Kolom

Perempuan-Perempuan Murakami

Iin Farliani - detikNews
Rabu, 11 Nov 2020 13:00 WIB
ODENSE, DENMARK - OCTOBER 30: Japanese author Haruki Murakami outside the house of Danish author Hans Christian Anderson prior to Murakamis receival of the prestigious Hans Christian Anderson Literature Award at the City Hall in Odense on October 30, 2016, in Demark. (Photo by Ole Jensen/Corbis via Getty images)
Novelis Jepang Haruki Murakami (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Tipe laki-laki penyendiri, senang membaca buku-buku bagus, memiliki referensi musik yang luas, tidak dipahami oleh lingkungan sekitar, tapi selalu ada perempuan yang benar-benar menerima karakter si laki-laki yang dianggap "aneh" oleh lingkungannya itu. Dalam beberapa karya Haruki Murakami, sang protagonis selalu dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang unik, humoris, eksentrik, penuh dengan letupan ekspresi yang tidak takut menyatakan apa pun isi pikirannya.

Mereka juga mandiri, bekerja sebagai seorang profesional yang mengabstraksikan pengalaman mereka dalam dialog-dialog yang subtil. Midori dalam Norwegian Wood adalah seorang mahasiswa yang bekerja sampingan sebagai penulis keterangan pada peta, keterangan tentang kota, jumlah penduduk, tempat-tempat terkenal dan sebagainya. Midori suka melontarkan kritik pada anak-anak muda yang hanya omong besar dan berlindung di balik teori-teori yang mereka dapatkan dari buku.

Ada Mei Kasahara, remaja perempuan dalam Kronik Burung Pegas yang bekerja paruh waktu di produsen rambut palsu. Ia punya tugas unik; seminggu sekali selama tiga jam berdiri di stasiun kereta untuk melakukan survei jumlah orang-orang yang mengalami kebotakan dan menggolongkan kebotakan mereka ke dalam tiga tahap: Tahap Prem, Tahap Bambu, dan Tahap Pinus.

Selanjutnya, karena tidak ingin kembali ke sekolah, ia memutuskan untuk bekerja tetap sebagai buruh pabrik rambut palsu di sebuah daerah terpencil yang menghadap Laut Jepang. Ia melalui proses kerja setiap hari yakni berupa kegiatan menanam rambut seikat demi seikat dengan jarum hingga menjelma rambut palsu bermutu tinggi.

Tak kalah unik dan menantang, dalam 1Q84 kita berjumpa dengan Aomame, perempuan muda yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Bukan sembarang pembunuh, karena ia melakukan pekerjaannya dengan amat bersih, tidak meninggalkan jejak yang mengotori korbannya. Aomame menggunakan teknik pemijatan tingkat tinggi, hanya dengan sekali sentuhan pada titik lemah si korban, maka korban akan segera terkapar tak bernyawa. Ia pun melaksanakan tugasnya itu dalam kategori yang sangat khusus; korbannya adalah mereka yang suka menyiksa anak-anak dan perempuan.

Cerpen Batu Berbentuk Ginjal yang Berpindah-Pindah Setiap Harinya menghadirkan tokoh perempuan bernama Kirie yang hobi memanjat bangunan-bangunan tinggi dan membuat pertunjukan berjalan di atas tali yang direntangkan di antara gedung-gedung pencakar langit. Karena sering tak mendapatkan izin, demi terus meneruskan hobinya, ia mendirikan perusahaan pencuci jendela untuk gedung-gedung bertingkat tinggi.

Sampai di sini, apakah sudah cukup merasa iri dengan penjabaran kemandirian profesi tokoh perempuan muda Murakami itu? Bila belum cukup merasa iri dengan kemandirian tokoh perempuan muda itu, maka tengoklah tokoh perempuan paruh baya Murakami dalam After Dark bernama Kaoru dan Nutmeg (Kronik Burung Pegas).

Kaoru mengenang dirinya sebagai mantan pegulat profesional yang terasing dari keluarganya, melarikan diri dari fase post star syndrome dengan menjadi manajer sebuah hotel. Nutmeg adalah seorang mantan desainer busana terkemuka yang menjalankan pekerjaan pengobatan okultis untuk mereka yang berasal dari lingkup show biz dan tokoh kalangan atas.

