Kolom

Curhat "Koas" Selama Pandemi

Prima Ardiansah - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 14:14 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Menurut rumor, koas (ko-asisten) adalah satu fase hidup para calon dokter yang menegangkan, sedih, bodoh, dibodohi, dan selevel dengan keset. Kami ada pada tataran terendah kehidupan rumah sakit. Sampai muncul meme: kalau ada empat orang yang mendorong truk, tiga orang mendorong di body belakang, tetapi ada satu orang mendorong kepala truk di atas wadah muatannya --itulah koas, ada tapi tidak berguna.

Sebenarnya menurut saya yang menjalani sendiri kehidupan koas, kami ini ya ada gunanya sih, walaupun sedikit. Saat jaga ruangan misalnya, kami dituntut untuk monitoring semua pasien. Berharap dengan monitoring ini, semua pasien akan baik-baik saja. Kalau saja ada keluhan, harapannya bisa segera diketahui dan segera ditangani.

Saat jaga ruangan ini pula kami belajar bagaimana berkomunikasi dengan pasien. Ada pasien yang sukanya marah-marah, ada yang "cuek bebek", ada juga pasien yang baiknya mengalahkan ibu peri. Variatif dan tidak bisa dikotak-kotakkan.

Jaga ruangan itu pula diharapkan kami bisa sedikit mengetahui keluhan-keluhan khas dari penyakit pasien yang diagnosisnya sudah ada.

Tempat jaga lain bagi koas adalah IGD. Kalau saja di ruangan tadi pasiennya sudah diketahui diagnosisnya, di IGD beda. Pasien datang dengan keluhannya dahulu. Misalnya batuk pilek, mencret, nyeri perut, atau pusing. Kamilah para koas yang turun dahulu sebelum dokter senior datang. Harapannya, dokter senior akan dimudahkan karena informasinya sudah disederhanakan dari analisis koas macam kita.

Di IGD juga skill kami sebagai calon dokter yang sebenarnya diasah. Kami berlatih bagaimana mengorek informasi dari pasien di awal kedatangan mereka, yang kebanyakan tidak bersahabat karena mereka juga harus melawan keluhannya. Bayangkan, bagaimana mewawancarai orang yang lagi pusing --kalau kita terlalu agresif, lama-lama bisa kena tampar.

Selain itu kami juga harus memilah-milah kalau saja ada kasus gawat darurat. Tidak boleh tanya-tanya dulu, tapi harus upaya penyelamatan nyawa yang jadi nomor satu. Mulai dari jalan napas, pernapasannya, sampai sirkulasi dari darah ke seluruh badan. Semua serba cepat dan simultan. Tidak boleh ada kesalahan. Misalnya saja kalau ada anak yang datang sudah lemah gara-gara mencret seharian, dehidrasinya harus segera terselesaikan. Semua urusannya nyawa.

Kalau satu atau dua pasien yang datang ke IGD itu bakal oke-oke saja, badan ini tentu sangat kuat menanggungnya. Tapi kalau sudah pasien ke sepuluh lebih, aduh!, Namun yang namanya niat dari awal buat menolong, ya mau tidak mau kita harus melakukannya. Mau sepenuh hati atau tidak penuh hatinya, ya masa bodoh, yang penting pasien ditangani dulu.

Setelah tugas jaga ruangan dan IGD, kami punya tugas lagi di poli. Nah, di sini pasiennya banyak dan kami bisa banyak belajar. Para pasien biasanya merupakan pasien kontrol yang gejalanya khas, penyakitnya telah muncul secara jelas. Sehingga sebagai koas yang bodoh akan sedikit terbantu mengatasi kebodohannya. Menghafalkan penyakit akan jauh lebih gampang karena keluhannya sudah jelas.

Waktu tugasnya juga tidak selama jaga ruangan dan IGD yang tembus sampai enam belas jam, di poli kita cukup investasi dari pukul tujuh pagi sampai satu atau dua siang saja. Nah, pada tugas jaga yang terakhir, sesuai prosedur tetap turun-temurun, setelah ketiga tempat yang disebutkan tadi, kami juga berkewajiban menjaga KDM, kamar dokter muda. Di sanalah sebenar-benarnya kami mengerjakan tugas penuh sebagai dokter muda.

