Kolom

Tubuh Perempuan, Video Seks, dan Perisakan

Purnama Ayu Rizky - detikNews
Rabu, 11 Nov 2020 10:48 WIB
Little girl suffering bullying raises her palm asking to stop the violence
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Gisella Anastasia, artis jebolan Indonesian Idol 2008 pantas masygul,menyusul video seks yang mirip dirinya beredar di jagat maya untuk kedua kalinya. Tak lama berselang, video seks mirip artis Jessica Iskandar juga ramai menjadi bulan-bulanan publik di media sosial. Belum cukup, foto yang diduga menyerupai sosok Anya Geraldine, selebgram remaja masa kiwari juga viral. Kendati kasus mereka tak berkelindan satu sama lain, ada benang merah yang sama: tiga-tiganya ramai dirisak di media sosial. Tentu saja mantra paling umum yang dirapal oleh warganet selalu terkait dengan urusan amoralitas, standar kepatutan sosial, dan tubuh perempuan.

Celakanya, perisakan itu tak hanya berakhir di Twitter atau Instagram, tapi turut disponsori oleh media massa kita. Judul-judul seperti Foto-foto Rumah Mewah Gisella Anastasia Gisel, Janda Gading Marten Viral karena Video Panas 19 Detik atau Trending Video Syur 19 Detik Mirip Gisel, Kimono, Tato, dan Kamar Disorot, IG Cowok Ini Ramai Komen. Tak ada kaitannya antara status perkawinan ia dengan video yang tengah jadi buah bibir. Tak relevan pula mengulik tato hingga baju yang ia kenakan.

Memangnya ketika tatonya berupa gambar rosario atau kutipan Alkitab, lantas orang-orang jadi lebih permisif dan mudah memaafkan? Yang lebih miris, ada media yang bahkan repot-repot menggelar acara diskusi khusus dengan Roy Suryo, politisi serba bisa, hanya untuk membedah benarkah sosok di video itu benar-benar Gisel.

Jika perisakan dari berbagai penjuru atas Gisel tak cukup brutal buat Anda, simak bullying yang diterima mendiang model Indonesia yang berdomisili di Amerika, Dylan Sada. Dylan adalah penyintas kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah kandungnya, juga korban kekerasan fisik dan verbal bekas kekasihnya. Namun, ia bertahan dan memilih mengubur trauma masa lalunya itu dengan terus berkarya di bidang yang ia gemari. Nahas, kariernya terhenti setelah ia dikabarkan meninggal di kamar mandi tempat tinggalnya. Alih-alih mendapat empati, masih saja ada warganet yang dengan penuh semangat memaki dan mendoakan hal-hal buruk pada Dylan Sada.

Ada yang menyebutnya, meninggal dimakan cacing karena bertato, ada pula yang repot menanyakan agamanya di kolom komentar Instagram pribadinya. Saya jadi ingat, perisakan yang melibatkan tubuh sebagai objek sebenarnya adalah pil pahit yang jamak ditelan oleh perempuan. Pevita Pearce pernah dirisak karena memilih membentuk badannya hingga berotot. Awkarin dibilang tak bermoral lantaran melepas jilbabnya semasa sekolah lalu menato habis lengan tangannya dengan rajah bunga. Nagita Slavina, Putri Titian, Audy Item, mereka dirisak hanya karena tubuhnya gemuk dan tak enak dilihat pasca-melahirkan.

Pengalaman semacam itu juga pernah saya rasakan ketika memutuskan untuk menanggalkan hijab pada 2017. Saya pernah dimaki sebagai perempuan tak bermoral, gila, dianggap tak beragama, dan jauh dari Tuhan karena keputusan tersebut. Beberapa di antara kawan saya menghubungi saya lalu menyatakan kekecewaannya panjang lebar sekaligus menceramahi saya dengan ayat-ayat. Beberapa di antaranya mendadak menjauhi saya, takut ketularan hal buruk katanya.