Bila mencermati tokoh-tokoh perempuan Haruki Murakami dan profesionalisme mereka, maka dapatkah dibayangkan bagaimana posisi tokoh laki-lakinya sebagai sang protagonis yang dikelilingi oleh perempuan-perempuan hebat itu? Tentu saja hari-hari sang protagonis akan asyik-masyuk dengan benturan berbagai pengalaman tak terduga dari mereka. Ketenangan dan kesepian yang selama ini dilakoni mendadak mendapatkan penularan denyut gairah dari dunia yang dibawa para perempuan itu.

Sang protagonis masih memelihara watak eksklusifnya sembari menikmati juga berayun-ayun dengan hal-hal yang amat ganjil lagi penuh humor dari para perempuannya. Tapi, tak selamanya ia berdiam di dunia yang ganjil itu. Sebab, dalam karya-karya Haruki Murakami, ada dua tipe tokoh perempuan yang dihadirkan.

Satunya lagi adalah tipe perempuan yang lebih "dekat kepada sunyi". Perempuan-perempuan yang menyimpan sendiri rapat-rapat rahasia mereka, yang terdesak ke belakang karena tak cukup mampu dalam membahasakan diri. Sang protagonis terjebak dalam kalibut untuk memahami tanda-tanda yang demikian samar dikirimkan oleh tokoh-tokoh perempuan "sunyi" ini.

Pada akhirnya, karena tak jua menangkap pesan yang seperti menyusupkan sandi morse di dalamnya, sang protagonis kembali kehilangan dan kembali nelangsa untuk ke sekian kali. Beberapa dari tokoh perempuan yang cenderung tertutup ini misalnya kita dapati pada tokoh Naoko (Norwegian Wood), Kumiko (Kronik Burung Pegas), Meri Asai dan Eri Asai (After Dark), Istri Komura (Ufo in Kushiro), ada juga Fuka-Eri (1Q84).

Dalam sebuah wawancara yang diterjemahkan dan diterbitkan ulang oleh situs Fiksi Lotus, Haruki Murakami menjelaskan proses kreatifnya sebagai berikut: Protagonis saya cenderung terperangkap dalam dunia spiritual dan dunia nyata. Di dunia spiritual, tokoh wanita—atau pria—yang saya tulis cenderung pendiam, cerdas dan rendah hati. Di dunia realistis, tokoh wanita saya cenderung aktif, komikal dan positif. Mereka punya selera humor. Pikiran protagonis saya juga cenderung terbelah antara dua dunia dan mereka selalu bingung saat harus memilih. Saya rasa itu pola yang terus muncul dalam karya-karya saya.

Penuturan Murakami tersebut sekaligus memberi perspektif baru terhadap bentuk relasi yang dijalani sang protagonis dengan dua tipe perempuan, yang terbuka dan yang tertutup, yang aktif dan yang pendiam. Tokoh laki-laki dalam karya Murakami sebagian besar selalu berada di pihak yang ditinggalkan. Mereka kemudian terjebak dalam sekian pertanyaan mengapa si perempuan dapat sesuka hati untuk menghilang dari dunia mereka secara misterius. Apa yang salah dari diriku? Adakah sesuatu yang tidak aku ketahui dan terlewatkan begitu saja? Lalu upaya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu membuat beberapa tabir tersingkap meski tak sepenuhnya menolong sang protagonis untuk memiliki sebentuk relasi yang sempurna.

Dalam Norwegian Wood, Watanabe mengetahui bahwa dalam diri Naoko ada ruang yang membeku, yang tak dapat dimasuki begitu saja sebab telah mengeras dan membatu akibat dari trauma masa lalu, juga lingkungan keluarga yang "tidak normal" telah membentuk masa kecil yang sulit dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan Naoko di masa dewasa.

Sebab pula, Naoko merasa tak mampu menolong dirinya sendiri sehingga ia kerap menyangsikan solidaritas yang datang dari dunia luar, dunia yang ia masuki secara enggan dan separuh sesal. Solidaritas dari pihak laki-laki, yakni Watanabe sebagai kawan dan kekasih yang selalu menjadi pengamat dan pendengar baginya. Juga dari pihak perempuan, yakni Reiko yang dengan rela menyediakan diri sebagai tempat bergayut bagi Naoko dengan memelihara harapan agar ruang yang sejak lama membeku dalam diri Naoko itu suatu saat akan mencair.

