Jeda

Video Seks Artis dan Godaan Lainnya

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 08 Nov 2020 13:00 WIB
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Netizen NKRI kembali dihebohkan dengan video seks artis yang menyebar di media sosial. Seperti yang sudah-sudah, komentar pun berhamburan, dari pernyataan prihatin (sambil bisik-bisik sana-sini meminta link), sampai hujatan-hujatan yang paling kasar, sadis dan memvonis yang bisa diucapkan oleh manusia --yang bahkan tidak mengenal secara langsung orang yang dihujatnya itu.

Sebelumnya, netizen juga dibuat heboh oleh status Facebook seorang suami yang mengungkapkan kekesalannya terhadap sang istri. "Lelah kerja seharian, nyampe rumah istri cuma masakin begini," tulisnya sambil menunjukkan foto sajian makan berupa nasi, sayur asem tempe, dan sambal. "Lebih baek saya pergi makan warteg," sambungnya.

Yang kemudian bikin netizen geram dan berkomentar marah sehingga menjadi perbincangan yang sangat ramai adalah kalimat lanjutannya: "padahal uang belanja 50 ribu seminggu." Benar-benar sebuah plot twist yang bikin siapapun yang membacanya, terutama sesama perempuan dan kaum ibu, ingin membanting piring.

Dalam nada dan napas yang sama, sebelumnya lagi ada seorang pengguna Facebook yang tak kalah bikin geram. Yakni seorang suami yang menjatah istrinya uang belanja 20 ribu untuk sehari, sambil berceramah soal pelajaran tentang ketelitian dan penghematan dalam mengatur pengeluaran untuk makan. Dengan sok-meyakinkan ia menyebut harga-harga kebutuhan dan kemudian mengakhirinya dengan sebuah nasihat yang luar biasa bijaksana: jadilah istri yang pintar dan mengatur segalanya.

Baru-baru ini, sebelum kehebohan video seks artis kondang tersebut, netizen juga dibikin "ribut" oleh unggahan seseorang yang mengeluhkan harga nasi goreng di kereta api. Si pengunggah mengaku sudah cukup lama tidak naik kereta api, dan kaget ketika diminta membayar sejumlah uang yang dinilainya terlalu mahal untuk nasi goreng yang dipesannya.

Apa benang merah dari rentetan kehebohan-kehebohan itu? Apa hubungan antara video seks yang viral, suami yang bikin geram, dan keluhan tentang harga nasi goreng di kereta api?

Kita, para pengguna media sosial, telah dihipnotis oleh kekuatan tak kasat mata dari teknologi (komunikasi), untuk tujuan-tujuan yang tak pernah benar-benar kita ketahui. Sekarang ini, kita semua adalah "hewan lab" yang digiring, diatur, dan dimodifikasi. Tautan apa yang kita klik? Seberapa cepat kita berpindah dari satu hal ke hal lainnya? Di manakah dan sedang apa kita ketika melakukan semua itu --menonton video yang viral, tertawa, gembira, marah-marah, mengumpat, mengetik komentar kejam, menanggapi dengan kata-kata yang sangat berusaha menunjukkan bahwa kitalah yang paling benar dan bermoral tinggi, dan sebagainya?

Sebagai penghuni media sosial, kita menerima stimulus terus-menerus, tanpa istirahat --selama ponsel cerdas kita menyala terang dan menyilaukan, dan tombol-tombol aplikasi berada di ujung jemari kita, siap sekali sentuh kapan saja. Kita hidup dalam era ketika dongeng fantasi "pilih sendiri petualanganmu" menjadi nyata. Di antara kita barangkali mulai menyadari itu, dan berubah menjadi "anjing yang terlatih". Namun, kebanyakan dari kita tak ubahnya seekor tikus percobaan atau robot.

Keterhubungan manusia di jagad digital, meskipun harus diakui memiliki dimensi yang membawa berkah, namun selebihnya melahirkan ilusi yang mendorong kita untuk senantiasa ingin mengatakan sesuatu, sampai ke hal-hal yang semestinya tidak perlu kita ungkapkan ke publik. Seorang suami yang bermasalah dengan pengaturan uang belanja untuk makan sehari-hari dalam sebuah rumah tangga mestinya cukup bicara baik-baik dengan istrinya sambil nonton drama Korea atau di atas tempat tidur.

