Kolom

Memaknai Kembali Kota Kita

Abiyyi Yahya Hakim - detikNews
Rabu, 11 Nov 2020 15:28 WIB
Malioboro, Yogyakarta (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Tahun ini kota menjadi saksi transformasi besar sosial-ekonomi akibat pandemi Covid-19. Kota yang biasanya penuh dengan ruang publik untuk warganya, terdampak besar pada mobilitas dan interaksi. Tidak heran, kedua aktivitas tersebut memang pengundang penularan. Sekjen PBB Antonio Guterres menyampaikan, kasus Covid-19 terlapor (reported cases) didominasi kasus di kota dengan porsi sampai 90%. Terhitung, sekitar 1.400 kota di dunia terdampak Covid-19 (UN Habitat, 2020).

Perubahan pada kota akibat pandemi membangkitkan romantisme yang memunculkan satuan waktu "sebelum Corona". Tidak hanya romantisme, harapan berwujud khayalan juga memenuhi perbincangan, kali ini menggunakan satuan "setelah Corona". Dalam perkembangan kemudian, proses menuju setelah Corona itu tidak berlangsung spontan, melainkan dengan transisi yang perlahan. Hanya saja pada awal wabah kita dibuat gegar oleh pembatasan fisik, juga perubahan kebiasaan.

Saat awal gegar swakarantina, banyak perbincangan mengenai perkiraan bagaimana kota masa depan (baca: setelah Corona) berjalan. Dodominasi wacana digitalisasi, mobilitas dan interaksi virtual memang solusi tanpa kontak fisik yang ideal. Digitalisasi pun tidak seluruhnya mulus. Romantisme non-digital tetap mengintai pikiran dan terungkapkan dalam ruang-ruang sosial. Pada akhirnya, pertemuan fisik tetap akan kembali, dan wadah virtual dapat menjadi alternatif.

Kota pada dasarnya merupakan ruang interaksi. Maka ketika ruang-ruang kota kehilangan interaksi warganya, bisa ditanyakan, "Kotakah itu?" Mengingat secara komparasi, kota akan selalu ramai dibandingkan pedesaan, juga padat jika dibandingkan jarangnya desa. Dan tidak hanya ramai dan padat, tetapi kota yang berkembang akan bertambah keramaian dan kepadatannya. Maka apakah pandemi mampu memindahkan keramaian kota?

Keramaian kota akan kembali. Pentingnya ekonomi maupun sekadar melepas kejenuhan, ruang publik kota akan terisi dan disesaki lagi. Kota tetap dipercaya menjadi poros aktivitas. Arus "kembali ke desa" tidak begitu berlaku, hanya saja urban farming menjadi tren. Mobilitas tetap diperlukan, hanya saja kini dirangkul tren bersepeda. Dan interaksi masih menjadi denyut nadi kota, setidaknya dianggap aman dengan label protokol kesehatan.

Sepakat atau tidak, era akan selalu berkembang dengan transisi, dan perubahan-perubahan sejak pandemi merupakan salah satu tahapnya. Di Jakarta, mungkin warga merasakan era transisi itu secara literal --pada PSBB Transisi. Yogyakarta memiliki tanggap darurat, juga lain lagi bagi daerah lain. Itu dalam konteks mitigasi pandemi, yang membuat kita mungkin melupakan, tanggap darurat telah sering diucapkan, terutama dalam bencana alam. Sedangkan transisi ialah perkembangan zaman itu sendiri.

Jalan Malioboro yang masih menjadi pusat perhatian wisata itu, tentu mengalami gegar ketika pengunjung diharuskan memindai kode QR dan mengisi data sebelum berkunjung. Namun pada masa-masa sebelum ini, ritel yang semakin kekinian hingga perubahan tampilan trotoar telah menghiasi proses perkembangan Malioboro, yang memberikan kesan berbeda bagi pengunjung pada tiap masanya. Wacana pedestrianisasi Malioboro pun kembali mencuat, yang menantang para pelaku interaksi di sana untuk beradaptasi lagi.

Dimensi ruang pun tidak dikecualikan dalam pemaknaan yang berbeda. Perdebatan mengenai terbakarnya halte bus Transjakarta ketika demo menjadi ruang debat pemaknaan lingkungan dan kota. Bagi sisi yang satu, kota secara wajar bisa remuk sejenak karena rakyat sudah begitu gerah terhadap keadaan. Ruang aspirasi massa dinilai dapat menghasilkan tonggak, seperti Reformasi 1998. Sedangkan bagi sisi yang lainnya, segala perusakan tidak dapat diwajarkan. Apalagi pada fasilitas publik, tempat rakyat secara komunal memanfaatkan fungsi kota.

Tugu Tani tidak ketinggalan. Bagi Koalisi Pejalan Kaki, Halte Tugu Tani menjadi saksi bisu kecelakaan yang menewaskan pejalan kaki, dan akhirnya jadi tempat aksi tahunan. Belakangan, Tugu Tani digores tampilan baru berupa mural kritik terhadap DPR. Dan kalau ada yang ingat, tiga tahun lalu pun Tugu Tani sempat didemo oleh sekelompok orang karena dianggap sebagai simbol komunis.

Kompleksitas dan kontestasi telah memenuhi dan membentuk kehidupan kota sejak lama. Lalu apakah masih akan demikian? Tentu. Namun yang bisa kita pahami adalah wujud kota berasal dari bagaimana warganya membentuknya. Maka kemudian, bagaimanapun bentuk kotanya, laiknya setiap elemen dari warganya memiliki kesempatan untuk berkontes, bahkan mendapatkan haknya, dalam rangka membentuk kehidupan kotanya.

Guterres melanjutkan, dalam policy brief Covid-19 untuk dunia perkotaan, recovery atau pemulihan yang harus dilakukan pasca-pandemi ialah menjadikan kota lebih berketahanan, inklusif, dan berkelanjutan. Berketahanan dari kejadian tak terduga, inklusif terhadap setiap warganya, dan berkelanjutan untuk masa mendatang. Dan pada akhirnya untuk dapat dimaknai kembali di tiap ruangnya maupun masanya.

Abiyyi Yahya Hakim warga ulang-alik Yogyakarta dan Jakarta

(mmu/mmu)