Kolom

Pengalaman Terinfeksi Covid-19

Nurhadi - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 15:10 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Saya akan sedikit berbagai pengalaman tentang bagaimana rasanya menjadi pasien yang terinfeksi Covid-19. Karena penyebarannya semakin meluas dan cepat, banyak orang menjadi cemas. Kecemasan itu juga timbul dalam diri saya sendiri karena sehari-hari berinteraksi dengan banyak orang di tempat kerja. Apalagi akhir-akhir ini sedang ramai-ramainya orang membicarakan tentang kluster baru, yaitu di perkantoran dan industri. Hingga suatu ketika kecemasan itu menjadi sebuah kenyataan yang harus saya hadapi. Virus itu telah menjalar ke tempat kami bekerja, dan saya pun akhirnya diharuskan untuk mengikuti tes PCR.

Saat pertama kali mendengar berita bahwa saya diharuskan untuk mengikuti tes PCR badan saya terasa lemas. Seketika muncul dalam pikiran saya, apa yang harus dilakukan jika nanti hasilnya positif? Belum terpikir bagaimana nanti harus menjalani isolasi, sedangkan anak balita saya tidak bisa jauh-jauh dari saya. Belum lagi bagaimana menjelaskan kepada para tetangga yang harus menjaga jarak dengan saya dan keluarga.

Dua hari menjelang tes, badan saya demam hingga 37.9 derajat Celcius. Saya tidak tahu apakah ini sebagai gejala awal Covid-19 atau karena perasaan cemas yang berlebih sehingga kondisi tubuh menjadi turun. Saya mencoba bertanya ke teman saya yang juga akan mengikuti tes, jawabannya sama, dia mengalaminya juga. Demam mulai turun pada hari berikutnya setelah beberapa kali minum obat penurun panas.

Makanan yang hangat dan berkuah saya perbanyak dengan harapan keringat bisa keluar dan demam segera turun karena saat itu suhu tubuh saya masih berkisar pada 36.5 derajat Celcius. Dalam kondisi normal suhu tubuh saya berkisar pada 35.8 derajat Celcius. Saya sedikit merasa lega karena keyakinan saya bahwa ini hanya karena cemas saja, ditandai dengan turunnya demam saat pikiran saya mulai tenang dan menghindari segala berita yang membuat cemas.

Pagi hari sebelum berangkat ke tempat tes, saya ukur suhu tubuh dan menunjukkan angka 36.4 derajat Celcius. Masih terlalu tinggi untuk ukuran saya, tapi lebih rendah dari dua hari terakhir. Istri saya berusaha untuk meyakinkan bahwa saya sehat dan tidak perlu cemas mengikuti tes PCR. Berbekal minyak kayu putih yang dipercaya bisa melegakan pernapasan, saya berangkat ke tempat tes yang diadakan oleh tempat kerja saya.

Sepanjang perjalanan saya berusaha meyakinkan kembali diri saya sendiri bahwa saya harus sehat sehingga nanti hasilnya negatif. Begitu masuk ruangan, seketika itu perasaan cemas kembali muncul. Terbayang bagaimana rasanya nanti ketika tenggorokan dan hidung dimasuki alat tes.

Sambil duduk menunggu giliran, saya coba tenangkan diri dengan banyak minum air putih dan mengoleskan minyak kayu putih ke hidung agar pernapasan menjadi lega. Satu per satu orang di sekitar saya mendapatkan gilirannya, dan saya termasuk orang yang mendapat giliran paling akhir. Petugas memberikan satu paket alat yang akan dimasukkan ke tenggorokan dan hidung saya. Di tempat terpisah, petugas dengan APD lengkap memanggil saya sebagai tanda tes PCR bisa segera dimulai.

Saya dipersilakan duduk pada sebuah kursi dan diperintahkan untuk menengadahkan kepala dan membuka mulut lebar dan menjulurkan lidah. Sebuah benda kecil mirip cotton buds namun panjang dimasukkan ke mulut sampai ke tenggorokan dan ditarik kembali. Alat itu kemudian dimasukkan kembali ke wadahnya yang berbentuk tabung. Rasanya tidak terlalu buruk, tapi memang sedikit tidak nyaman di tenggorokan.

Selanjutnya petugas mengambil lagi alat yang akan digunakan untuk mengambil sampel dari hidung. Kali ini ukurannya lebih kecil, namun saya tidak memperhatikan betul seperti apa bentuknya karena saya harus kembali menengadahkan kepala. Saat itu saya betul-betul cemas karena teman-teman tadi ada yang bercerita waktu pengambilan di hidung itu sakit. Kecemasan saya ternyata terbaca oleh petugas, dan dia bilang kepada saya untuk mengatur kembali posisi duduk agar lebih santai.

Ketika kepala sudah menengadah ke atas, benda kecil itu dimasukkan perlahan dan semakin dalam. Refleks saya terkejut dan mengerutkan hidung, namun dicegah oleh petugas agar saya tetap biasa saja. Rasanya "mak sreng" dan air mata otomatis keluar sebagai respons alami tubuh.

Hari-hari berikutnya saya jalani dengan mencoba hidup sehat. Perbanyak makan buah-buahan, sayur-sayuran, minum susu secara rutin, dan berjemur serta olah raga tiap pagi. Walaupun hasilnya belum keluar dan diperkirakan tiga hari setelah tes, namun interaksi dengan tetangga mulai dikurangi.