Ketika hal-hal yang mestinya tidak perlu dikatakan itu dibuka "keluar", dan "publik" dengan riang-gembira juga menangkapnya sebagai stimulus dan menanggapinya dengan gegap gempita; ketika harga nasi goreng --berapapun itu-- di kereta api yang mestinya merupakan "hal yang wajar" dan "biasa bisa" menjadi begitu menggegerkan, maka apa yang disebut sebagai "wacana publik" (dalam pengertian "konvensional" Jurgen Habermas) atau "opini umum" (dalam pengertian "politis" Walter Lippmann), kini berhamburan tak lebih sebagai gelembung-gelembung sabun tipis omong kosong yang melayang-layang, terlihat "indah" namun rapuh dan sebentar lagi pecah menguap tak bersisa.

Lalu kita pindah ke kesibukan lainnya, isu lainnya, menciptakan gelembung-gelembung baru yang sama-sama transparan, ringan, dan hampa. Teknologi mengubah kita menjadi Sisipus yang memanggul batu ke atas bukit, lalu menggelundungkannya, mengambilnya lagi untuk dengan susah-payah kita dorong kembali ke atas, dan menggelundungkannya lagi, demikian seterusnya. Hingga kita merasa terasing dengan diri kita sendiri, kesepian, kosong, "selo", lalu iseng, kurang kerjaan, dan lahirlah hasrat-hasrat yang paling "liar".

Kita merasa sendiri, membuka dating app, geser kiri, geser kanan, matched dengan seseorang, mengirim pesan, tapi tidak ada tanggapan, atau ada tanggapan tapi kemudian merasa tidak menemukan kecocokan, dan kita merasa sendiri lagi, dan semakin kesepian, dan depresi. Geser-geser layar lagi, memelototi setiap detail wajah-wajah bersinar dengan pakaian glamor dan gaya menawan, berfoto dengan latar objek eksotik, terkenal, dan ikonik di luar negeri, merasa bahwa semua orang hidupnya begitu bahagia dan menyenangkan, sosok-sosok indah dan gemerlap, sementara kita....

Kita kemudian membandingkan dan menimbang kembali hidup kita sendiri, diri kita sendiri, yang tidak fotogenik, tidak pandai berpose, tidak pernah pergi ke mana-mana, paling banter motoran ke Puncak, atau staycation di hotel murah dan kusam di Bandung, atau paling jauh piknik ke Pangandaran, berfoto di atas odong-odong berhias lampu flip-flop warna-warni norak-mencolok, menyusuri jalan tepi pantai yang gelap, menggemakan jedak-jeduk musik dangdut Pantura yang monoton.... Lalu kita merasa kesepian dan depresi lagi.

Teknologi keterhubungan, dengan segala rupa aplikasinya, membuat hidup kita menjadi panggung terbuka tak bertepi, atau akuarium raksasa, tempat kita bisa saling memandang dan dipandang, lalu tanpa kita sadari, perlahan-lahan kita mulai merasa ada yang salah dengan hidup kita selama ini; ada yang kurang. Kita mulai menggunakan tolok ukur kebahagiaan dan kesuksesan dengan ukuran-ukuran orang lain, yang bahkan hanya kita lihat sebagai foto-foto, avatar-avatar, akun-akun.

Kita bahkan penasaran dengan "keranjang belanja" orang lain di aplikasi marketplace; kita ingin tahu mereka telah membeli apa, dan apa komentarnya, sebelum kita sendiri memutuskan untuk memasukkan barang ke troli dan memproses pembayarannya. Kita gelisah kalau troli belanjaan kita kosong, tidak ada notifikasi pengiriman barang hari ini, dan semakin gelisah kalau sudah tidak tahu lagi apa yang mesti kita beli. Semua sudah kita beli, dari piring kayu (demi masa depan bumi) sampai bibit anggur Brasil, dari alas tidur kucing yang berbentuk sekotak roti tawar lucu hingga soju halal --apalagi yang "harus" dan "masih bisa" dibeli?

