Kolom

Enola Holmes dan Harapan Feminisme

Dinna Leili - detikNews
Rabu, 11 Nov 2020 11:30 WIB
Enola Holmes
Sosok Enola Holmes (Foto: dok. Netflix "Enola Holmes")
Jakarta -

Belum lama Netflix merilis film berkisah tentang detektif wanita bernama Enola Holmes. Enola Holmes menurut saya pibadi lebih kepada film tentang feminisme. Sarat dengan perjuangan tentang kesetaraan gender.

Dari awal dikisahkan bahwa Enola memiliki kecerdasan dan bakat yang tidak biasa. Beruntung ia memiliki seorang ibu yang eksentrik. Digambarkan bagaimana ibunya mendidik Enola dengan keras di berbagai aspek, dari pengetahuan, berpikir kritis analitis, ketahanan fisik sampai beladiri. Ibu Enola jelas memiliki tujuan dengan cara pendidikannya itu; ia menyiapkan anaknya untuk survive.

Ada pesan-pesan berat yang tersirat lebih-lebih pada scene Enola dan ibunya. Di antaranya mengenai bagaimana seorang wanita memutuskan suatu hal berdasarkan pemikiran dan apa yang ia yakini, meski hal itu memiliki risiko. Juga tentang keberanian untuk menjadi diri sendiri meski mendapat tantangan dari orang paling dekat sekalipun.

Yang juga mendapat perhatian yang lebih dari saya bahwa ternyata Ibu Enola turut memperjuangkan undang-undang tentang hak pilih wanita. Situasi mungkin tidak jauh berbeda dengan perjuangan RUU PKS oleh para aktivis feminis di negeri kita tercinta.

Pemahaman terkait feminisme di Indonesia sendiri cukup kompleks dari yang saya lihat. Tidak sedikit yang masih menganggap feminisme adalah soal mengalahkan laki-laki. Feminisme juga dipandang dekat dengan penerimaan terhadap LGBT. Padahal feminisme adalah paham dan upaya manusia dalam menempatkan perempuan setara dan mendapatkan porsi yang layak dalam segala aspek kehidupan.

Feminisme adalah tentang bagaimana memberikan support kepada para ibu untuk memberikan penghidupan dan pendidikan yang layak untuk anak-anak mereka. Tentang bagaimana seorang istri tetap memiliki hak untuk menjalankan karier, memutuskan bagaimana ia bereproduksi, serta secara independen memiliki pemikiran untuk memutuskan bagaimana ia bersikap. Secara sadar dapat memutuskan hubungan dengan pasangan yang toxic. Dan, utamanya perihal bagaimana mencintai diri sendiri secara utuh bagaimanapun kondisi yang ada saat itu.

Kalaupun Enola Homes cerdas namun kemampuan ibunya dalam mendidik cuma kaleng-kaleng, ia tidak akan sebrilian itu. Memiliki anak bukan hanya sekadar membesarkan dengan memberi makan. Jauh lebih kompleks dari itu. Dan feminisme mengingatkan perempuan untuk menyiapkan diri, dan mengetahui segala risiko dari keputusan pernikahan maupun memiliki keturunan. Feminisme mengajarkan bagaimana perempuan harus memiliki kedirian yang utuh serta dapat berpikir secara logis.

Feminisme bukan hanya soal mengalahkan budaya patriarki yang sudah mengakar di masyarakat. Feminisme menjadi harapan-harapan bagi anak-anak tentang bahaya pelecehan seksual yang mengancam mereka. Feminisme menjadi harapan persoalan kehamilan di luar nikah bagi remaja yang memiliki keingintahuan yang sangat tinggi.

Feminisme menjadi harapan kesiapan seorang wanita dalam keputusan pernikahan, memiliki anak, juga dalam hal karier. Feminisme menjadi harapan bagi para ibu yang depresi terhadap kondisi pernikahan yang jauh dari ideal. Dan, harapan besar bagi generasi selanjutnya untuk sedini mungkin mendapatkan akses pendidikan yang layak tentu saja.

