Kolom

Pilpres Pos Amerika: 8 Kunci "Selamat Jalan Trump"?

Effendi Gazali - detikNews
Kamis, 05 Nov 2020 16:00 WIB
Pengamat komunikasi politik Effendi Gazali
Effendi Gazali (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Allan Litchman (American University) bersama Vladimir Keilis-Borok, pada 1981 mengembangkan 13 Keys to White House. Mereka meneliti pemilu presiden (pilpres) selama 120 tahun. Dan 13 kunci ini berhasil memprediksi dengan akurat siapa yang akan ke White House (atau mempertahankannya) sejak 1984.

Yang paling monumental adalah prediksinya pada 2016, ketika menyatakan: Trump, bukan Hillary, yang akan ke Gedung Putih. Ini seperti melawan arus hampir semua survei yang memprediksi sebaliknya.

Sementara itu Michael Shapiro, pakar psikologi komunikasi (Cornell University) menambahkan antusiasme yang berhasil dibangkitkan Trump menjadi penentu. Kunci ini perlu diperhitungkan bersama 13 kunci tersebut, mengingat pilpres saat ini selalu dalam kepungan media sosial.

Bagaimana untuk Pilpres 2020? Litchman memprediksi Biden yang menang. Ada 7 kunci yang melawan Trump. Yaitu kunci nomor 1: Kunci Mandat; Republikan kalah pada pemilihan sela 2018. Kunci 5: Ekonomi Terkini; pilpres terjadi pada resesi. Kunci 6: Ekonomi Jangka Panjang; tahun ini pertumbuhan menurun secara tajam.

Kunci 8: Kerusuhan Sosial; yang menjalar di seantero Amerika. Kunci 9: Skandal; Trump merupakan presiden ketiga yang berupaya dimakzulkan oleh DPR. Kunci 11, Sukses Luar Negeri/Militer; yang tidak menghasilkan klaim prestasi. Kunci 12: Karisma Petahana; yang makin mengecil pada basis tertentu.

Trump tentu mengetahui rumus sakti tersebut. Tim suksesnya juga tidak buta terhadap hasil-hasil survei yang melawan mereka. Semua upaya kampanye di daerah penentu sudah dilakukan habis-habisan. Utamanya di 11 Swing States, yang terdiri dari negara-negara bagian Rust Belt dan Sun Belt.

Pilpres Pos

Saat melihat Rumus Antusiasme Shapiro, arahnya justru berbalik. Kalau dulu, Trump mendapatkan antusiasme lewat media sosial, untuk membangkitkan harapan ekonomi pada kalangan kelas pekerja di pinggiran kota dan pedesaan. Sekarang, Rumus Antusiasme justru didapat Kubu Biden, yang menekankan cara pengendalian Covid-19. Serta, beberapa sikap ketenangan memimpin, yang tidak didapat warga Amerika dari figur Trump. Terutama ketika menyangkut masalah kebhinekaan Amerika.

Harus dicatat, Kunci 5 dan 6 Litchman, sebetulnya adalah soal "takdir" bagi Trump. Kalau tidak ada pandemi, yang merusak kebangkitan ekonomi Amerika, Trump akan amat mudah mempertahankan White House. Dan itu mungkin akan menutup persepsi "cacat kepemimpinan" Trump.

Celakanya, antusiasme pemilih Demokrat lebih banyak disampaikan lewat pos. Justru ini akibat kampanye pengendalian Covid-19 oleh Biden. Sama seperti pesan ibu di Indonesia perihal jauhi kerumunan.

Di Amerika memang tradisi mail-in ini sudah biasa. Sama seperti memberikan suara jauh hari sebelum hari pemilu. Tapi jumlahnya yang kali ini amat mencengangkan.

Menurut salah satu data dari Profesor Michael McDonald, jumlah pemilih sebelum hari pencoblosan mencapai 101,2 juta. Yang datang memilih lebih awal sebanyak 35,9 juta orang. Yang sudah mengirim lewat pos lebih awal mencapai 65,28 juta. Jumlah surat suara yang diantisipasi masih dalam proses pos sebanyak 26,8 juta. Artinya suara pemilih melalui pos diprediksi sampai 92 juta!

Ini sejarah baru dalam pilpres di dunia! Saya menyebutnya: Pilpres Pos!

Strategi Klaim Trump

Jangan pernah berpikir, kubu Trump yang kuat dengan algoritma pilpres lengah terhadap fakta ini. Menyadari bahaya lautan pemilih pos (mail-in) Demokrat, Republikan mengajak pemilih beramai-ramai datang pada hari pemilihan. Kenapa? Tentu saja, secara umum, E-Voting (pencoblosan elektronik) akan lebih cepat diketahui hasilnya --dibanding penghitungan terhadap surat suara lewat pos.

Apalagi beberapa negara bagian mengizinkan surat suara dikirim pada hari pemilihan, asal ada cap pos bertanggal 3 November. Bahkan ada daerah yang masih menerima surat suara lewat pos sampai 12 November. Apa akibatnya?

Strategi Trump ini pada awalnya terlihat efektif. Begitu hasil E-Voting mengalir di mana-mana, Trump mengklaim kemenangan. Bahkan segera minta penghitungan lebih lanjut dihentikan. Utamanya yang dilakukan setelah hari pemilu, dan itu artinya terhadap surat suara lewat pos (mail-in).

Malamnya pun diadakan pesta kemenangan di Gedung Putih. Oh, ya sebelumnya ada ancaman akan mengadukan penghitungan di luar hari pemilu ke jalur hukum. Strategi ini nyaris sempurna, walau akhirnya bisa terbaca juga.

Kesabaran Diuji

Sekarang kesabaran warga Amerika diuji. Kubu Biden tinggal membuktikan bahwa suara lewat pos memang sebagian besar berasal dari pemilihnya yang peduli Covid-19. Dan suara mail-in tersebut memang terbagi di 11 negara bagian penentu, bukan hanya masuk ke basis yang tradisinya ke arah Demokrat (seperti California)

Fakta yang memperkuat ini, antara lain data Profesor McDonald, bahwa dari surat suara lewat pos, jumlah pemilih Demokrat 176% kali pemilih Republikan. Sementara dari jumlah surat suara pos yang masih ditunggu terdapat jumlah pemilih Demokrat 149% kali pemilih Republikan.

Di sisi lain, Trump akan terus membuktikan bahwa ada pelanggaran serius dan pencurian gara-gara surat suara lewat pos ini. Selanjutnya amat mungkin pertarungan sampai ke Mahkamah Agung. Walau, jika Pennsylvania dan Georgia juga menunjukkan arah berbalik ke Biden gara-gara surat suara lewat pos, maka gelegar klaim Trump bisa sedikit melemah.

Sementara ini, 7 Kunci Litchman + 1 Rumus Antusiasme Shapiro nan berbalik arah, yang mencetak sejarah "Pilpres Pos", tampaknya akan menjadi ucapan "Selamat Jalan Trump"?

Effendi Gazali peneliti komunikasi politik, alumnus UI & Cornell University

(mmu/mmu)