Sejak kapan saya jadi menular seperti kurap? Saat itu, sekeras apapun saya menjelaskan bahwa melepas jilbab adalah keputusan yang tak sembrono saya buat demi ikut-ikutan atau tanpa perenungan apa pun, tentu saja para perisak tak mau tahu. Yang mereka ingin tahu adalah bagaimana menghakimi saya karena tak sesuai dengan ekspektasi dan nilai-nilai ideal yang mereka yakini. Apa kabar jika mereka tahu kalau saya sekarang memasang tato? Mungkin saya bisa dikutuk jadi perempuan pendosa.

Di titik ini saya jadi paham, tubuh saya di mata mereka bukan lagi milik pribadi, tapi hak mereka. Hak mereka untuk mengatur apa yang baik di tubuh saya. Hak mereka untuk membatasi mana yang pantas dilihat lelaki, mana yang mesti ditutup rapat demi tujuan mulia: agar tak dilecehkan atau diperkosa. Ini pandangan jamak di alam patriarki yang sangat misoginis, tapi bukan berarti harus diawetkan atau direpetisi terus-menerus.

Meminjam adagium Anthony Synnott (2007), tubuh tampaknya memang tidak sepenuhnya otonom, tetapi di bawah satu kendali dan kontrol yang bersifat individual, spesifik, dan terikat ruang dan waktu. Maksudnya, ia dikonstruksi oleh pasar, sosial, budaya, dan ekonomi, sehingga menjadi tubuh yang artifisial dan bukan milik diri sendiri. Sayangnya hanya tubuh perempuan yang mendapat perlakuan semacam itu.

Dalam kasus perisakan yang diterima Gisel, Anyar Geraldine, maupun Jessica Iskandar, ada amunisi serupa yang dipakai para perisak. Bahwa perempuan mestinya tunduk dan mengamini stigma; mereka yang baik tak akan memamerkan tubuhnya, tak akan merajah, tak akan membuatnya berotot, menutupinya, atau membuatnya sesuai selera umum. Perempuan dipaksa meyakini, jika melanggar aturan-aturan dasar tak tertulis itu, maka mereka bakal terjerembab dalam kelompok negatif, pendosa, penggoda, amoral.

Sebaliknya, bagi para lelaki, mereka tidak disalahkan ketika kebetulan penis tegang setelah melihat perempuan cantik lalu tergoda untuk melakukan pemerkosaan. Laki-laki yang berhasil meniduri banyak perempuan dianggap jagoan, sedang perempuan dilabeli jalang. Tontonan video porno pun dibuat secara brutal agar memuaskan libido laki-laki. Sangat jarang saya menemukan video yang melucuti ekspresi atau lekuk tubuh laki-laki secara intens.

Sebagai generasi yang tumbuh bersama ketakutan imajiner, perempuan yang berbeda adalah hal tabu, monster, ngeri-ngeri sedap. Karena itulah kita bisa dengan mudahnya menganggap perisakan terhadap perempuan yang berbeda adalah kewajaran. Namun bagi saya sendiri, tak apa tak seragam dengan nilai-nilai sosial, sepanjang saya mampu mempertahankan prinsip yang saya yakini benar. Sebab pada akhirnya, kepala saya ibarat sebuah rumah tempat kebebasan atasnya saya peroleh dengan ongkos mahal.

Lewat pengalaman membahagiakan dan menyakitkan, lewat bacaan dan pertemuan, lewat kegagalan dan keberhasilan, lewat semua pencarian panjang. Jadi saya tak akan membiarkan mereka sibuk mondar-mandir di rumah saya lalu berak sembarangan atau bicara bisik-bisik dan menyuruh saya diam demi menuruti standar mereka.

Purnama Ayu Rizky tengah merampungkan studi S2 di bidang gender dan politik Universitas Indonesia

(mmu/mmu)