Tokoh laki-laki bernama Toru Okada (Kronik Burung Pegas) bersikeras mencari alasan kepergian Kumiko istrinya. Sebab, kepergian Kumiko begitu mendadak dalam keadaan yang ia anggap "baik-baik saja". Dalam pencarian untuk menemukan alasan kepergian Kumiko itu, Toru Okada mengupayakan semacam laku meditasi di dalam sebuah sumur tua nan kering. Ia berdiam di dalam sumur selama berhari-hari, sembari mengingat-ingat apa yang "salah" dalam hubungan mereka.

Aku pasti telah melewatkan sesuatu, gumamnya. Tapi, sesuatu apakah itu? Sesuatu dalam bentuk seperti apa? Toru Okada secara serius merenungkan, Mungkinkah seorang manusia memahami manusia lain sepenuhnya? Kita mungkin mengira mengenal seseorang dengan baik, tetapi apakah kita benar-benar tahu hal penting tentang orang itu?

Kegagalan relasi para tokoh dalam karya Murakami juga sekilas mengangkat perlahan-lahan selubung relasi dalam keluarga yang "tidak sehat". Kita tahu, apa yang diterima individu di lingkungan keluarganya akan sangat berpengaruh kelak ketika ia menghadapi dunia luar. Keluarga adalah fondasi paling dasar yang banyak membentuk sejarah pribadi seseorang karena keluarga adalah lingkungan pertama yang ia kenal.

Tokoh-tokoh perempuan Murakami melakukan tindakan yang "tidak biasa" untuk bertahan hidup sebab mereka lahir dari keluarga yang tidak bahagia. Relasi keluarga mereka cenderung hadir dengan keterbatasan komunikasi, keintiman berupa kasih sayang yang tak mungkin terbentuk, kesangsian yang tajam, beragam penolakan yang seakan harus terjadi demi keberlangsungan luka-luka. Luka-luka yang sulit untuk disembuhkan.

Menjelang akhir cerita, Toru Okada pun mengetahui bahwa peristiwa menghilangnya Kumiko berkaitan erat dengan "kekerasan emosional" yang dialami Kumiko sejak kecil di keluarganya. Kedua pihak sama-sama terluka. Baik tokoh laki-laki maupun perempuan. Laki-laki bukanlah musuh bagi perempuan. Dan perempuan bagi laki-laki juga bukanlah lawan yang harus ditaklukkan.

Keduanya sama-sama menyingkir dari hiruk pikuk dunia sehari-hari untuk kembali melongok ke dalam diri, mengoreksi, dan berusaha membetulkan letak yang salah pada sesuatu yang tersembunyi dalam diri mereka. Sebab, mereka tahu seseorang yang belum selesai dengan dirinya sendiri tidak akan mampu menjalin relasi yang bertahan lama dengan orang lain. Bedanya barangkali pada reaksi yang ditunjukkan masing-masing tokoh.

Bila tokoh laki-laki Murakami cenderung menghayati kesedihannya dengan amat pendiam, tokoh perempuan berlaku lebih aktif dengan menghilang secara misterius. Sekilas, tokoh perempuan Murakami tampak egois dengan pilihannya itu. Namun, hal itu hanyalah salah satu bentuk laku yang memang memiliki jalurnya tersendiri.

Karya-karya Murakami seakan menyentil bermacam aliran yang kerap menyuguhkan oposisi biner. Aliran-aliran yang sangat suka mencetuskan permusuhan antara laki-laki dan perempuan. Padahal laki-laki dan perempuan dapat membangun sebuah relasi atas dasar "persekutuan dua pribadi yang setara". Meskipun, dalam perjalanannya dua pribadi yang setara itu tetap saling mencari dan saling menunggu dalam sebuah dunia yang absurd. Seperti yang diwakilkan oleh kutipan dari novel Kronik Burung Pegas ini: Di situ seseorang memanggil seseorang. Seseorang menginginkan seseorang. Dengan suara yang tidak berbentuk suara. Dengan kata yang tidak berbentuk kata.

Iin Farliani alumnus Universitas Mataram, cerpenis

(mmu/mmu)