Kolom: Obituari

Hidup Seperti Mimpi: Tuntunan Ki Seno Nugroho

Martinus Joko Lelono - detikNews
Rabu, 04 Nov 2020 12:00 WIB
ki seno nugroho
Foto: istimewa
Jakarta -

Kepergian Ki Seno Nugroho, atau yang akrab dipanggil Pak Seno, membawa duka bagi jutaan penggemarnya, termasuk saya. Dalang yang satu ini menjadi ikon dari seni pedalangan di era internet. Penggemarnya di Youtube begitu banyak. Tak kurang dari 10.000-an orang menonton secara langsung pagelaran yang dipanggungkan dan disiarkan secara langsung hampir tiap malam. Beberapa akun Youtube-nya memiliki subscriber lebih dari 400.000.

Tentu Anda harus menghitung begitu banyak vlog pendek yang dipotong-potong oleh para penggemarnya yang diambil dari pementasan wayangnya, entah karena lucu ataupun karena sarat makna. Belum terhitung jumlah anggota PWKS (Penggemar Wayang Ki Seno Nugroho) yang tersebar di seantero Indonesia bahkan di berbagai penjuru dunia.

Ketika mendengar kepergian beliau, saya langsung teringat ungkapan ini, "Wong urip ki sing dienteni apa aku tak takon? He. Wong urip sing dienteni apa, Truk? Sugiho, duweo drajat pangkat, bandane saktumpuk, seprapat jagad. Ning wong urip kui mung kaya wong ngimpi. Gagasen umurmu saiki pira? Kowe kelingan zaman cilikanmu lak gelis to? Ming kaya wong ngimpi to? Tur kui mung kari ngenteni modar."

(Dalam hidup itu manusia menunggu apa? Betapapun ia kaya, punya pangkat, harta berlimpah seperempat dunia. Namun hidup manusia itu hanya seperti mimpi. Coba direnungkan, berapa umurmu? Kamu ingat akan masa kecilmu yang begitu cepat kan? Cepat sekali. Seperti mimpi saja rasanya).

Ungkapan itu menjadi pengingat tentang kesementaraan hidup. Namun, dalam kesementaraan hidupnya yang belum genap setengah abad, Pak Seno sudah membantu banyak orang memaknai kehidupan. Ia memenuhi tugas seorang dalang yang tak sekadar menampilkan tontonan, melainkan juga menawarkan tuntunan kehidupan. Saya merangkum tiga tuntunan Pak Seno: kebijaksanaan milik semua orang, hidup sebagai pengabdian, dan seni sebagai sarana kepedulian.

Kebijaksanaan Milik Semua

Tentu lumrah kalau Anda mendengarkan kata-kata bijak dari seorang pemuka agama, pemimpin masyarakat, atau seorang terpelajar. Demikian pula dalam pewayangan, tokoh Semar dan Kresno sebagai pamomong Pandawa amat sering ditampilkan sebagai orang-orang yang menyampaikan tuntunan kehidupan. Namun, Pak Seno memiliki kekhasan yaitu bahwa kebijaksanaan itu milik semua orang, termasuk tokoh Bagong yang sering hanya ditampilkan dengan banyolan-banyolannya secara umum.

Menariknya, tokoh Bagong ini bahkan ditampilkan sebagai yang memberi kritik dan masukan kepada Semar dan Kresno, bahkan kepada Pandawa, tuan-tuan mereka. Setiap kali menonton pementasan beliau, orang dibuat sadar bahwa kebijaksanaan itu milik semua orang. Pak Seno ingin mengajak orang dari berbagai lapisan menyadari bahwa tiap orang punya kebijaksanaannya masing-masing.

Dia seakan mengatakan, "Kalau Bagong yang hanya batur (hamba) saja bisa sebijaksana itu, apalagi Anda-Anda yang adalah presiden, gubernur, pemimpin agama, orang-orang terpelajar, dan berbagai profesi yang pasti lebih tinggi dari pekerjaan Bagong yang hanya seorang batur."

Dalam sebuah vlog-nya, Pak Seno mengungkapkan, "Sing penting aku wis memberi warna lain dalam dunia pewayangan dengan menonjolkan tokoh Bagong...Dadi yen nonton aku ya nonton gojek ning ana pituture." (Yang penting aku sudah memberi warna lain dalam dunia pewayangan dengan menonjolkan tokoh Bagong...Jadi kalau nonton pementasanku ya nonton bercandaan tetapi ada nasihatnya).

Tiap-tiap kali menontonnya secara langsung maupun melalui streaming, saya tertegun menemukan cara yang sangat genius untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan. Banyolannya bukan banyolan yang mentah, melainkan banyolan yang penuh dengan makna kehidupan. Bagong menjadi corong bagi Pak Seno untuk menyampaikan tuntunan kehidupan bahkan kepada orang-orang yang biasanya menjadi pemberi nasihat.

