Kolom

Hari Kesehatan Nasional 2020 dan Pandemi Covid-19

Tjandra Yoga Aditama - detikNews
Kamis, 12 Nov 2020 16:30 WIB
candra yoga
Prof Tjandra Yoga Aditama (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Hari ini 12 November 2020 adalah Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-56. Tema HKN kali ini adalah "Satukan Tekad Menuju Indonesia Sehat" dan sub-temanya "Jaga Diri, Keluarga dan Masyarakat, Selamatkan Bangsa dari Pandemi Covid-19".

Kalau kita lihat sejarah, HKN ditetapkan tanggal 12 November karena Presiden Sukarno melakukan penyemprotan malaria secara simbolis pada 12 November 1959, bertempat di desa Kalasan, Yogyakarta. Penyemprotan itu bermaksud mencegah penyakit malaria, dan Presiden Sukarno menyemprotnya di dalam rumah penduduk karena memang nyamuk pembawa parasit malaria dapat hinggap di dinding rumah.

Catatan sejarah itu dapat dihubungkan dengan situasi sekarang setidaknya melalui tiga hal. Pertama, ketika itu malaria menjadi masalah kesehatan penting di Indonesia, sementara kini COVID-19 menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, dan bahkan di dunia.

Kedua, penyemprotan yang dilakukan Presiden Sukarno adalah untuk mencegah malaria, sementara mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker adalah upaya mencegah tertular COVID-19. Hal ini juga sesuai dengan Tema HKN tahun ini untuk menuju Indonesia Sehat, karena pada dasarnya pencegahan penyakit dalam kerangka upaya promotif dan preventif merupakan modalitas utama menuju masyarakat dan bangsa yang sehat.

Ketiga, malaria dapat menulari seseorang di luar rumah dan juga di dalam rumah, demikian juga hal nya dengan COVID-19 yang kita kenal dengan kluster perumahan. Artinya, walau di dalam rumah kita tetap harus melakukan upaya pencegahan yang baik agar tidak tertular COVID-19.

Ada satu aspek penting lagi yang menghubungkan kegiatan penyemprotan malaria pada 12 November 1959 dengan peringatan HKN 2020, yaitu mengingatkan kita semua bahwa walaupun konsentrasi penuh sekarang ini sedang tertuju ke penanggulangan COVID-19, tetapi penyakit lain seperti malaria, tuberkulosis, demam berdarah, dan lain-lain juga tetap merebak di bumi Nusantara dan perlu ditangani juga.

Sudah banyak laporan ilmiah yang membahas bagaimana di berbagai belahan dunia ini penanganan penyakit lain jadi terkendala karena semua sumber daya dan perhatian diarahkan ke COVID-19. Di sisi lain, sebenarnya kita juga dapat melihat semacam opportunity, misalnya bagaimana kalau penanggulangan tuberkulosis (yang juga menyerang paru-paru) dapat berjalan seiring dengan pengendalian COVID-19, seperti arahan Presiden Jokowi beberapa waktu yang lalu.

Selain itu masyarakat juga khawatir dan membatasi kontak dengan fasilitas pelayanan kesehatan, baik klinik, Puskesmas, maupun rumah sakit. Penanganan penyakit tidak menular (PTM), seperti diabetes melitus dan kanker jadi mengalami hambatan. Masyarakat mungkin tidak leluasa untuk melakukan check up rutin tekanan darahnya, atau gula darahnya , dan lain-lain sehingga dapat saja keadaan penyakitnya jadi tidak terkontrol baik.

Harus diingat juga bahwa berbagai PTM ini merupakan penyakit penyerta (ko-morbid) yang dapat mempermudah penularan dan memperberat penyakit COVID-19, dan bahkan meningkatkan risiko kematian pula. Hal lain, tindakan medik seperti pembedahan juga mungkin agak terganggu karena rumah sakit di suatu ketika amat disibukkan dengan pasien COVID-19. Belum lagi juga ada masalah kesehatan seperti stunting, atau bagaimana menjamin agar imunisasi rutin tetap berjalan, program keluarga berencana tetap berjalan baik, dan lain-lain.

Harus diingat pula bahwa kita sekarang memasuki musim penghujan, dan kalau lihat tren epidemiologi tahun-tahun yang lalu, mungkin saja demam berdarah akan naik., Juga ada tantangan penyakit akibat musim pancaroba lain yang semuanya harus diantisipasi sejak sekarang.

Kita ketahui bahwa sejak kasus pertama kita di Maret 2020 sampai data kemarin, sehari sebelum HKN, sudah ada 448 ribu kasus COVID-19 dan 14.836 kematian di Indonesia. Data dunia bahkan sudah lebih dari 52 juta kasus dan 1,28 juta kematian. Hal ini tentu membuat kita prihatin dan semua pihak berupaya maksimal untuk menanggulangi pandemi ini. Hanya saja, dengan kompleksnya masalah kesehatan, seyogianya kita juga tetap memberi perhatian penuh pada pengendalian penyakit yang lain, baik menular maupun tidak menular, serta menangani berbagai masalah kesehatan lain yang ada di masyarakat.

Semua perlu dilakukan untuk mencapai Indonesia Sehat, seperti dambaan kita semua pada Hari Kesehatan Nasional 2020.

Prof Tjandra Yoga Aditama Guru Besar Paru FKUI, mantan Direktur WHO SEARO dan mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

(mmu/mmu)