Lalu kita merasa kesepian lagi, dan makin asing dengan kehidupan ini. Kita berdiri di depan cermin, dan dengan risau berkali-kali berseru dalam hati: apa sih yang sedang terjadi dengan diriku? Apa yang salah dari semua ini? Apa yang sebenarnya sedang berubah? Hidup rasanya jadi "kemrungsung". Kita merasa dikejar-kejar dan ingin berlari sejauh-jauhnya. Tapi semua jalan telah menjadi jalan buntu. Kita membentur-bentur dinding.

Segala yang ada pada diri kita melebur, lenyap, tak nyata, karena yang nyata hanyalah apa yang kita tampilkan di aplikasi, di media sosial, di jejaring percakapan. Yang nyata hanyalah yang kita lihat dan yang kita komentari, kadang dengan sengit, "ngegas", penuh rasa benci, menguras energi dan emosi. Kita terperangkap, tersesat, dan hilang dalam status-status, unggahan-unggahan, informasi, konten, lini masa, utas, "konversasi", lalu mendapati diri kita kembali dalam sebuah perdebatan tentang video seks artis yang beredar.

Kita berdebat lagi tentang siapa yang salah, siapa yang harus ditangkap (obsesi terbesar kita di era "keterbukaan informasi" ini, selalu ingin memperkarakan dan memenjarakan orang lain), apakah penyebarnya atau pelakunya, berputar-putar dalam isu-isu yang selalu kembali, dan kita tetaplah diri yang sama, seperti dulu, kaum gagap abadi teknologi.

Ketika televisi menjadi primadona tontonan kita, dan melahirkan efek-efek tak terduga, kita dengan gagah perkasa merasa bahwa kekuasaan ada dalam genggaman kita, berupa remote control yang setiap saat bisa mematikan layar hanya dengan sentuhan kecil ujung jemari kita. Hal sama terjadi ketika internet datang. Masih dengan kejemawaan yang sama, kita merasa bahwa kitalah penguasanya, pengendalinya --teknologi hanya alat.

Kita melupakan (atau memang belum pernah mendengar?) peringatan Marshall McLuhan jauh-jauh hari, yang setengah meramalkan bahwa dalam jangka panjang, "konten" media tidak lebih penting dibanding media itu sendiri. Dengan kata lain, efek teknologi tidak terjadi pada tataran pendapat atau konsep, melainkan mengubah "pola persepsi secara terus-menerus dan tanpa perlawanan."

Mengapa kita merekam adegan seks kita sendiri dengan pasangan? Apakah kita sakit jiwa? Sembrono? Tidak berpikir panjang? Bukan semua itu --tidak sesederhana itu. Kita adalah manusia-manusia dewasa yang pintar. Kita tahu dan sadar dengan segala yang kita lakukan. Ketika teknologi memudahkan dan memungkinkan, kenapa tidak?

Mungkin sudah terdengar amat klise kalau dikatakan lagi bahwa teknologi menciptakan kebutuhan. Tapi, salah satu komentar seorang pengguna yang terselip di tengah riuhnya percakapan tentang video seks artis itu memberikan gambaran yang lebih konkret, terang, dan gamblang untuk dipahami, tentang dunia kita hari ini, siapa kita, dan bagaimana kita memandang diri kita:

Teman-teman saya yang sudah menikah juga banyak yang melakukannya kok. Dan ini tidak terkotak pada komunitas tertentu. Bahkan yang mungkin kesehariannya sangat relijius melakukan ini. Ada sensasi ketika merekam dan menontonnya. Sampai pada level tertentu bahkan merasa senang jika ada yang menonton. Its true....bahkan sampai level menyebarkannya sendiri juga ada. Hanya saja mereka aman karena bukan seleb....

Di hadapan teknologi apapun, kita bukanlah pengendali. Kita hanya penikmat yang takzim. Anak manis dan penurut yang taat. Murid rajin yang selalu hadir dan segera menyelesaikan tugasnya. Ketika sesuatu itu tidak hanya dimungkinkan, tapi juga dimudahkan, kita tidak bisa mengatakan bahwa kita tidak tergoda....

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)