Kolom

Mengenalkan Perbedaan Melalui Buku Cerita Anak

Titah - detikNews
Minggu, 15 Nov 2020 11:22 WIB
nawila
Ilustrasi: sampul buku cerita anak-anak karya Reda Gaudiamo
Jakarta -

"Willa itu Kristen ya, Bun?" tanya anak perempuan saya yang berumur delapan tahun. "Soalnya di rumahnya ada pohon cemara," sambungnya.

"Oh iya, Willa beragama Nasrani," jawab saya setelah sejenak mengingat siapa Willa yang dia maksud.

"Kenapa agamanya nggak Islam?" tanyanya lugu.

"Memangnya kenapa kalau nggak Islam, nggak apa-apa kan?" saya agak mengernyit.

"Ya nggak apa-apa sih."

Ya, Willa adalah tokoh buku cerita anak-anak berjudul Na Willa yang saya belikan melalui toko buku online beberapa waktu lalu. Na Willa yang berumur lima tahun tinggal di sebuah gang di Surabaya dan berteman dekat dengan anak-anak yang beragama Islam. Diceritakan oleh penulisnya, Reda Gaudiamo dengan sudut pandang keriaan tahun '80-an, ketika hubungan antara anak-anak belum tersekat-sekat oleh narasi agama seperti kasus yang banyak terjadi di era sekarang ini.

Pertanyaan anak perempuan saya itu membuat saya jadi teringat masa kecil. Pada umur yang sama dengan anak saya ketika itu, pertanyaan-pertanyaan semacam itu seingat saya tak pernah terlontar dari mulut saya, bahkan terpikir pun tidak. Saya berteman dengan siapa saja tanpa pernah mempermasalahkan agama mereka apa. Begitupun dengan teman-teman saya yang berlainan agama. Jadi wajar saya merasa agak "wow" mendengar kalimat-kalimat anak saya. Ada apa dengan anak-anak saya?

Namun setelah saya pikir kembali, sepertinya anak saya tidak salah juga melontarkan pertanyaan seperti itu. Karena memang dia merasa asing. Iya, karena ternyata selama ini buku-buku cerita yang saya belikan untuknya selalu menceritakan sang tokoh beragama Islam. isi ceritanya pun kebanyakan hampir seragam. Isinya lebih banyak mengenai ajaran-ajaran bagaimana menjadi anak yang salihah, menurut pada orangtua, suka menolong teman, bagaimana menutup aurat dengan benar, dan yang mirip-mirip seperti itu.

Oh, tidak. Tolong jangan salah paham bahwa saya tidak suka dengan isi buku yang lebih banyak mengisi rak buku khusus anak-anak tersebut. Buku-buku yang berisi ajaran-ajaran yang bersifat normatif seperti itu tetap diperlukan. Hanya saja saya merasa kurang dini mengenalkan anak saya dengan konsep "perbedaan" yang salah satunya bisa diperoleh melalui buku cerita. Bukannya saya tidak ingin membelikan untuknya, namun memang buku-buku cerita untuk anak-anak yang ada di rak-rak toko buku baik offline maupun online jarang sekali yang menyediakan jenis cerita seperti yang saya inginkan, seperti Na Willa misalnya.

***

Kasus-kasus intoleransi menyangkut kebebasan beragama dan berkeyakinan masih saja marak terjadi di negara kita ini. Imparsial bahkan mencatat ada 31 kasus sepanjang 2019. Contoh salah satu kasus terbaru adalah pembubaran acara syukuran pernikahan di kota Solo oleh sebuah ormas karena dituduh sedang melakukan ritual ibadah syiah. Masih banyak contoh kasus lain seperti penolakan kelompok warga salah satu desa di Yogyakarta terhadap seseorang yang berlainan agama yang ingin tinggal di desa tersebut di mana mayoritas penduduknya beragama islam. Kasus pemotongan nisan dengan lambang salib, juga pembubaran paksa acara sedekah laut.

Sedangkan kasus-kasus yang melibatkan anak-anak tak kalah memprihatinkan. Masih ingat kan, kasus pawai yang melibatkan anak-anak di mana mereka berteriak "bunuh, bunuh" sambil memakai pakaian yang identik dengan identitas muslim? Kemudian ada anak-anak PAUD yang diajari untuk menyanyikan yel-yel "islam, islam yes; kafir, kafir no!" padahal yel-yel yang asli berbunyi "islam, islam yes!"

