Kolom

Selamat Hari Ayah: Jadilah "Stay Home Dad"

Sri Kuswayati - detikNews
Jumat, 13 Nov 2020 11:31 WIB
Infografis spesial hari Ayah
Ilustrasi: Mia Kurnia Sari
Jakarta -

Hari Ayah yang diperingati setiap tanggal 12 November di Indonesia terbilang baru kehadirannya. Hari ayah nasional lahir atas prakarsa Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP). Saat itu baru saja diperingati Hari Ibu oleh PPIP dengan mengadakan lomba menulis surat kepada ibu di Solo, yang digelar pada 2014.

Ide peringatan hari ayah secara nasional kemudian muncul karena adanya keinginan peserta lomba menulis surat pada Hari Ayah. Melalui kajian panjang akhirnya tanggal 12 November ditetapkan sebagai Hari Ayah Nasional.

Cinta Pertama

Ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Saya pribadi memiliki banyak kenangan indah bersama ayah. Dia adalah sosok yang sangat mencintai keluarganya. Ayah rela membantu pekerjaan ibu di ranah domestik. Ayah juga ikut mendampingi mengerjakan PR. Ayah sosok yang setia pada ibu. Ayah is my hero.

Setiap akhir pekan, ayah yang bekerja sebagai staf di pabrik tekstil, sibuk dengan setumpuk cucian. Saat itu tidak ada mesin cuci; ayah menggosok tumpukan pakaian kami sembari bernyanyi. Rupanya, bukan hanya ayah saja yang melakukan hal itu, tetangga di sebelah juga. Kondisi sekitar membuat ayah mempunyai teman satu visi, yakni ayah yang tak lupa diri. Ayah yang lekat dengan keluarga. Bahkan ayah sering membuat nasi goreng saat libur tiba --kelezatannya masih terasa.

Bagaimana dengan ayah yang hilang keberadaannya di rumah? Ayah yang memilih hidup bersama keluarga barunya dan lupa pada tanggung jawab? Ayah yang sering melukai hati istri dan anak-anaknya? Tentu dalam hal ini adanya peringatan Hari Ayah hanya akan membuka luka.

Sebagaimana sejarah kelahiran Hari Ayah di Indonesia, sejatinya hari tersebut lahir untuk memberikan penghormatan, sekaligus mengembalikan kedudukan ayah pada fungsi dan perannya. Hal ini untuk mengingatkan para ayah yang sudah menyimpang dari relnya --menjadikan ibu sosok individu yang dieksploitasi, membuat anak tak memiliki jati diri.

Ayah yang lupa diri hanya menempatkan posisi sebagai mesin penghasil uang. Ukuran keberhasilannya menghidupi keluarga secara finansial membuat makin arogan. Keberadaan ayah semacam ini sungguh mengenaskan.

Menentukan Arah

Kedudukan ayah sebagai pemimpin keluarga tentu sangat menentukan arah dan pola perilaku yang berjalan dalam keluarga. Ibu sebagai pendidik utama anak-anak tentu sosok hasil bentukan ayah. Ibu tidak mungkin bisa melakukan banyak hal termasuk memperoleh pencapaian prestasi yang hebat tanpa dukungan ayah. Ibu adalah pendidik dan ayah sebagai "kepala sekolah" lingkup rumah tangga.

Ketika ayah menjalankan perannya secara benar, dalam hal ini tidak melulu hanya fokus pada pemberian nafkah lahiriah saja, maka akan tercipta keseimbangan dalam rumah tangga. Ayah tahu benar bahwa ia turut berperan dalam arah kebijakan pendidikan anak, tidak menyerahkan sepenuhnya pada ibu. Ayah yang paham posisi ini akan lebih lekat hubungannya dengan keluarga. Ia akan banyak berbagi peran dalam rumah bersama ibu. Ayah mulai mengambil posisi sebagai bapak rumah tangga.

Apakah menjadi bapak rumah tangga adalah hal yang memalukan? Apakah menjadi bapak rumah tangga adalah wujud kelemahan? Tentu jika dikembalikan pada kedudukan suami istri beserta hak dan kewajibannya, hal ini merupakan wujud kesadaran ayah akan peran yang dimainkan.

Perlu digarisbawahi bahawa istilah bapak rumah tangga bukan berarti menjadi suami yang melepas tanggung jawab nafkah pada istri. Dewasa ini semakin banyak laki-laki yang melakoni tugasnya sebagai bapak rumah tangga atau Stay Home Dad. Mereka adalah pria yang bersedia terlibat dalam pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Mereka paham peran bahwa Stay Home Dad akan meningkatkan kecerdasan anak dan keharmonisan keluarga.

Ayah model ini akan membuat hatinya tetap berada di rumah, hingga paham akan besar tanggung jawab yang diemban. Jika pada akhirnya takdir memisahkan ayah dan ibu untuk membina keluarga baru, sosok ayah tidak akan lupa pada anak-anak yang dimiliki dari pernikahan sebelumnya.

Meningkatkan Peran

Kondisi pandemi yang memunculkan kabijakan work from home selayaknya mampu meningkatkan peran ayah dalam membantu ibu di ranah domestik, serta pendidikan dan pengasuhan anak. Kondisi ini diperkuat jika terdapat peran ibu yang juga turut berkarir, ayah harus rela turun tangan menjadi stay home dad.

Keberadaan stay home dad pada masa pandemi akan turut menurunkan stres ibu yang mengemban tugas menggantikan guru dengan adanya kebijakan school from home. Ada pembagian tugas antara ayah dan ibu membuat pekerjaan lebih ringan. Untuk hal ini setiap keluarga pasti memiliki pola yang unik dikaitkan dengan jam kerja kantor masing-masing. Keluarga terawat, karier tetap melesat.

Peran media yang lebih sering menyuarakan perihal stay home dad sangat diperlukan. Bagaimanapun budaya patriarki yang mengakar kuat tidak akan mudah menerima hal ini tanpa adanya edukasi. Pilihan menjadi bapak rumah tangga bukan semata lahir dari tuntutan kaum ibu, melainkan dari kesadaran dan wujud kepedulian para ayah akan masa depan keluarga dan bangsa tercinta. Selamat Hari Ayah Nasional 2020!

Sri Kuswayati dosen

(mmu/mmu)