Perjalanan

Jejak Bung Karno di Mojokerto

Rio F. Rachman - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 14:00 WIB
Patung Bung Karno 'kecil' di SDN Purwotengah Kota Mojokerto
Jakarta -

Sang Proklamator Soekarno tidak hanya meninggalkan jejak di Surabaya ketika sekolah di Hogere Burger School, dan Bandung saat kuliah di ITB. Di masa usia emas, lelaki bernama kecil Koesno ini mengenyam pendidikan setara sekolah dasar di Tweede Inlandsche School (saat ini SDN Purwotengah Kota Mojokerto), dan melanjutkan belajar di Europesche Legore School (SMPN 2 Kota Mojokerto).

Mungkin, kisah tentang Bung Karno di Kota Mojokerto tidak sepopuler ceritanya di Surabaya, Bandung, Ende, atau pun Blitar. Faktanya, sejumlah literatur menyebutkan, Bung Besar berada di Kota Mojokerto lebih dari delapan tahun, pada rentang 1908-1916 (Tamar Djaya, Soekarno-Hatta Persamaan dan Perbedaannya, 1983).

Artinya, satu dari Dwitunggal Bangsa Indonesia ini berada di kota yang relatif kecil tersebut pada masa penting dalam hidupnya, di usia sekitar tujuh sampai lima belas tahun. Kota Mojokerto punya peran penting dalam pertumbuhan Bung Karno yang kemudian menjadi seorang intelektual berpengaruh.

Sudah barang tentu pemikiran-pemikiran revolusioner Bung Karno tidak bisa dipisahkan dengan setiap momentum pengalamannya tatkala menghirup udara, meminum air, dan melangkah di bumi Mojokerto. Perspektif Bung Karno soal gotong royong (A. Dewantara, Alangkah Hebatnya Negara Gotong Royong, 2017), politik kebangsaan dan keislaman, kebangsaan maupun keberagaman di Nusantara, pasti berhubungan dengan semua kisah masa lalunya (A. Sanusi, Pemikiran Transformatif Soekarno Dalam Politik Islam, 2018), termasuk saat berada di Kota Mojokerto.

Beberapa sumber menyebutkan, Bung Karno pernah secara khusus berteman dengan orang Belanda. Belakangan diketahui kalau tujuan utamanya adalah agar memiliki teman penutur asli buat praktik belajar bahasa Belanda. Di Mojokerto pula, Bung Karno dikenal suka bermain khas anak-anak, misalnya memanjat pohon. Pada kesempatan itu, Bung Karno kecil selalu ingin berada di posisi tertinggi. Hal ini menampakkan wataknya yang ingin menjunjung Tanah Air tanpa penjajahan dari pihak mana pun.

Pada 2019 silam, dua sekolah yang pernah menjadi tempat belajar Bung Karno di Kota Mojokerto diresmikan menjadi cagar budaya oleh pemerintah setempat. Wali Kota Ika Puspitasari juga gencar mensosialisasikan dua bangunan bersejarah itu, agar kemudian bisa menjadi objek wisata historis. Yang pada gilirannya dapat melecut semangat patriotisme masyarakat. Hal itu secara gamblang disampaikannya pada program Srawung di TVRI Jawa Timur, edisi 18 Agustus 2020.

Dalam banyak kesempatan, Wali Kota Ika Puspitasari juga melaksanakan sejumlah kegiatan monumental di sana. Antara lain, peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2020 di SDN Purwotengah Kota Mojokerto dan Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2020 di SMPN 2 Kota Mojokerto. Peringatan Hari Lahir Jawa Timur pada 12 Oktober 2020 juga digelar di SMPN 2 Kota Mojokerto.

Saat ini cagar budaya tersebut sedang diupayakan agak menjadi kawasan objek wisata yang representatif. Wali Kota Ika Puspitasari menyampaikan, setidaknya dua nilai penting dari upaya pengelolaan cagar budaya tersebut sebagai objek wisata sejarah. Pertama, sebagai tuas pembuka semangat nasionalisme.

Di era kekinian, negeri ini butuh sebanyak mungkin pengungkit rasa cinta Tanah Air untuk semua lapisan masyarakat. Terlebih, era globalisasi telah membuka keran bagi gerakan-gerakan transnasional yang menggerus kearifan lokal. Cagar budaya sekolah Bung Karno bisa menjadi salah satu penjaga semangat kebanggaan warga terhadap jati diri bangsa.

Bung Karno merupakan salah seorang teladan unggulan negeri ini. Kegigihannya memperjuangkan kemerdekaan dan kerelaannya berkorban demi bangsa adalah poin yang layak dicontoh setiap orang. Teknis penyampaian pesan-pesan moral semacam itu di objek wisata ini akan diatur sedemikian rupa. Sebagai contoh, bisa melalui media desain komunikasi visual modern.

Kedua, sebagai salah satu penggerak ekonomi kerakyatan. Keberadaan objek wisata pasti berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat. Usaha mikro kecil dan menengah setempat akan berkembang. Pemasukan daerah ikut melonjak (Pitana & Gayatri, Sosiologi Pariwisata, 2005).

Secara umum, pengembangan potensi objek wisata cagar budaya sekolah Bung Karno tidak hanya berdampak positif bagi Kota Mojokerto. Namun, juga berdampak positif bagi masyarakat Indonesia dan khazanah pengetahuan sejarah tentang Bapak Pendiri Bangsa itu. Hingga saat ini, sebagian masyarakat merasa terinspirasi saat berkunjung ke tempat kos Bung Karno di Peneleh, Surabaya atau ke makamnya di Blitar. Ada pula yang merasa bersemangat saat bisa satu almamater di ITB. Harapannya, masyarakat juga bisa menyesap spirit kebangsaan melalui kisah-kisah Bung Karno di Kota Mojokerto.

Rio F. Rachman dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

(mmu/mmu)