Kolom

Belajar dalam Serba Keterbatasan

Hermanto Purba - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 11:50 WIB
Perjuangan siswa di pelosok untuk mendapatkan sinyal internet (foto: Hermanto Purba)
Jakarta -

Virus corona yang menjangkiti bumi beberapa bulan terakhir sedikit-banyak telah mengubah peradaban manusia. Orang-orang tidak lagi dapat berinteraksi seperti sedia kala. Hal-hal yang dahulu lazim menjadi tidak lazim pada masa pagebluk saat ini. Semuanya berubah: harus senantiasa menjaga jarak (physical distancing), mengenakan masker, rajin mencuci tangan, membatasi pertemuan-pertemuan sosial, dan berbagai macam larangan lainnya.

Dan makin ke sini, imbasnya kian terasa. Dunia bisnis dan perdagangan ambruk. Siklus perekonomian dunia berkontraksi cukup dalam. Pada September lalu, Trading Economics mencatat ada 50 negara yang resmi mengalami resesi. Tak terkecuali Indonesia, juga turut terimbas. Sekalipun pemerintah telah melaksanakan berbagai macam kebijakan, resesi tetap tak terhindarkan. Hanya tinggal menunggu pengumuman resmi saja dari pemerintah.

Selain sektor ekonomi, perdagangan, pariwisata, kesehatan, dan sektor-sektor lainnya, sektor pendidikan juga menghadapi persoalan yang tidak kalah pelik. Seabrek permasalahan muncul. Salah satunya adalah minimnya infrastruktur jaringan internet di berbagai pelosok Tanah Air, yang merupakan salah satu sarana penunjang demi keberlangsungan pembelajaran dalam jaringan (daring) sebagai pengganti pembelajaran tatap muka.

Saya seorang guru. Saya mengajar di pelosok Papatar (Pakkat, Parlilitan, Tarabintang) Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Di sini, di Papatar, masih banyak desa yang belum ter-cover sinyal 4G. Masih sebatas sinyal internet 2G (GPRS/ EDGE). Dan sedihnya lagi, sinyal 2G itu tidak merata meng-cover seluruh kampung. Masih ada titik-titik tertentu yang hanya untuk sekadar bertelepon atau mengirim SMS saja mesti memanjat pohon.

Jadi, saya tahu betul kesulitan itu dan turut mengalami betapa susahnya melaksanakan pembelajaran daring dalam keadaan jaringan internet yang tidak memadai. Jangan pernah berpikir kalau kami melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan aplikasi Zoom Meeting, Google Meet, atau aplikasi sejenis lainnya. Kami tidak "mengenal" semua itu. Sebab mustahil kami dapat menjangkau anak didik kami jika menggunakan aplikasi itu.

Saban hari sejak pembelajaran jarak jauh mulai Maret lalu dilaksanakan, kami hanya dapat berinteraksi dengan anak didik kami lewat aplikasi chatting WhatsApp (WA). Segala materi belajar dan tugas-tugas untuk dikerjakan siswa kami kirimkan lewat aplikasi itu. Pada umumnya, materi berikut penjelasannya kami berikan berupa rekaman suara atau teks saja. Kenapa? karena ukuran file-nya kecil, sehingga siswa akan lebih mudah mengunduhnya.

Beberapa siswa pernah bercerita, hanya untuk mengunduh sebuah gambar yang hanya berukuran kilobyte saja, butuh waktu beberapa menit agar mereka dapat melihat tampilan utuh gambar itu. Konon lagi jika harus mengunduh sebuah video pembelajaran, butuh waktu hingga berjam-jam untuk mengunduhnya hingga mereka dapat menontonnya. Sungguh sebuah ironi di tengah derasnya perkembangan teknologi dan informasi saat ini.