Setidaknya dua orang perempuan asisten rumah tangga yang ikut di keluarga kami mengalami toxic relationship, Lek Dah dan Bik Eli. Lek Dah ikut di keluarga saya kurang lebih 20 tahun. Kami tahu benar bagaimana suaminya memperlakukannya. Usahlah menanyakan soal nafkah, sehari tanpa melayangkan pukulan pada Lek Dah itu saja sudah alhamdulillah. Kami hanya bisa menampungnya saat ia benar-benar khawatir kemarahan suaminya tidak lagi sebatas pukulan atau tendangan.

Apa kami diam saja? Tentu tidak, kami menyediakan solusi, namun ia bersikeras bertahan dengan kondisi tersebut. Sampai akhirnya beberapa tahun silam suaminya meninggal. Lek Dah kini terlihat lebih cantik. Ia juga akhirnya bisa membeli perhiasan-perhiasan emas yang tak pernah ia miliki saat suaminya masih hidup; sungguh ia tampak lebih bahagia sekarang.

Bagaimana dengan kondisi Bik Eli? Ternyata tidak jauh beda, hanya ia kini memiliki keberanian untuk menggugat suaminya di Pengadilan Agama. Ya, dengan risiko tidak mendapat apapun dari suaminya, tapi apa bedanya dengan kemarin-kemarin? Setidaknya ia berani mengambil keputusan --tentu ada harapan sebuah kebebasan di tengah perjuangannya menggugat.

Dalam buku berjudul The Moment of Lift karya Melinda Gates, diceritakan bagaimana perjuangan Melinda dalam upaya membantu meningkatkan kesejahteraan negara-negara miskin. Ada sebuah kesimpulan menarik; kesejahteraan suatu populasi di negara miskin akan meningkat tatkala perempuan mendapatkan kemudahan akses pada alat kontrasepsi. Iya, hanya karena sebuah alat kontrasepsi banyak permasalahan terpecahkan. Seperti ini tujuan feminisme yang saya maksudkan. Perempuan brilian yang berempati dengan kondisi lalu berefek domino secara positif kepada sesama perempuan.

Feminisme sama sekali bukan ancaman, hanya sebuah bentuk empati manusia terhadap perempuan yang termarjinalkan. Terhadap perempuan yang terjebak dalam tatanan moral masyarakat yang selalu menempatkan perempuan menjadi objek, juga terhadap perempuan yang mendapat pertentangan dalam menentukan pilihan hidupnya sendiri. Kita tidak ingin perempuan selalu merasa tidak berdaya, terpojok karena kondisi, dan menyerah dengan sesuatu yang bukan karena kemauan dirinya.

Kita tidak ingin ada perempuan korban perkosaan yang dinikahkan dengan pelaku pemerkosaan. Kita tidak ingin ada perempuan yang terlunta-lunta akibat keputusannya menjadi janda. Kita tidak ingin ada perempuan yang menggigit aparat keamanan hanya karena ia tidak menggunakan nalarnya dengan bernegosiasi dan mencari jalan keluar.

Maka sebenarnya Enola Holmes bisa menjadi referensi tontonan ibu-ibu untuk memutus mata rantai pendidikan konvensional. Menutup lubang-lubang cara mendidik yang dogmatis, namun kurang dalam mengajak untuk berpikir kritis. Agar generasi perempuan ke depan tidak ada lagi yang mengendarai motor menyalakan sein kanan tapi beloknya ke kiri. Agar tidak ada Lek Dah dan Bik Eli yang lain. Agar lebih banyak perempuan mendapatkan akses pendidikan superkeren seperti halnya Enola Holmes. Dan kita ingin ada lebih banyak Melinda Gates dalam versi berbeda.

(mmu/mmu)