Kolom

Berseminya Ruang Kesederhanaan Kita

Muhammad Hidayat Chaidir - detikNews
Jumat, 13 Nov 2020 13:00 WIB
Ilustrasi Keluarga
Foto ilustrasi: Shutterstock
Jakarta -

Ibu Fatma, sebut saja namanya demikian, sungguh bahagia tatkala menyaksikan perubahan perilaku anak perempuannya beberapa bulan terakhir ini. Anak semata wayang yang kini menginjak usia dewasa itu sudah lebih dari tujuh bulan mengikuti sekolah daring (online). Kesempatan bertatap muka langsung baik dengan guru maupun teman kelasnya harus beralih ke layar laptop.

Dulu sebelum kebijakan sekolah daring ditetapkan oleh pemerintah untuk menekan laju penyebaran Covid-19, Ibu Fatma serius memperhatikan gerak-gerik putrinya yang peka akan penampilan. Dan, mulai memikirkan soal perawatan wajah/diri sebagaimana anak perempuan lain yang seusia dengannya.

Kondisi itu hampir saja membuat Ibu Fatma putus asa. Kesempatan mendidik anaknya menjadi pribadi yang bersahaja, tampil sederhana, tak berorientasi pada aksesoris semata, sesak tak menyisakan ruang. Sementara bagi sang anak, pola-pola hidup orang zaman dulu tak relevan lagi untuk merespons kehidupan yang menyertai tumbuh kembangnya sekarang.

Tetapi, di tengah amukan pandemi yang belum jelas ujungnya ini, harapan itu seolah menemukan jalan terangnya. Kecenderungan sang anak untuk memoles diri dan penampilan akhirnya pelan-pelan hilang seiring berjalannya waktu. Jika waktu belajar tiba, tak ada lagi persiapan yang berjam-jam hanya untuk memakai bedak dan seperangkat alat make-up lainnya, sebagaimana saat ia akan ke luar rumah atau ke sekolah.

Demikian juga halnya dengan pakaian, yang sekarang dipikir walau seadanya yang penting sopan dan nyaman. Bagi Ibu Fatma, pengalaman ini ibarat rahmat Tuhan yang tersembunyi (blessing in disguise) di balik malapetaka pandemi ini. Sebab walau bagaimana pun, tampil sederhana serta tak bersembunyi di balik aksesoris merupakan elemen penting untuk mencapai kebahagiaan hidup.

***

Hari ini, saya yakin di tengah kita ada banyak Ibu Fatma yang sedang berjuang mendidik buah hati mereka. Segenap pribadi mulai sadar bahwa segala macam aksesoris yang menempel pada diri bukanlah segalanya. Apalagi jika sampai ada yang beranggapan bahwa semua itu berpotensi mengangkat status sosial di tengah masyarakat. Menurut saya inilah salah kaprah yang terus dipelihara.

Ketahuilah bahwa jiwa dan perilaku hidup sederhana sesungguhnya tak ada hubungannya dengan hidup berkecukupan atau sebaliknya. Sebagian dari masyarakat kita menganggap bahwa jika mereka tampil apa adanya, secara tak langsung itu mengabarkan bahwa mereka punya daya beli yang lemah. Stigma itu akan menghantui hari-hari mereka sehingga apa pun akan dilakukan demi menangkal pandangan sesat itu.

Bicara soal daya beli, katakanlah fenomena ini tak jadi soal bagi mereka yang telah mapan secara finansial. Kita bisa menyebutnya sebagai pilihan sikap hidup seseorang. Sebab, tiap individu berhak punya pilihan-pilihan merdeka terkait cara menampilkan citra dirinya. Kita wajib menaruh hormat di situ.

Masalahnya, bagaimana dengan mereka yang misal kata belum berkecukupan secara finansial? Kemampuan daya beli yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan dasar malah dipakai untuk pengadaan perlengkapan make-up tadi itu. Dari sini muncul semacam disorientasi terkait cara kita memandang hidup. Pribadi yang terjepit dalam situasi seperti ini jelas akan sulit melepaskan diri dari cara pandang sosial yang diyakininya.