Lies Marcoes dalam sebuah penelitian menemukan bahwa memang ada guru yang menanamkan sikap intoleransi kepada anak didiknya. Kemungkinan besar ini adalah ulah oknum saja, namun ketika pendidik yang melakukannya, maka ini harus menjadi perhatian semua pihak. Mengapa? Karena selain keluarga, sekolah seyogianya menjadi tempat nilai-nilai tentang kebhinekaan seharusnya ditanamkan sejak dini.

***

Meningkatnya kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang berbasis agama tentu juga harus disambut positif. Hanya saja kemudian ada sisi yang kadang terlupakan bahwa anak-anak juga perlu dikenalkan akan perbedaan. Bahwa ada banyak anak-anak lain di luar sana yang mempercayai Tuhan yang berbeda dari yang kita percayai, dan mempunyai ritual ibadah yang berbeda pula.

Mengapa sih saya begitu merasa harus mengenalkan kepada anak-anak tentang perbedaan? Karena saya merasa memang anak-anak kurang terpapar dengan itu. Sebagai pemeluk agama Islam di negara ini jelas kami mayoritas. Di sekolah juga semua homogen. Pun dalam lingkup keluarga besar kami baik dari pihak saya maupun suami tidak ada yang beragama lain. Walaupun kami tinggal di sebuah kompleks yang lumayan heterogen, namun tidak terlalu berarti karena jarang sekali ada anak yang seumuran dengan anak-anak kami sehingga mereka hanya sebatas hanya "tahu" saja.

Yang paling mudah menurut saya untuk anak-anak ya salah satunya melalui buku-buku cerita tadi, yang sayangnya sangat jarang ditemukan. Apakah dulu pada tahun ketika saya seumur mereka buku-buku cerita anak juga membahas pentingnya toleransi? Oh, tidak! Dulu saya punya buku-buku cerita hampir satu lemari penuh, tapi seingat saya tak ada satu pun yang menekankan akan toleransi, pentingnya kebhinekaan, dan lainnya. Apakah waktu itu tidak ada kasus-kasus intoleransi? Saya rasa pasti ada, hanya saja karena keterbatasan akses informasi sehingga kasus-kasus semacam itu tidak ter-blow up.

Saya rasa, pada era banjir informasi seperti sekarang ini ketika anak-anak bisa begitu mudah mendapatkan akses terhadapnya, para penulis dan penerbit perlu memperbanyak isi rak buku anak-anak dengan buku-buku cerita yang menggambarkan tentang indahnya hidup dalam perbedaan. Tentang bagaimana asyiknya berinteraksi dengan anak-anak lain yang berbeda keyakinan tanpa harus menjadi mereka, misalnya. Termasuk di dalamnya buku-buku pelajaran untuk anak-anak usia Sekolah Dasar khususnya. Bagaimana seharusnya Dinas Pendidikan memperbanyak muatan berisi realitas multikultural yang memang menjadi gambaran kehidupan kita sehari-hari. Hal ini bisa disampaikan lewat buku-buku pelajaran melalui cerita-cerita yang dekat dengan keseharian anak-anak, sehingga diharapkan akan membawa keterpaparan anak-anak terhadap keyakinan yang berbeda sejak dini.

Terlebih lagi di tengah-tengah masa pandemi seperti sekarang, ketika anak-anak lebih banyak berada di rumah dan kurang terpapar secara sosial, buku-buku cerita yang mempunyai spirit keberagaman akan menciptakan dunia multikultural tersendiri dalam alam imajinasi mereka. Menurut saya hal ini amatlah penting mengingat banyaknya kasus-kasus intoleransi yang berlatar belakang agama. Mengapa? Supaya nantinya mereka tidak dengan mudah menganggap mereka yang berbeda sebagai liyan yang derajatnya lebih rendah sehingga pantas untuk disingkirkan. Tentunya kita tak ingin melihat generasi yang akan datang melanjutkan tradisi buruk generasi sebelumnya yang mudah menuduh sesat, bidah bahkan kafir terhadap orang-orang yang berbeda.

Titah ibu rumah tangga, pemerhati masalah-masalah sosial, tinggal di Semarang

(mmu/mmu)