Sentilan Iqbal Aji Daryono

Pahlawan Ekonomi Berbasis Mitos

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 10 Nov 2020 17:34 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Kemarin sore, tiba-tiba saya kaya mendadak. Emak saya menyiapkan beberapa pot tanaman untuk diboyong ke rumah saya yang gersang. Emak memang rajin berkebun, dan sering mengalami surplus tanaman hias di kebunnya yang sempit itu. Nah, dari sekian pot yang dia siapkan untuk saya bawa pulang, ternyata ada dua tanaman janda bolong!

Seketika saya menghitung aset baru saya yang datang tiba-tiba. Di berita-berita, dikabarkan ada satu pot tanaman janda bolong yang dijual sampai seharga 120 juta. Di lapak daring saya lihat ada juga yang menjual satu pot dengan sembilan lembar daun, dan dihargai 47,5 juta, alias 5,2 juta per daunnya. Artinya, kalau saya punya dua batang janda bolong, dan di tiap batang ada delapan lembar daun, minimal kekayaan saya bertambah 83 juta! Hore!

Anda mungkin kepingin lekas-lekas berteriak, "Woiii...dikibulin mafia tanaman hias aja kok mau woiii!" Tapi saya sendiri malah berharap hoaks jenis begitu bisa bertahan lebih lama, bahkan kalau bisa menyasar ke komoditas-komoditas lainnya. Kenapa? Sebab dengan mata kepala sendiri, saya langsung melihat efeknya.

Di dekat kampung saya, ada pasar satwa dan tanaman hias terbesar se-Jogja. Sejak corona datang lalu orang-orang pada jadi rajin berkebun, terlebih lagi sejak heboh janda bolong, pasar tanaman hias itu mendadak ramai. Di tiap akhir pekan, parkirannya sampai luber-luber tak muat menampung kendaraan yang datang, pengunjungnya pun berjejal-jejal. (Soal distancing dan kerumunan mari kita obrolkan kapan-kapan saja). Kemudian saya mendengar dari beberapa tetangga bahwa melejitnya harga janda bolong ternyata menyeret naik juga harga-harga tanaman hias lainnya.

Tak hanya itu. Rumah emak saya ada di jalan menuju Desa Wisata Kasongan, yang dagangan utama warganya adalah gerabah dan hiasan rumah rupa-rupa. Pada awal pandemi, saya menyaksikan gerai-gerai di sepanjang jalan itu sepi sekali. Tetamu andalan Kasongan itu para pelancong, dan Anda juga tahu bahwa dunia pariwisata adalah yang pertama kali terkapar KO diterkam corona.

Namun, sejak heboh janda bolong, tak ada kata sepi di situ. Mobil-mobil lokal dan yang berplat nomor luar kota selalu memacetkan Jalan Kasongan. Apa hubungannya? Pot! Ya, orang-orang itu berbelanja pot-pot tanaman hias beraneka bentuk dan gaya. Dagangan murah dari lempung yang kemarin-kemarin sudah mulai ditinggalkan pengrajinnya itu kini jadi barang laris lagi, harganya naik hingga dua-tiga kali lipat. Tentu kita bisa membayangkan, orang-orang yang tiba-tiba kesurupan dengan hobi berkebun tentu saja tak akan tega memajang janda bolongnya yang seharga 17 juta cuma di kaleng bekas cat tembok, bukan?

Saya paham, segala tren tanaman-tanaman hias semacam yang terjadi pada aglaonema, gelombang cinta, hingga janda bolong hanyalah akal-akalan para pedagang. Mereka menjalankan modus pura-pura mencari tanaman tertentu ke kampung-kampung, berani menawar dengan harga sangat tinggi, dan para "operator lapangan" itu banyak jumlahnya. Dari situlah amplifikasi dijalankan, dan isu tersebar hebat. Akibatnya, bukan cuma penawaran yang naik, namun juga permintaan. Banyak orang bukan cuma ingin menjual, sebab tak sedikit juga yang ingin membeli untuk dijual lagi. Walhasil, pasar pun terbentuk secara instan dan sempurna.

Pola semacam itu tak cuma terjadi pada tanaman hias. Mas Wiwit, rekan ronda saya yang hobi burung berkicau itu pun sempat bercerita bahwa modus yang sama pun berjalan di dunia perburungan. Salah satu hasil konkretnya ya tren love bird waktu itu.

Ini tampaknya menyebalkan, dan tak lebih dari pembodohan massal. Tapi yang sering kita abaikan, para konsumen tren-tren sesaat begituan mayoritas adalah orang-orang kaya. Hanya orang berduit yang mau membuang uangnya untuk membeli tanaman sampah seharga jutaan. Dengan tren instan, inilah yang terjadi: pergerakan ekonomi dan pemerataan.

Bayangkan, uang yang kemarin cuma ngendon di rekening orang-orang kaya sekarang tersebar cepat ke kantong para pedagang tanaman, pedagang pupuk, pedagang batu hias tanaman, pedagang pot gerabah, berikut para karyawan mereka. Dan efek itu menyebar hingga ke puluhan jenis tanaman yang lain, dan berkahnya jadi lebih meluas lagi hingga ke tukang-tukang parkir, tukang-tukang es, dan entah pedagang apa lagi yang mangkal di sekitar pasar tanaman dan pasar gerabah.

Andai tak ada tren janda bolong, kira-kira duit orang-orang kaya itu pada lari ke mana? Paling-paling mereka yang takut miskin itu berbelanja emas buat investasi, mempersiapkan diri menghadapi resesi. Duit hanya masuk ke pegadaian, ke bank, dan ke PT Antam. Itu tidak bisa dibilang memutar ekonomi, tapi menjadikan ekonomi ngendon diam bermalas-malasan. Padahal di zaman pagebluk yang membawa paceklik ekonomi begini, investasi dengan harta tak bergerak bisa-bisa menjadi bentuk egosentrisme terparah, sedangkan berbelanja menjadi amal tersaleh dan jihad terbesar.

Lalu bagaimana dengan tipuan-tipuan ala dolop bakul tanaman hias? Bukankah itu pembodohan, mitos yang disebarkan dengan terstruktur, sistematis, dan masif? Betul sekali. Tapi cobalah sesekali Anda bandingkan semua itu dengan cara Yuval Harari melihat mitos-mitos pada uang, merek produk, bahkan pada konsep negara. Semua itu cuma bayangan, sesuatu yang dikhayalkan. Tapi khayalan kolektif itu bisa membuat jutaan orang yang tidak saling kenal tiba-tiba bekerja sama dan saling menghidupi satu sama lain. Tanpa mitos bersama, barangkali kita tak akan pernah berjalan ke mana-mana.

Hari ini Hari Pahlawan. Akhirnya saya menemukan siapa pahlawan sejati yang berjuang konkret di masa resesi akibat pandemi. Mereka adalah para dolop bakul tanaman hias yang menciptakan mitos janda bolong, dan berhasil menggerakkan roda ekonomi hingga berputar cepat sekali. Semoga mereka tak kenal lelah bergerilya untuk menciptakan mitos-mitos yang lain lagi.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)