Kolom: Obituari

"Ketika Puntodewa Beli Tisu": Selamat Jalan, Ki Seno Nugroho!

Kristin Samah - detikNews
Rabu, 04 Nov 2020 10:21 WIB
Dalang Wayang Ki Seno Nugroho
Ki Seno Nugroho (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Saat saya banyak bertanya tentang tokoh-tokoh wayang, ada yang keheranan. Kapan mulai menyukai wayang? Ketika mengenal Dalang Seno di sebuah acara di rumah Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Di kemudian hari, diperkuat penampilan Sinden Elisa Orcarus Alaso. Sejak itu, semua video yang ditayangkan di Youtube selalu saya tonton. Bahkan episode-episode sebelum "perkenalan" itu pun saya lahap habis.

Pagi ini, 4 November 2020, saya menitikkan air mata ketika mendengar kabar kepergian Dalang Seno (lahir 23 Agustus 1972). Meskipun belum pernah bertatap muka langsung, bagi saya, Dalang Seno telah membawa angin segar perubahan, sehingga seni pertunjukan wayang menjadi sangat populer.

Subscriber di Youtube-nya hampir mencapai 500 ribu. Setiap kali live streaming, jumlah penonton bisa mencapai lebih dari 20 ribu.

Mengapa Pak Seno sangat dicintai dan dinanti? Ia mampu menangkap fenomena kejenuhan, ironi, formalisme semu, hipokrisi --semua dimunculkan dalam penampilannya. Saya turut merasakan kepiluan yang sangat mendalam ketika ia memperjuangkan para seniman tradisional agar tetap bisa berkarya di masa pandemi.

Kadang-kadang emosinya menjadi tak terkontrol ketika menyuarakan ironi dalam kehidupan sosial. Mall, pusat perbelanjaan, bahkan tempat pariwisata sudah dibuka, tapi tertutup untuk sekolah dan seni pertunjukan. Bukankah lebih mudah mengatur protokol kesehatan di sekolah-sekolah dan di dalam seni pertunjukan dibanding di pasar, pusat perbelanjaan, atau di berbagai objek pariwisata?

Bukankah anak-anak lebih menurut pada apa yang disampaikan guru meskipun hal yang sama juga diajarkan orangtuanya di rumah?

Benar juga apa yang ia teriakkan. Jangan lihat dalang, jangan lihat penyanyi, jangan lihat pekerja seni yang sudah punya kaliber. Mungkin mereka masih bisa berkreasi, mungkin mereka masih punya tabungan, atau mungkin banyak orang mengulurkan tangan membantu. Lihatlah tukang "tositem" --cara dia memplesetkan "sound system". Lihat pekerja-pekerja yang bisa memperoleh hasil dari penampilan seni pertunjukan. Mereka yang mengais rezeki dari parkir, berjualan kopi, dan sebagainya.

Dalam versi berbeda, kritik sosial disampaikan Ki Seno ala gojek kere. Guyonan tentang bagaimana pemimpin, majikan, atau orang-orang kaya memperlakukan anak buahnya. Tentu saja ia memerankan diri sebagai pengarep atau pemimpin yang semena-mena terhadap anak buahnya, baik dalam berbagi hasil maupun dalam memberi penghormatan.

Saya yakin, dalam praktik keseharian, Ki Seno bukan seperti yang ia gambarkan itu. Semakin sering sinden dan pengrawit disebut untuk "di-bully", saya menangkap di situlah letak keakraban dan perhatiannya.

Caranya menegur dan membangun kerukunan di antara para personel mengingatkan saya pada suasana guyub-rukun masyarakat pedesaan di Jawa. Caranya menegur dan menjadikan personelnya bulan-bulanan di pertunjukan terbukti bisa membuat mereka bisa memaksimalkan talenta yang dimiliki.

Bagi orang yang tidak menghayati, mungkin terdengar menyakitkan. Namun kohesi sosial yang diikat dengan gaya guyon maton itulah yang justru memperkuat ikatan persaudaraan di antara mereka.

Tidak akan ada lagi segmen Prabu Kresno "dikerjain" Petruk dan Bagong, tetapi kegelian sendiri. Tidak akan ada lagi Werkudoro terbahak ketika mendengar adiknya, Arjuna, dipanggil Jlamprong oleh Bagong. Tidak mungkin lagi Puntodewa mampir minimarket. Ah...barangkali saat ini Ratu Amarta itu sedang memborong banyak tisu untuk menghapus air mata para penggemar Dalang Seno.

Selamat Jalan, Ki Seno Nugroho....

Kristin Samah mantan wartawan, penulis beberapa buku

(mmu/mmu)