Fenomena ini semakin kuat oleh berkembangnya dunia fashion, sebut saja dari penampilan hingga tata rias wajah. Suka atau tak suka, para remaja yang menuju usia dewasa akan didorong oleh rasa penasaran yang tinggi untuk mencoba hal-hal tersebut. Sikap peduli akan tata rias wajah dan berdandan ketika akan ke luar rumah begitu dekat dengan keseharian mereka.

Sebagai contoh, barang-barang seperti lipstik, bedak, eyeliner, maskara, softlens, hingga body lotion kini menjadi teman baik yang wajib menyertai ke mana pun mereka pergi. Jika satu di antaranya kelupaan misalnya, keresahan akan membersamai mereka sepanjang hari. Lalu berujung pada hilangnya kepercayaan diri.

Entah seberapa parah kondisi generasi hari ini dalam menghamba pada aksesoris, kewajiban orangtua untuk menjelaskan minimal apa bedanya antara keinginan dan kemampuan. Bahwa gairah untuk memiliki sesuatu harus disesuaikan dengan kemampuan.

Pemahaman bahwa kesederhanaan hidup merupakan esensi dalam menghadirkan hidup dan kehidupan yang damai lagi bersahaja harus terus digelorakan. Memang tampil sederhana dan apa adanya tak gampang, di tengah gelombang gaya hidup masyarakat zaman sekarang. Orang bisa hilang kepercayaan dirinya bukan karena tak bisa, tapi karena tak punya. Aneh kan, tapi itulah kenyataan.

Mengenai sekolah daring, barangkali bukan cuma warga belajar yang menyederhanakan penampilan, tapi juga para pendidik yang melakoninya. Formulasi menuju pribadi yang sederhana tumbuh dan berkembang di masa pandemi ini. Hari-hari membuat kita semakin sadar akan hakikat keinginan dan kebutuhan. Fokus kita pada esensi, dan mulai keluar dari penjara fisikal-material. Karena jika yang menonjol hanya aspek luarnya saja (aksesoris), terlebih ego, itu artinya kita masih berpijak pada aspek-aspek yang sifatnya simbolik.

***

Kesederhanaan bukan berarti kita tak mampu. Berpenampilan apa adanya juga tak ada hubungannya dengan kemampuan kita secara finansial. Ini adalah sikap atau pilihan hidup yang bisa disebut proporsional. Nilai-nilai inilah yang wajib ditanamkan kepada anak-anak kita sejak dini --itu tugas dan kewajiban para orangtua.

Kodrat manusia lahir dengan tak memiliki apa-apa (aksesoris), selanjutnya akan pulang dengan kondisi yang sama. Meminjam istilah Ki Hadjar Dewantoro, pendidikan bermaksud menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Kesederhanaan akan melahirkan ketenangan serta kebahagiaan, dan kebahagiaan menumbuhkembangkan kebermaknaan. Bukankah kebermaknaan sikap kita merepresentasikan iman kita? Profesor Komaruddin Hidayat menyebutkan bahwa iman bekerja dalam ranah batin, sebagai penggerak inner power dari keseluruhan perilaku kita. Sehingga pilihan untuk hidup senderhana dan tak menghamba pada material semata merupakan bagian dari spirit keagamaan yang mulia.

Pandemi ini telah menuntun kita pada perilaku hidup yang berbeda. Kehadirannya mampu mengasah kepekaan kita untuk mengutamakan hal-hal yang sifatnya substantif, bukan casing. Masa yang sulit ini telah membangunkan nalar sehat kita untuk merespons arus budaya yang hampir tak lagi punya sekat-sekat yang pasti. Jika situasi dan kondisi telah normal kembali seperti sedia kala, masihkah kita akan hidup bersahaja atau penampilan sederhana? Masihkah jutaan Ibu Fatma konsisten mendidik anaknya menjadi individu yang sederhana?

Muhammad Hidayat Chaidir pendidik asal Dompu

(mmu/mmu)