Ini adalah fakta yang saya lihat dan alami sendiri. Pernah pada awal masa belajar daring Maret lalu, ketika itu saya berpikir, jika materi dijelaskan berupa tulisan, siswa akan mengalami kesulitan memahami penjelasan yang saya sampaikan. Lalu saya berinisiatif membuat video pembelajaran kemudian saya kirim ke grup WA. Tapi apa yang terjadi? Saya dibanjiri pertanyaan dari siswa, "Pak, itu video tentang apa? Kami tidak bisa buka (unduh)."

Dan kendala jaringan internet bukanlah satu-satunya masalah. Ada pula problem yang tidak kalah rumit selain kendala sinyal tadi: masih banyak siswa yang belum memiliki gawai yang kompatibel dengan pembelajaran daring. Di sekolah tempat saya mengajar misalnya, ada sekitar 45 persen siswa yang belum memiliki smartphone. Fakta ini kian menambah deretan masalah bagi sekolah dan guru selama belajar di masa pagebluk ini.

Para siswa yang tidak memiliki smartphone tadi kami tindaklanjuti dengan mengunjungi mereka ke rumahnya (pembelajaran luar jaringan). Namun ternyata, sebagian dari mereka, meskipun telah kami kunjungi, seperti tidak merespons. Kami coba mencari tahu kenapa begitu, ternyata ada faktor orangtua di sana. Orang-orangtua siswa itu seperti kurang memperhatikan dan mendorong anak-anaknya belajar. Sebaliknya, cenderung "memanfaatkan" tenaga anak-anaknya untuk membantu mereka bekerja di ladang.

Lantas, haruskah kita menyalahkan sikap orangtua yang terkesan lalai untuk memotivasi dan menumbuhkan minat belajar anak-anak mereka? Di satu sisi, ya. Karena apa pun ceritanya, oran tua juga mesti bertanggung jawab mendidik anak-anaknya. Itu bukan hanya tugas guru semata. Namun di sisi lain, kita juga harus memahami kesulitan ekonomi yang mereka sedang alami. Kesulitan itu memaksa mereka melibatkan anak-anak untuk mencari nafkah.

Bercermin dari kenyataan yang saya dan rekan-rekan guru lainnya alami saat ini, saya berpendapat bahwa dana sebesar Rp 7,2 triliun yang dianggarkan pemerintah untuk bantuan pulsa internet mubazir dan kurang tepat. Sebab, bukan bantuan pulsa internet yang kami butuhkan. Buat apa dibantu pulsa jika kami tidak dapat menggunakannya? Kami butuh sinyal 4G. Sehingga kegiatan belajar-mengajar daring dapat terlaksana dengan baik.

Saya yakin, tidak hanya kami di Papatar saja yang mengalami hal demikian. Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, hingga saat ini masih ada 12.548 desa/kelurahan yang belum ter-cover sinyal 4G. Artinya apa? Sebanyak itu pula desa/kelurahan yang tidak dapat melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara efektif selama pandemi ini. Pembelajaran "seadanya", pembelajaran daring yang terasa garing.

Jika saja anggaran bantuan pulsa yang cukup besar itu digunakan untuk membangun BTS (Base Transceiver Station) di daerah-daerah yang belum terjangkau sinyal 4G tadi, maka sedikitnya akan ada 4.800 desa/kelurahan, yang selama ini hanya di-cover sinyal 2G, yang menikmati sinyal 4G (menurut pakar telekomunikasi Onno W. Purbo, untuk membangun 1 unit BTS dibutuhkan dana sekitar Rp 1 sampai 3 miliar).

Saya berpikir membangun BTS di daerah nir-sinyal jauh lebih bermanfaat daripada memberi bantuan pulsa. Di perkotaan atau daerah-daerah yang sudah tidak lagi terkendala dengan sinyal internet, mungkin kebijakan itu tepat. Tetapi di daerah-daerah pelosok dan daerah terdepan, tertinggal, dan terluar, sinyal adalah yang terpenting. Sebab untuk apa pulsa jika sinyal tidak ada? Kemendikbud perlu meninjau ulang bantuan pulsa itu. Belum terlambat kok.

Hermanto Purba tenaga pendidik di SMP N 2 Pakkat

(mmu/mmu)