Hari pertama dan kedua berjalan dengan lancar tidak ada gejala apapun yang dirasakan. Pada hari ketiga barulah saya merasakan hidung mampet dan kering. Saya coba olesi dengan minyak kayu putih dan perbanyak minum hangat dengan harapan cairan pada hidung segera encer dan bisa dikeluarkan. Namun cara-cara yang dilakukan tadi tidak berhasil. Hidung masih mampet, dan pada hari keempat saya rasakan indera penciuman mengalami penurunan.

Saya coba dekatkan minyak kayu putih ke hidung aromanya masih bisa terasa, namun ketika agak jauh tidak lagi terasa. Saya coba cari informasi di internet tentang gejala-gejala Covid-19. Gejala-gejala tersebut antara lain demam, batuk, pilek, sesak napas, kehilangan penciuman, dan diare. Di antara beberapa gejala, saya sudah mengalami demam dan penciuman yang menurun namun belum sampai hilang.

Dengan kondisi tersebut saya kembali cemas, jangan-jangan saya ini positif. Ditambah lagi mendengar kabar bahwa teman saya hasilnya sudah keluar dan dinyatakan positif. Saat itu juga saya dan istri sangat sedih karena gejala yang dialami teman saya itu sama dengan yang saya alami.

Hingga malam hari hasil tes belum juga saya terima. Hasil akan disampaikan melalui atasan, dan atasan yang akan menelepon orang yang bersangkutan. Malam itu tidur saya dan istri tidak bisa tenang karena menunggu barangkali ada telepon. Baru besok paginya saya menerima hasil tes yang menyatakan saya positif Covid-19. Tidak melalui telepon, melainkan melalui pesan WA, dan dikirimkan pula dokumen berupa file PDF.

Yang pertama kali membaca adalah istri saya, kemudian dia segera memberi tahu saya dengan menangis. Setelah saya membaca hasilnya, segera saya berpikir tentang apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Seseorang memberi tahu saya bahwa setiap orang yang terkonfirmasi positif harus melapor ke RT setempat untuk selanjutnya diteruskan ke jenjang yang lebih tinggi.

Karena tinggal di kontrakan, saya tidak tahu di mana rumah Pak RT, sehingga istri memberanikan diri untuk melapor ke pemilik kontrakan. Alhamdulillah respons dari pemilik kontrakan bagus, dan bisa mengerti tentang kondisi kami. Dia sendiri yang menyampaikan kepada para tetangga tentang kondisi yang telah terjadi dan meneruskan laporannya ke Pak RT.

Beberapa kasus ada yang sampai diusir dari kontrakannya karena pemilik dan tetangga tidak mau mengerti. Untunglah hal itu tidak terjadi pada keluarga kami. Pak RT kemudian melaporkan ke kelurahan dan dari kelurahan melapor ke Puskesmas. Beberapa jam kemudian dari pihak Puskesmas menghubungi saya untuk mengetahui bagaimana kondisi badan sekarang untuk menentukan penanganan selanjutnya. Ketika itu kondisi badan saya sehat dan hanya merasakan hidung mampet dan penurunan penciuman. Dengan kondisi tersebut saya tidak harus dibawa ke rumah sakit dan disarankan untuk isolasi mandiri.

Di situ timbul permasalahan baru. Tempat tinggal kami tidak memungkinkan untuk isolasi mandiri karena ruangan yang terbatas dan tidak bisa menghindari kontak saya dengan anak. Anak kecil usia dua tahun belum mengerti dan selalu ingin mengajak bermain seperti biasanya mengakibatkan risiko tinggi penularan. Saya sampaikan permasalahan ini kepada Puskesmas dan tempat kerja. Dari Puskesmas menyarankan apabila ada tempat lain untuk isolasi, itu lebih baik sedangkan fasilitas milik pemerintah saat itu sudah banyak yang penuh. Kabar baik datang dari tempat kerja yang memberi tahu ada sebuah tempat yang bisa digunakan untuk isolasi mandiri.

Sore hari Pak RT dan Pak Lurah datang dan memberi tahu bahwa saya akan diantarkan ke tempat isolasi dengan menggunakan mobil ambulans. Tidak menyangka, saya pikir bisa pergi sendiri karena kondisi saya sehat. Tapi karena protokol kesehatan, saya harus dibawa dengan mobil ambulans oleh petugas dengan APD lengkap. Tidak berapa lama kemudian ambulans datang dan saya diperintahkan untuk keluar rumah dan segera masuk ke mobil.

Di luar cukup ramai orang-orang yang menyaksikan penjemputan saya ini. Mobil ambulans segera berangkat menuju tempat isolasi dengan suara sirine yang meraung-raung. Sungguh tidak menyangka saya akan mengalami naik mobil ambulans --kondisi saya terlihat seperti orang sehat. Bukan sakitnya yang membuat saya sedih, melainkan harus berpisah untuk sementara waktu dengan keluarga yang begitu terasa. Dari dalam saya lambaikan tangan ke istri dan anak yang saat itu juga akan menjalani isolasi selama 14 hari di kontrakan. Beruntunglah kami memiliki tetangga yang mau membantu mengantarkan kebutuhan pokok untuk anak dan istri.

Tulisan ini dibuat ketika saya masih berada di tempat isolasi, memasuki hari ke-16. Hasil tes PCR kedua pada hari ke-10 kemarin menunjukkan bahwa saya masih positif dan harus melanjutkan masa isolasi selama 10 hari ke depan. Untuk saat ini kondisi sudah tidak ada gejala dan diperintahkan untuk selalu menjaga kesehatan agar virus yang masih tersisa bisa segera hilang.

(mmu/mmu)