Kolom: Obituarium

Empat Karya Monumental Rahayu Supanggah

Aris Setiawan - detikNews
Jumat, 13 Nov 2020 15:40 WIB
Rahayu Supanggah
Rahayu Supanggah (Foto: dok. ISI Surakarta)
Jakarta -
Pada 2014, beberapa karya monumental Rahayu Supanggah mendapatkan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (Kategori Seni Pertunjukan) dari pemerintah. Saya dipercaya menyusun ulang konsep kekaryaan karya-karya itu sebagai salah satu persyaratannya.

Barangkali tidak banyak dari kita yang mengetahui karya-karya bermutu dari Rahayu Supanggah. Maklum, selama ini sosoknya lebih sering berkarya di luar negeri, berkolaborasi dengan banyak seniman andal lintas bidang di pelbagai penjuru dunia. Apabila ada pertanyaan, apa karya-karya terbaik dari Rahayu Supanggah sehingga dirinya layak disebut sebagai seorang komposer kelas dunia, berikut adalah empat karya terpilih itu.

I La Galigo

Pada 24-25 April 2011, untuk pertama kalinya teater tari berjudul I La Galigo dipentaskan di Benteng Rotterdam, Makassar. Pentas itu karya sutradara kelas dunia, Robert Wilson. I La Galigo merupakan adaptasi dari manuskrip Sureg Galigo yang berisi tentang hikayat asal-usul orang Bugis, Sulawesi Selatan dan merupakan karya penting sastra dunia. Di dalamnya terdapat beberapa episode, banyak lokasi, dan ratusan karakter.

Rhoda Grauer, yang mengadaptasikan ke dalam naskah drama menyebut bahwa di setiap episode dari serat kuno tersebut kaya akan tokoh hebat; hubungan sosial yang mengharukan, lucu, dan inventif; kelakar heroik; adegan cinta yang luar biasa; serta sihir dan tindakan heroik para tokohnya. Pementasan teater itu sukses besar. Selain karena narasi penyutradaraannya yang bagus, musik juga digarap dengan epik.

Rahayu Supanggah adalah orang di balik keberhasilan musik itu. Ia menjadi komposer, melakukan penelitian panjang terkait budaya suku Bugis, dan menghasilkan suara eksploratif yang sarat lapis-lapis makna.

Selanjutnya, teater ini tampil di Explanade Theathres on The Bay, Singapura; Tour Eropa, Het Muziek Theathre, Amsterdam, Belanda; Forum Universal de Les Cultures, Teatro Liure, Madrid, Spanyol; Les Nuits de Fourviere Rhone, Lyon, Prancis; dan Ravena Festival Teatro Alighieri, Ravena, Italia). Selain itu, I La Galigo juga dipentaskan di Lincoln Centre Festival, New York; Teater Tanah Air, Jakarta; Melbourne International Art Festival, Australia; Teatro de Archimboldi, Milano, Italia; serta di Taipe International Festival, Taiwan. Pada setiap pertunjukan, dengan tiket yang dijual Rp 3,5 juta, selalu dibanjiri penonton.

Opera Jawa

Opera Jawa (2006) adalah film musikal yang disutradarai oleh Garin Nugroho dengan mengambil episode lakon Sinta Obong (epos Ramayana). Rahayu Supanggah terlibat sebagai penata musiknya. Film berdurasi sekitar 2 jam ini terdapat 70 komposisi musik yang diciptakan oleh Supanggah, dengan variasi yang berbeda sesuai konteks adegan. Banyak di antaranya berupa komposisi pendek berdurasi sekitar 1 hingga 3 menit dengan karakter yang berbeda-beda.

Komposisi musiknya murni menggunakan gamelan, dengan karya berbingkai tradisi yang pekat. Sebelum membuat musik, Supanggah melakukan riset tentang opera ataupun film-film musikal seperti Opera Barat, Opera Peking, ataupun jenis-jenis seni pertunjukan Jawa yang bergaya operatik seperti Langendriyan, Langen Mandrawanara, Langen Mandra Rini dan bentuk-bentuk musik tari atau drama musikal lainnya.

Film Opera Jawa memberikan porsi musik sangat besar terutama dalam pengembangan tradisi karya gamelan. Kerja keras Supanggah mengantarkan musik film Opera Jawa banyak diapresiasi. Bahkan Opera Jawa dalam format seni pertunjukan dipentaskan keliling dunia. Opera Jawa memberi satu kejutan bahwa detak film atau gelaran yang mengambil setting kebudayaan tradisi masih diminati oleh pasar.

