Pustaka

Bencana dan Sisi Terbaik Manusia

Dikrilah - detikNews
Sabtu, 07 Nov 2020 11:27 WIB
human kind
Jakarta -

Judul Buku: Humankind, A Hopeful History; Penulis: Rutger Bregman; Penerbit: Bloomsbury Publishing, Juni 2020; Tebal: 462 Halaman

Pada 7 September 1940, 348 unit pesawat bomber Jerman mulai menghujani Kota London dengan bom. Ia meluluhlantakkan seluruh kota hingga rata dengan tanah. Total ada 80.000 bom yang dijatuhkan di kota itu selama hampir 9 bulan penuh. Jutaan bangunan hancur tak bersisa. Sebanyak 40.000 nyawa melayang akibat serangan yang dikenal dengan peristiwa The Blitz itu.

Kita menyangka betapa hancurnya masyarakat London yang selamat menyaksikan tragedi itu. Mereka akan menghabiskan sisa hidup dalam keadaan trauma, takut, dan rasa benci yang mendalam. London akan menjadi kota yang dipenuhi dendam dan teriakan. Apakah betul demikian? Jawabannya adalah tidak.

Sejarah membuktikan, London pasca pengeboman adalah London yang dulu. Kota itu tetap bergeliat pada pagi hari. Toko-toko kelontong, pasar, tukang jahit, dan pembersih sampah tetap menjalankan kegiatannya seperti biasa. Sementara sisanya, warga London tetap bahu-membahu menolong para korban tanpa peduli pandangan politiknya atau jika mereka kaya atau miskin.

Tidak ada kebencian dan kekhawatiran dalam diri masyarakat London kala itu. Ketika wartawan bertanya, "Apakah kalian merasa takut?", "Tentu tidak," jawaban mereka. "Jika kami harus takut, apakah itu baik bagi kami?"

Polisi lalu lintas tetap berjaga di perempatan dan lampu merah. Pedagang tetap melakukan tawar-menawar harga dengan pembelinya. Papan pengumuman terpajang di depan kios mereka: JENDELA-JENDELA KAMI TELAH HILANG, NAMUN TIDAK DENGAN SEMANGAT KAMI. DATANG DAN COBALAH. (hal. 12)

Tentang Sejarah

Sejarah selalu memiliki sisi lain. Ia berputar-putar dalam spektrum waktu hingga sampai di hadapan kita. Dihidangkan secara turun-temurun di meja perjamuan zaman. Pahit-getir ceritanya kadang membuat kita berpikir, kenapa manusia bisa sejahat itu.

Tapi ternyata, sejarah tak selalu menyakitkan. Ada kalanya sejarah kelam pada masa lalu memiliki kisah yang menggetarkan hati. Ada kepedulian, kesetiakawanan, welas asih dan kemanusiaan secara umum. Kadang sejarah adalah sesuatu yang perlu diperiksa kembali. Sejarah adalah tentang siapa yang menceritakannya.

Buku Humankind, A Hopeful Story ini adalah tempat kita memeriksa kembali sejarah itu. Ia menyajikan begitu banyak sisi lain dari kegelapan sejarah. Menumbuhkan harapan kita pada masa depan.

Dalam buku ini, kita akan menemukan fakta-fakta unik yang muncul di balik terjadinya banyak tragedi yang mencekam. Sebut saja tenggelamnya kapal Titanic. Bagi yang sudah menonton filmnya, kita akan melihat begitu banyak kepanikan. Fakta sejarah berkata lain. Tidak ada indikasi kepanikan, tangisan, dan ketakutan dalam kejadian itu. Proses evakuasi berjalan dengan tenang dan tertib. (hal. 18)

Dalam peristiwa 11 September 2001, ketika mengetahui Menara Kembar terbakar, ribuan orang menuruni tangga darurat dengan tertib, meskipun mereka tahu hidup mereka dalam bahaya. Mereka memberi jalan kepada petugas pemadam kebakaran yang membawa korban terluka. Dan ini yang mereka katakan: "Tidak, tidak. Anda duluan." (hal. 19)

Rousseau vs Hobbes

Tragedi dan bencana justru bisa memunculkan sisi terbaik dari sifat manusia. Rutger Bregman, penulis buku ini, membandingkan wacana dari dua filosof besar, J.J Rousseau dan Thomas Hobbes.

Rousseau mempercayai pada awalnya manusia itu baik. Mereka membawa kebaikan yang mendarah daging dalam dirinya. Peradaban (civilization) yang membuat hancurnya kecenderungan manusia kepada kebaikan. Tidak demikian dengan Hobbes. Justru keburukanlah yang dibawa manusia sejak lahir. Pada awalnya manusia berada pada "a condition of war of all against all", kondisi perang antara semua melawan semua. Konstitusi sebuah negara akan menjadikan mereka manusia yang beradab. (Hal. 58-59)

Dialektika ini dibahas Bregman dengan beragam fakta-fakta sejarah dan analisis yang memukau. Membuka cakrawala kita tentang bagaimana moral dikupas dari sudut pandang berbagai disiplin ilmu.

Interpretasi mereka diuji dengan berbagai bukti-bukti saintifik setelah beberapa dekade berlalu hingga saat ini. Buku ini menguji tentang siapakah yang benar, Rousseau atau Hobbes? Manakah yang kita harus syukuri, kehidupan kita di permulaan atau saat ini, pada saat kita hidup di bawah naungan sebuah negara?

Saya sangat merekomendasikan Anda untuk membaca buku ini.

(mmu/mmu)