuh bulan terakhir Jeremy tak lagi terbang membelah langit bersama si burung besi yang saban hari ia tunggangi. Jeremy dirumahkan.

Keputusan pahit itu ia peroleh melalui memo internal perusahaan. Kini, sang pilot kehilangan pendapatan. Ia biasanya mengantongi take home pay Rp 70 juta per bulan. Namun sejak Mei, pendapatannya cuma dari gaji pokok sebesar Rp 7 juta per bulan.

Nominal itu memang jauh di atas UMR. Namun faktanya, pendapatan dari gaji pokok saja tidak mampu menutupi seluruh kebutuhan hidup Jeremy. Sebelum pandemi terjadi, Jeremy punya banyak kewajiban bulanan. Cicilan KPR di kawasan elit, kredit mobil jenama Eropa keluaran anyar, arisan tas dan sepatu fashion bintang lima, dan sederet tagihan yang menopang gaya hidupnya.

Kisah tak kalah dramatis dialami Narto. Seorang karyawan travel agent yang kerap membawa turis lokal dan mancanegara berlibur ke Pulau Bidadari, Pulau Pari, dan beberapa destinasi di gugus Pulau Seribu. Sepekan setelah pengumuman Covid-19, telepon di kantongnya tidak pernah lagi berdering. Sejak April, kantor Narto di kawasan Ancol, Jakarta Utara tutup, tak beroperasi sama sekali.

Kini, anak muda yang baru setahun menikah itu menggantungkan hidup dari lakon baru, laundry sofa dan cuci kasur panggilan. "Untungnya saya punya keterampilan ini, Pak. Dulu pernah ikut pelatihan di BLK. Akhirnya kepakai juga sekarang. Kondisi kepepet," tutur Narto sembari mengeringkan sofa yang telah selesai ia vakum.

Pendapatannya memang cuma cukup buat bayar kontrakan. Untuk makan, ia mengandalkan derma. Karena tidak tercatat dalam data pemerintah, Narto mengajukan bantuan sembako bulanan kepada salah satu yayasan sosial yang terafiliasi dengan sebuah lembaga donor Australia.

Jeremy dan Narto adalah wajah dunia kita saat ini. Kisah yang rasanya amat dekat. Bahkan mungkin kita saksikan secara langsung. Jutaan manusia kehilangan pekerjaan. Bahkan kesulitan makan. Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat, 195 juta orang terkena badai PHK hingga Kuartal II - 2020.

Di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat sebanyak 25 juta orang kehilangan pekerjaan akibat Covid-19. Angka-angka itu terus menanjak mengikuti grafik durasi pandemi.

Wabah Covid-19 telah mengubah dunia secara instan. Revolusioner. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hanya dalam hitungan hari, virus ganas itu mengacaukan tatanan kehidupan dari tingkat global hingga ke unit terkecil, keluarga. Semua orang terdampak, tingkat tekanan saja yang berbeda.

Mengukur seberapa besar dan seberapa dalam dampak pandemi Covid-19 terhadap berbagai sektor kehidupan adalah satu hal. Namun merumuskan kebijakan yang tepat dan akurat merupakan hal lain yang tidak kalah penting. Masalahnya, belum ada formula yang tepat untuk menemukan dua hal ini.

Wilayah Asing Tak Dikenal

Masa-masa pandemi Corona mengingatkan kita pada kisah tentang terra incognita. Sebuah lema yang diintroduksi oleh Claudius Ptolemaeus untuk menggambarkan wilayah asing tak dikenal. Secara imajiner, wilayah itu mirip dengan situasi yang kita hadapi saat ini.

Ptolemaeus adalah seorang ilmuwan Romawi yang tertarik pada astronomi, geografi, dan matematika. Ia mencoba memetakan bumi menggunakan teknik pengumpulan data pada saat itu. Tentu saja tidak berbasis big data atau geo tag ala Global Positioning System (GPS) yang berkembang dewasa ini. Ptolemaeus mewawancarai tentara Romawi yang menguasai seperempat dunia.

Selebihnya, Ptolemaeus mendapatkan informasi dari para musafir yang berhasil ia jumpai. Ptolemaeus kemudian menggambar peta berdasarkan keterangan-keterangan itu. Untuk wilayah yang belum tersentuh, Ptolemeus menamainya terra incognita. Wilayah asing dan tak dikenal.

Akibat pendemi, dunia terjebak di wilayah terra incognita. Banyak misteri yang belum terpecahkan. Para ilmuwan dan pemerintah misalnya, kebingunan merumuskan formula menyelamatkan ekonomi sekaligus menekan penyebaran virus. Pelaku bisnis kesulitan membaca perubahan perilaku dan pola konsumsi yang berubah drastis.

