Sentilan Iqbal Aji Daryono

Andai Saya Anggota Klub Moge

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 03 Nov 2020 17:18 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Barisan itu selalu muncul dalam performa tetap. Sepeda motor besar-besar, hitam-hitam berkilat, dengan para pengendara berjaket kulit dan berkacamata gelap, dengan knalpot-knalpot bersuara kuat. Melesat cepat, susul-menyusul, dengan pengawalan istimewa, membuat para pengendara lain mulai mobil sampai sepeda kayuh geragapan menyingkir.

Entah sudah berapa puluh kali kita mendengar gerundelan tentang orang-orang bermotor gede itu. Bisa jadi, siapa pun yang menggerundel itu pernah harus mengerem mobilnya dengan mendadak, untuk mempersembahkan jalan yang lapang dan penuh penghormatan bagi barisan istimewa tadi. Mungkin ada juga yang sepeda motornya sampai terpaksa turun ke bahu jalan. Kemudian omelan itu berhamburan, tapi ya berhenti saja sebatas omelan. Emang mau ngapain selain cuma mengomel?

Pada awalnya, saya pun termasuk salah satu dari para pengobral omelan. Tapi lambat laun, terutama sejak kejadian di Bukittinggi kemarin, saya paham dan bisa membayangkan andai saya sendiri jadi anggota klub moge. Saya jadi sangat maklum, bahwa memang semestinya perilaku stereotip para penunggang moge itu ya harus seperti itu. Mereka tidak bersalah. Mereka cuma menjalankan sikap yang sewajarnya.

Ini beneran. Andai saya ada di posisi mereka, mustahil saya tidak tergoda untuk memanfaatkan segala posisi istimewa yang saya punya.

Coba bayangkan saja, saya ini orang kaya. Mana ada orang miskin punya moge? Ngimpi! Satu unit moge termurah saja rata-rata harganya 400 juta. Itu 235 kali upah minimum di Jogja. Artinya, seorang buruh di Jogja harus bekerja 235 bulan alias hampir 20 tahun dulu baru bisa beli satu moge. Itu pun kalau selama dua dekade itu si buruh dan keluarganya nggak pakai makan.

Nah, sebagai orang kaya, tentu saja saya istimewa. Nggak istimewa bagaimana? Apa sih yang tidak bisa dibeli di negeri ini dengan kekayaan? Mau beli mobil bisa, beli properti bisa, beli pengawalan khusus bisa, bahkan kadang-kadang beli hukum pun bisa. Dan itu baru keistimewaan saya yang pertama.

Selanjutnya, dengan punya moge, saya akan masuk ke klub moge. Ini tentu melipatgandakan keistimewaan saya. Dari mata sampean yang ngenes-ngenes itu, menjadi anggota klub moge barangkali cuma urusan hobi. Tapi buat saya tentu tidak. Sebab saya berkumpul bareng sesama orang kaya. Di sinilah puluhan kekuatan dan keistimewaan berpadu. Kami kaya, lalu berserikat dan saling memperkuat bersama orang-orang kaya lainnya.

Kita tahu analogi lama itu. Sebatang lidi akan mudah dipatahkan. Tapi jika lidi-lidi itu dikumpulkan lalu diikat menjadi sebatang sapu, ia jadi liat, kuat, dan bahkan pendekar sesakti Mbak Chintya Candranaya pun belum tentu mampu mematahkannya. Tapi itu kalau cuma lidi. Adapun saya ini bukan lidi! Enak aja. Saya orang kaya, dan saya lebih pas dianalogikan dengan linggis dari baja. Kalau untuk mematahkan sebatang linggis saja Anda mustahil mampu (meski Mbak Chintya konon mampu), apalagi kalau puluhan linggis itu diikat menjadi satu!

Itu baru kekuatan tak kentara, yang saya simpan di balik rekening saya yang tak diketahui orang berapa puluh M saldonya. Belum lagi kekuatan yang tampak telanjang, yaitu performa kami yang gagah perkasa di jalan raya.