Sekali lagi, di tangan Pak Seno, seolah mau dikatakan bahwa setiap orang mempunyai kebijaksanaannya masing-masing.

Hidup Sebagai Pengabdian

Penggemar-penggemar Pak Seno tentu tahu betapa ia sangat mensyukuri profesinya sebagai dalang. Sebagai anak dari seorang dalang (Ki Suparman), Pak Seno melanjutkan profesi di dunia pedalangan meski dengan cara yang berbeda. Ia kagum dengan Ki Manteb Soedharsono yang adalah dalang Solo. Pak Seno mengenang:

"Waktu saya SMP, waktu itu saya diajak Bapak saya menonton Ki Manteb Soedharsono mendalang di Sasono Hinggil. Dari situ saya melihat kepiawaian Pak Manteb mementaskan sebuah wayang itu luar biasa. Setelah itu terpacu atau terpecut hati saya. Beliau pun bisa, asal kita belajar, kita akan bisa. Meski tidak bisa seperti beliau, tetapi setidaknya bisa meniru cara beliau mendalang. Dari situ saya semangat sekali. Saya semangat belajar mendalang di rumah."

Ungkapan ketersentuhan hati dan keinginan untuk meraih mimpi rasa-rasanya menjadi teladan dari Pak Seno. Dia mengalami berbagai macam kesulitan dalam belajar mendalang, tetapi hati yang sudah terpecut membuatnya terus memperjuangkan mimpinya.

Saya rasa semua orang setuju bahwa di masa-masa akhir hidupnya, Pak Seno menjadi dalang yang paling populer dengan berbagai kekhasannya. Ia tak hanya meniru idolanya tetapi menemukan sendiri keunikannya dalam mendalang. Bukankah ini teladan yang luar biasa? Pak Seno menemukan jalan sebagai seorang seniman, semoga kita pun juga.

Seni dan Kepedulian

Di masa pandemi Covid-19, Pak Seno menjadi simbol seniman yang peduli pada seniman lain. Setelah beberapa waktu tidak manggung, pada pertengahan April, Pak Seno mengadakan pentas wayang berdurasi pendek. Ia berkolaborasi dengan pelukis Nasirun. Pentas itu terbuka untuk donasi bagi seniman-seniman yang terdampak pandemi. Lukisan yang dibuat juga dilelang guna menambah dana sosial yang sama.

Setelahnya, Pak Seno terus mengadakan pementasan wayang dengan durasi pendek, terutama agar krunya masih bisa mendapatkan penghasilan. Kepiawaiannya dalam mendalang, kemampuannya menyentuh rasa-perasaan penonton, dan jiwa pedulinya yang besar itulah yang amat mungkin membuat orang kagum, hormat, sekaligus cinta kepadanya. Ia memenuhi kebijaksanaan hidup yang pernah diungkapkannya melalui tokoh Bagong. Ia mengatakan:

"Mula dadi wong neng alam donya kui aja seneng diajeni, ning senenge ditresnani. Yen isa loro-lorone dicakup, ya diajeni ya ditresnani. Yen mung diajeni wae, nek ketemu sampeyan waduh penemban Durna, ning suk yen sampeyan suk modar, ora ana wong layat...Ning yen ditresnani, ora ming nalika urip, ning najan wis ora ana diparani sanak kadang, mitra kaweruh, sedulur tangga teparo didongakke, diparani sareane didongakke, dijalukke pangapura. Kui wong tresna."

(Maka menjadi manusia di dunia itu jangan suka dihormati saja, tetapi berbahagialah kalau dicintai. Kalau bisa keduanya dicapai, dicintai dan dihormati. Kalau hanya dihormati saja, kalau ketemu akan mengatakan hormat-hormat, tetapi pada waktu meninggal, tidak ada yang melayat. Tetapi kalau dicintai, tidak hanya ketika hidup, tetapi meski sudah meninggal didatangi saudara, kenalan dan tetangga untuk didoakan, didatangi makamnya, dimintakan pengampunan. Itulah ungkapan orang yang mencintai).

Selamat Jalan

Rasanya tidak ada kata yang bisa terungkap untuk mensyukuri hidup Pak Seno kecuali terima kasih karena boleh memetik buah kehidupan dari tuntunan-tuntunan dalam tontonan wayangnya. Terima kasih sudah menuntun kami untuk belajar memaknai kehidupan kami. Dalam kata dan teladan hidupmu, engkau mengajari bahwa hidup tak hanya sekedar berjalan, melainkan kesempatan untuk menjadi bermakna. Selamat jalan, Idola! Doa kami menyertai.

Martinus Joko Lelono pastor Katolik, alumnus Program Doktoral ICRS Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

(mmu/mmu)