Tugas untuk tidur, bermalas-malasan, gaming, serta hal-hal yang mengingatkan kami untuk menjadi manusia seutuhnya harus tuntas di ruang ini saja. Tidak boleh ada kelakuan tidak profesional di luar ruang ini.

Kami juga diberikan kewenangan khusus untuk merawat secara paripurna KDM ini. Mulai dari kebersihan kasur, kerapian meja, dan kekinclongan lantainya. Sungguh berbeda dengan ketiga tempat jaga sebelumnya yang kami dibimbing penuh oleh dokter senior. Di KDM kami bebas melakukan apapun.

Sayangnya semua itu sirna kala pandemi melanda. Saya yang sudah satu tahun menjadi koas dan terhitung kurang satu tahun lagi menyelesaikan pendidikan terpaksa harus dirumahkan. Tidak ada jaga ruangan, IGD, poli, serta KDM kesayangan. Semua pendidikan dialihkan melalui Zoom meeting.

Seketika jiwa saya sebagai koas juga sedikit demi sedikit luntur. Hari-hari yang seharusnya dihabiskan untuk bertemu dengan pasien-pasien kami yang berharga sekaligus menjadi sumber utama ilmu kami menjadi terenggut, sirna, hilang, dan musnah.

Hari-hari indah ketika kami para koas saling bahu-membahu kalau ada kemarahan dari dokter senior kepada salah satu teman kami, atau bagaimana kami saling menguatkan ketika pasien jaganya lagi banyak-banyaknya, rasanya sudah tidak mungkin muncul lagi.

Belum lagi kami kehilangan kesempatan untuk wawancara sekaligus mempraktikkan langsung pemeriksaan fisik kepada pasien-pasien kami. Sungguh merupakan kehilangan yang pedih.Zoom meeting sama sekali bukan pergantian yang sepadan, jauh sekali.

Sesuai pengalaman saya yang sudah enam bulan tenggelam dalam pertemuan Zoom sehari-hari, kami hanya dihadapkan kepada kasus berupa tulisan keluhan pasien. Tanpa tahu bagaimana ekspresi wajah pasien ketika mengatakannya, erangan kesakitan yang menyertainya, juga kami sama sekali tidak melakukan pemeriksaan fisik kepada pasien.

Lalu bagaimana kami bisa tumbuh menjadi dokter yang baik? Mau memberikan obat juga kami belum pernah tahu bagaimana bentuk obat tersebut di lapangan, apakah harganya mahal, murah, atau sesederhana ditanggung BPJS atau tidak. Memangnya pasien kami dari kalangan dewan semua? Mereka juga individu yang berbeda-beda penghasilannya.

Padahal jadi dokter itu bukan sekadar bertanya, memeriksa, dan menentukan diagnosisnya. Bagaimana kami berinteraksi dan membangun kerja sama dengan pasien itu jauh lebih penting. Belum lagi kita harus sama-sama bekerja sama antartenaga medis sekaligus saling memahami dan menghormati. Semua sirna ditelan pandemi.

Tapi apa mau dikata, bagian pendidikan kampus sudah melakukan sebisanya. Karena tidak mungkin menerjunkan kami juga di rumah sakit, maka hanya ini hal yang bisa dilakukan. Sudah bagus ada fasilitas pendidikan; kalau tidak ada sama sekali juga jadi masalah.

Kalaupun kita bisa kembali ke rumah sakit, situasinya akan jauh berbeda. Interaksi dengan pasien tidak akan seaktif dulu. Pasien juga tidak akan sebanyak dulu karena kriteria masuk rumah sakit juga diperketat. Yang ada malah hampir semua ruangan dipenuhi pasien korona. Sudah tidak ada momen seideal dahulu lagi.

Dalam hati sebenarnya enjoy banget tidak perlu jaga ruangan, IGD, poli, dan yang terkecuali KDM. Tapi kami juga kehilangan skill dasar kami sebagai seorang dokter.

Prima Ardiansah calon dokter (koas)

(mmu/mmu)