Kolom

Menata Kembali Pendidikan Informal

Ahman Sarman - detikNews
Kamis, 12 Nov 2020 11:50 WIB
TEROPONG PENDIDIKAN INFORMAL
Jakarta -
Pendidikan informal merupakan pendidikan tanpa pengakuan tertulis (ijazah, sertifikat) tetapi turut berpengaruh pada pendidikan formal dan non formal. Dikatakan demikian karena dasar kesuksesan pendidikan formal dan non formal ditopang oleh pendidikan informal. Seseorang yang sukses pendidikan formalnya diakibatkan oleh tertatanya pendidikan informal. Oleh sebab itu, peran orangtua sebagai guru inti dalam pendidikan informal menjadi penentu juga.

Mari kita tengok hal-hal berikut ini. Pertama, begitu banyak peserta didik yang gagal menyelesaikan pendidikan formalnya atau berhenti bersekolah sebelum tamat. Kedua, banyak peserta didik menyelesaikan pendidikan formalnya, namun seolah tidak mendapat apa-apa selama ia menjadi peserta didik. Ketiga, tidak pernah menikmati pendidikan formal. Ketiga permasalahan tersebut jika ditelusuri lebih jauh penyebabnya adalah terbengkalainya pendidikan informal.

Pengaruh bisa saja berasal dari; pertama, terjadi masalah serius dalam keluarga (kedua orangtua memiliki masalah internal, cerai, pisah tempat tinggal yang terlalu lama, dan lain-lain). Kedua, terlalu sibuknya orangtua yang mengakibatkan kurangnya komunikasi persuasif secara intensif. Ketiga, lemahnya pengawasan oran tua terhadap pendidikan non formal, lingkungan, dan pertemanan. Keempat, tingginya didikan untuk prospek mencari kerja daripada bersekolah, sehingga sekolah dianggap sebagai tempat mencari ijazah saja.

Tentu masih banyak fenomena yang turut berpengaruh dalam pendidikan informal, namun secara garis besar setiap peserta didik yang bermasalah pendidikan formalnya dipengaruhi oleh retaknya pendidikan informal sebagaimana telah diuraikan. Tampaknya pendidikan informal yang baik berasal dari keluarga yang baik-baik.

Keluarga yang baik bukan berarti keluarga sejahtera dengan perekonomian keluarga yang mapan, tetapi keharmonisan dalam manajemen organisasi keluarga berjalan dengan baik. Ada waktu luang yang banyak untuk memberikan didikan secara intensif, pengajaran atau pembelajaran perlakuan baik dalam setiap tingkah laku, pembelajaran bertutur kata dengan mengedepankan aspek sopan santun daripada aspek komunikatif, tahu menempatkan diri dalam ranah keluarga, dan menjadi cerminan keluarga yang baik di masyarakat. Didikan-didikan itu berjalan terus-menerus hingga seorang anggota keluarga membentuk keluarga baru lagi (menikah).

Adat istiadat, budaya, dan kebiasaan baik menjadi bingkai kokoh serta sebagai kurikulum pendidikan informal. Semua anggota keluarga dibentuk dengan hal itu. Dalam setiap aktivitas pun selalu berpedoman pada adat istiadat, budaya, dan kebiasaan keluarga yang sifatnya turun-temurun. Jangan heran ketika negara memperbincangkan revolusi mental dan karakter anak bangsa, sasaran utamanya adalah memperkuat kembali pendidikan informal.

Kadang jalan pintas yang diambil yakni menekan pendidikan formal untuk membentuk karakter dengan memodifikasi budaya yang berlaku secara umum. Hal itu dilakukan karena negara meyakini pendidikan informal berhasil membentuk kepribadian, keterampilan, dan kedewasaan seseorang dalam setiap aktivitasnya.

Ada mimpi buruk yang kini dilanda oleh para pemimpin keluarga. Keberhasilan mereka setelah dididik berpuluh-puluh tahun oleh orangtua mereka, tidak lagi ditularkan kepada anggota keluarganya setelah mereka menjadi pemimpin keluarga. Hal itu disebabkan oleh kesibukan bertubi-tubi untuk mengurus persoalan kerja. Sebagiannya lagi mempercayai bahwa pendidikan formal mampu membentuk segala sesuatu yang berlaku dalam pendidikan informal. Sehingga, ada pendidikan formal yang menerapkan sekolah sepanjang hari, tempat penitipan anak sambil belajar, dan lain sebagainya.

Kekeliruan sebagaimana telah diuraikan berdampak pada terjadinya saling curiga antara anak dan orangtua, ketidakpercayaan anak terhadap orangtua; orangtua tidak dijadikan lagi sebagai teladan, melainkan sebagai musuh dalam rumah, dan paling fatal lagi lebih mempercayai pikiran sendiri walaupun itu salah daripada mempercayai nasihat orangtua. Jika demikian berefek panjang pada masa depan anak.

Dengan demikian, pendidikan informal tidak dapat dipandang sebelah mata. Coba telusuri peserta didik yang bermasalah di sekolah, pasti ada hal ganjil yang terjadi dalam pendidikan informalnya. Oleh sebab itu, orangtua siapa pun dia tidak menginginkan satu di antara sekian banyak anggota keluarganya terjerat pada gagalnya pendidikan informal. Kebiasaan-kebiasaan baik yang telah diajarkan oleh para orangtua perlu diangkat kembali. Zaman boleh saja maju, pikiran bisa mengglobal, tetapi berbudaya baik tetap mengikuti falsafah budaya kita.

Ahman Sarman Kepala SMP Negeri 12 Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo

(mmu/mmu)