Kadang tanpa sadar, posisi duduk saya sendiri di atas moge itu pun secara psikologis memengaruhi kepercayaan diri saya. Pernah saya coba naik Honda Beat yang mungil itu, dan ternyata kaki panjang saya jadi agak nekuk ke dalam. Percaya nggak percaya, itu memunculkan perasaan kecil dan lemah di jalanan. Tapi tiap kali naik Harley, lihat, kaki saya mengangkang ke depan, mengapit tangki bensin yang besar, dengan tangan terentang menggenggam setang yang terbentang lebar. Gagah sekali. Gahar sekali. Orang pasti keder melihat saya.

Belum lagi pose kepala dan wajah, yang beda dengan ketika naik Ninja. Di atas Ninja, pandangan cenderung menunduk, menghadirkan naluri membalap. Tapi di atas Harley, kepala saya menghadap ke depan, kadang agak menengadah, dan otomatis rasanya diri ini jadi siap menabrak sekeras mungkin setiap penghalang yang berani-beraninya mengganggu lintasan jalan di hadapan saya.

Nah, sendirian saja tampilan saya sudah seberwibawa itu. Apalagi kalau ramai-ramai bersama segenap anggota klub. Ya, di jalanan, tentu saya tidak sendirian. Saya bersama kawan-kawan. Banyak sekali, dan semuanya gagah-gagah sekali. Dalam pasukan kavaleri dengan sekian belas atau sekian puluh anggota, kepercayaan diri ini terbangun sempurna.

Saya jadi teringat masa-masa itu. Masa ketika saya masih remaja dan ikut dalam barisan bermotor, untuk pawai kampanye sebuah partai berbendera hijau yang tak ingin disebutkan identitasnya.

Berjalan pelan-pelan beriringan dengan puluhan motor, dengan knalpot blombongan yang suaranya bisa bikin pecah gendang telinga, apalagi sambil lutut dinaikkan di jok boncengan belakang, saya merasa jadi penguasa jalanan. Kalau ada kendaraan lain yang berpapasan dengan kami, cukup saya tudingkan jari ke muka si pengendara motor atau mobil di depan, sambil tanpa kata-kata melontarkan perintah tegas: "Minggir kamu!" Dan seketika mereka pun dengan panik menyingkir memberikan jalan. Saya merasa sangat perkasa. Pada hari itu, jalan raya ada dalam genggaman kekuasaan saya.

Coba bayangkan, kalau bersama pasukan motor dengan knalpot versi cempreng memekakkan telinga saja saya bisa merasa sangat berkuasa, apalagi kalau knalpot pasukan kami versi brum-brum-brum yang lebih pas dirasakan sebagai penggetar dada. Apa tidak ciut dan gemetar juga perasaan orang-orang yang menyingkir itu? Apa tidak takut mereka kalau sampai telat membukakan jalan buat saya dan kawan-kawan?

Tentu saja mereka takut. Pasti takut. Dan menjadi barisan yang ditakuti itu menyenangkan, bukan? Kita bisa bebas berbuat sesuka-suka kita. Kita bisa melihat orang-orang terpukau menatap kita, memandang ngeri, atau malah menunduk dengan penuh hormat. Ini sangat menyenangkan.

Terakhir, karena kami kaya, kami kuat, dan kami berserikat, kami pun dengan mudah mengajak sesama orang kuat untuk bergabung dengan kami. Mereka bukan cuma kuat karena kaya, tapi lebih-lebih lagi karena mereka punya power lain yang kalian tahu apa bentuknya. Nah, bersama sosok-sosok itu, kami jadi lebih perkasa dan lebih perkasa, jauh melampaui geng motor biasa, apalagi sekadar geng sepeda lipat yang bergerombol ramai sekali tapi bisanya cuma selfie-selfie. Hahaha!

Pendek kata, diam-diam kami telah berhasil menggabungkan setidaknya empat jenis kekuatan yang punya keistimewaan tinggi di negeri ini: kekuatan kekayaan, kekuatan performa, kekuatan massa, dan kekuatan lain yang, anu, saya takut menyebutkannya.

Nah, sekarang, Anda sudah bisa membayangkan bagaimana perasaan saya, kan? Makanya, jangan ribut-ribut amat, pahami saja.

Sambil menunggu Anda belajar memahami semuanya, saya pamit dulu. Saya mau mencuci Vario saya yang kemarin kehujanan dan kecipratan lumpur becek jalanan.

Iqbal Aji Daryono penulis, bukan anggota klub motor mana pun

(mmu/mmu)