Puncaknya, lewat karya Opera Jawa, Rahayu Supanggah mendapat penghargaan sebagai komposer terbaik dalam gelaran Festival Film Indonesia (2006) dan juga mendapat penghargaan sebagai Best Composer, Asian Film Festival, Hong Kong pada 2008.

Sakti

Rahayu Supanggah terpilih mewakili komponis musik Indonesia untuk mengikat tema lima perupa (Albert Yonatan, Eko Nugroho, Entang Wiharso, Sari Astari, Titarubi) yang melangsungkan pameran di Bienial Venesia ke-55 di Italia (November 2013). Ia menjadi komponis pertama Indonesia yang berpentas di gelaran seni rupa kelas dunia. Komposisi musiknya berjudul Sakti, sesuai dengan tema paviliun Indonesia di pameran tersebut.

Musik Sakti melepaskan diri dari dikotomi bunyi dan rupa. Otomatis, tidak menjadi bagian yang asing dari pameran tersebut. Sebaliknya, justru mampu memberi "roh" dan "senyawa" agar bentuk dan (seni) rupa yang ditampilkan memiliki kesan kuat tentang biangkai keindonesiaan. Apabila para perupa menerjemahkan makna Sakti dalam karya rupa mereka, maka Rahayu Supanggah melakukan hal serupa. Musik Sakti adalah hasil interpresati mendalam, menemukan satu titik temu, merajut karya rupa menjadi satu karya bunyi.

Di forum tersebut, tidak henti-hentinya Rahayu Supanggah mendapat ucapan selamat atas penampilannya yang memukau. Efek dari karya Sakti, paviliun Indonesia saat itu 'kebanjiran' penonton yang berupaya menikmati dan memadukan dua episentrum seni yang berbeda (bunyi dan gambar). Harga tiket untuk dapat menyaksikan pameran dan musik Sakti adalah Rp 450 ribu.

Karya Sakti diproses ulang untuk pementasan mandiri di beberapa gelaran seni internasional. Yakni di Esplanade Concert Hall Singapura pada 29 Agustus 2014, Turki, dan Inggris.

Purnati

Karya musik Purnati merupakan salah satu karya Rahayu Supanggah yang dimainkan oleh kelompok Kronos Kwartet pada 2009. Purnati menjadi tonggak karya musik Rahayu Supanggah semakin mendunia, terutama dalam konteks musik mandiri (konser, tanpa bertaut dengan seni lain seperti teater, film, maupun tari).

Rahayu Supanggah menjadi satu-satunya komponis dari Indonesia yang mendapatkan kesempatan karyanya dibawakan oleh salah satu kelompok musik paling berpengaruh di dunia. Ia sadar bahwa Kronos Kwartet berangkat dari budaya musik Barat yang kuat. Dan karena kesadaran itu pula, Supanggah mencoba memberi warna lain dengan menghadirkan karya yang justru lekat bercitarasa gamelan (lewat instrumen gender dan kempul).

Ia membuat Purnati bukannya tanpa risiko. Kronos Kwartet pada awalnya kesulitan membawakan karya Supanggah, karena yang diacu bukan lagi pada ketat notasi, tapi pada komunikasi musikal ala pengrawit Jawa. Akibatnya, Purnati memunculkan kejutan-kejutan yang senantiasa tak terduga dalam setiap pementasannya. Karena karya ini pula nama Rahayu Supanggah dicatatkan sebagai musisi Indonesia yang mampu menembus dunia musik (kontemporer) dunia.

Karya Purnati dipentaskan di Ann Hamilton's Tower Oliver Rench, Geyserville, California pada 24 Oktober 2009. Di gelaran pada hari itu, gedung pertunjukan penuh sesak oleh penonton.

Tentu masih banyak karya-karya Rahayu Supanggah lainnya, terutama dalam musik gamelan Jawa. Empat karya di atas adalah gambaran singkat tentang beberapa karyanya yang mendapatkan apresiasi luar biasa dari dunia. Namun Rahayu Supanggah kini telah pergi untuk selamanya (10 November 2020), pada usia ke-71 tahun, karena sakit yang dideranya. Dunia musik berduka.

Rahayu Supanggah meninggalkan sejengkal kenangan tentang anak desa yang berhasil menaklukkan dunia lewat karya-karya musiknya. Selamat jalan, Profesor Rahayu Supanggah!

Aris Setiawan Pengusul Kekayaan Intelektual Luar Biasa (Kategori Seni Pertunjukan) untuk Rahayu Supanggah 2014

(mmu/mmu)