Semua serba buram. Sulit dikenali. Dalam situasi menantang ini, diperlukan langkah bersama. Bergandengan tangan, berkolaborasi untuk memecahkan masalah. Kita tidak bisa menyerahkan semuanya kepada otoritas pemerintah yang juga kebingungan. Tapi apa yang dapat kita lakukan?

Bagi Organisasi Kerjasama Ekonomi Dunia (OECD), persoalan yang tengah kita hadapi merupakan momentum untuk mendorong munculnya inovasi-inovasi solusi sosial yang baru. Gerakan sosial ekonomi selalu menempatkan kepedulian sosial dan lingkungan sebagai jantung model bisnis. Mereka didorong oleh misi untuk melayani kebaikan bersama, melindungi kepentingan umum, dan meningkatkan kesejahteraan komunitas dengan pendekatan berbeda.

Gerakan ini,misalnya dikembangkan oleh Thankyou, social enterprise yang menawarkan benefit dua arah, yaitu nilai kegunaan (utility values) kepada para konsumen produk Thankyou dan nilai sosial (social values) kepada masyarakat yang mendapatkan bantuan. Bisnis sosial ini tidak "meminta sumbangan", namun menjual produk kebutuhan harian --menciptakan transaksi nilai.

Thankyou diketahui menghasilkan berbagai kebutuhan sehari-hari dan menjual ragam produknya secara komersial. Mereka terjun langsung ke industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang dikenal sarat persaingan. Keuntungannya digunakan untuk meringankan berbagai masalah sosial. Pendekatan Thankyou agak unik.

Mengapa ide social enterprise di sektor FMCG ini inovatif? Harus diakui, pandemi mengakibatkan banyak badan amal yang terhambat menyalurkan sumbangan. Pasalnya, pengumpulan donasi tersandung Covid-19 dan krisis ekonomi.

Menurut survei anyar Charities Aid Foundation America, 94% badan amal mengatakan bahwa mereka telah terpengaruh secara negatif oleh Covid-19. Lebih dari 70% menghadapi penurunan sumbangan yang signifikan.

Artinya, memang harus ada pendekatan baru dalam mengalang donasi. Model sumbangan langsung menjadi kurang relevan untuk saat ini. Karena itu, pendekatan yang ditawarkan oleh Thankyou dengan ikut menyelami potensi FMCG menjadi sebuah terobosan inovatif.

Meski terdampak pandemi, belanja konsumen untuk kebutuhan harian tidak berubah secara signifikan. Bila pun terkoreksi tidak bakal dramatis. Miliaran manusia tetap membutuhkan sabun, tisu, pasta gigi, dan aneka consumer goods lainnya. Mengutip Trading Economics, belanja konsumen Indonesia pada Kuartal II mencatatkan angka Rp 1.387 triliun.

Bila social enterprise seperti Thankyou berhasil mengambil 1% pangsa pasar itu, maka ada Rp 13 triliun anggaran sosial yang bergulir dari sektor FMCG --cuma dalam satu kuartal. Kini Thankyou bahkan menjajaki kolaborasi sosial yang lebih luas dengan dua raksasa FMCG, P&G dan Unilever. Tujuan akhir dari ide ini adalah untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem.

Dalam berbagai situasi, peran dan kiprah lembaga sosial sangat dibutuhkan. Terlebih di tengah krisis seperti sekarang. Kisah Jeremy dan Narto yang tiba-tiba terhempas ke wilayah terra incognita mungkin tidak bisa dijangkau oleh pemerintah. Tapi, uluran tangan berbagai gerakan sosial yang terus berlayar dengan sekoci penolong di tengah samudera pandemi bisa menyelamatkan mereka.

Data anyar Bank Dunia yang dirilis pada awal Oktober menyebut sepertiga atau 90 juta penduduk Indonesia kurang makan akibat pandemi. Padahal, menurut BPS jumlah penduduk miskin Indonesia sebanyak 26 juta jiwa. Artinya, selama tujuh bulan terakhir angka kemiskinan naik lebih dari 300%.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah yang juga menghadapi tekanan fiskal dari berbagai arah. Karena itu, gerakan-gerakan sosial yang menjamur harus diorkestrasi sebagai suplemen solusi kolaboratif untuk keluar dari wilayah terra incognita.

Jusman Dalle Direktur Eksekutif Tali Foundation dan praktisi ekonomi digital

(mmu/mmu)