Kolom

Macron dan Islam

Afrizal Qosim Sholeh - detikNews
Jumat, 30 Okt 2020 16:11 WIB
Pengendara melintas di atas poster berwajah presiden Prancis Emmanuel Macron yang ditempel di simpang Jalan Kauman, Yogyakarta, Rabu (28/10/2020). Pemasangan poster bergambar wajah Presiden Prancis tersebut sebagai bentuk protes dan kecaman terhadap pernyataan yang dilontarkan oleh Emmanuel Macron yang dianggap menghina umat muslim.
Poster Emmanuel Macron ditempel di jalanan di Yogyakarta (Foto: Pius Erlangga)
Jakarta -

Presiden Macron telah menjatuhkan pilihan. Di negeri Voltaire yang memiliki buku terbaik, musik terbaik, makanan terbaik, isu multirasial dibiarkan tersulut layaknya pasar mode. Pergumulan pasar itu, salah satunya, hanya terpisah satir tipis agama, yang oleh Macron ditautkan sebagai produk utama.

Pasar itu lalu menaik daya tawarnya ketika Macron menolak melarang Charlie Hebdo menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad. Macron membumbui perlawanan bercorak politis itu dengan menjerat lecite sebagai friksi. Meski begitu, daya tariknya belum mampu menyaingi teknik Prancis ketika menjuarai Piala Dunia 2018; tidak perlu bermain cantik untuk menang.

Berangsur-angsur "corak politis" itu kian memuncak ketika kasus Samuel Paty (47) dijadikannya sebagai bahan bakar. Paty, guru sejarah di Conflans-Sainte Honorine, Paris, barangkali tidak menduga apabila media belajar berupa kartun Nabi Muhammad yang dipakainya di kelas diskusi kewargaan bertema kebebasan berbicara (freedom of speech) itu merampas kehidupannya. Di tangan Abdullakh Anzorov, seorang remaja muslim berusia 18 tahun kelahiran Chechnya, Paty dipenggal, Jumat, (16/10).

Cecile Ribet-Retel, Ketua PEEP de Conflans, asosiasi wali siswa nasional mengatakan kelompoknya mendapatkan informasi dari sekitar 20 wali siswa yang mengungkapkan kemarahan dan dukungan kepada sang guru. Mereka saling bersemuka, dan sebenarnya telah mencapai kesepahaman. Paty pun telah menyadari ketelodorannya dan mengirimkan permohonan maaf melalui surel.

Apa boleh buat, distorsi informasi di media sosial berjalan memperkeruh keadaan. Anzorov yang bukan murid di kelas Paty, mendengar desas-desus karikatur Nabi Muhammad itu dari sebaran di media sosial. Kepincangan pemberitaan segera beralih ke permasalahan teologis-politis yang mencekam, hingga berujung tragis. Anzorov meninggal belakangan di tangan polisi Prancis.

Semenjak itu, kasus Paty menjadi kontroversi nasional di Prancis. Berbilang-bilang komentar kembali memanas di media sosial, pelebaran urusan kemudian dipantik Presiden Emanuel Macron yang tidak segan mendeskripsikan Islam sebagai agama yang mengalami krisis di seluruh dunia, dan seketika itu dia menyerukan "serangan kepada terorisme kelompok Islamis".

Tentu, pernyataan Macron ini menyenggol kelompok muslim Prancis. Lapisan sosial secara vertikal yang menekan membuat mereka ketar-ketir. Tersudut. Mereka mengkhawatirkan kejadian Paty digunakan untuk menjalankan kebijakan pemerintah yang mencampurkan Islam dengan terorisme. Sialnya, sudah terjadi. Macron hendak mengawasi Islam dengan mewanti-wanti campuran dari luar, yang dimaksudkan untuk membentuk subkultur "Islam di Prancis".

Kritik keras bertubi-tubi menampar Macron, mulai dari mufti al-Azhar Mesir, dewan muslim dunia, hingga NU dan Muhammadiyah yang secara deklaratif memberikan nasihat ihwal "pemimpin yang adil". Di kubu lain, pemimpin Eropa mendukung Macron, termasuk Kanselir Jerman Angela Merkel, pemimpin Yunani, dan Austria yang menyatakan solidaritas Paris.

Isu yang kadung memanas ini coraknya merembes ke urusan diplomatik dan ekonomi. Presiden Recep Tayyip Erdogan melancarkan serangan baru kepada Macron. Islamis Turki itu mengatakan bahwa Macron membutuhkan perawatan dan "pemeriksaan kejiwaan" atas sikapnya terhadap muslim dan Islam. Lepas itu, negara-negara persaudaraan muslim seperti Turki, Palestina, Iran, Yordania, Libya, Mesir, Aljazair, dan Maroko berbondong-bondong memboikot produk Prancis.

Kritik Agama

Peristiwa yang menyangkut identitas kultural muslim di seluruh dunia ini mengingatkan saya pada tulisan Sukarno berjudul Islam Sontoloyo yang terbit di Majalah Pandji Islam pada 1940. Kontroversial? Jelas.

Kritik Sukarno itu berangkat dari kasus seorang guru agama yang memperkosa muridnya dengan dalih praktik pelajaran agama. Mengutip warta Pemandangan, Sukarno menuturkan modus si guru cabul. Kepada murid-muridnya, sang guru mengaku pernah berbicara dengan Nabi Muhammad. Sukarno mencoba mengkritisi perilaku kau beragama yang menyeleweng dari norma dan ajarannya. Dia mengutuk keras perbuatan tersebut sampai menyebut "sontoloyo", yang berarti konyol, tak beres, bodoh. Ini dipakai sebagai kata makian.

Usai terpublikasi, Sukarno menerima reaksi yang dapat ditebak. Polemik datang dari sana-sini, terutama dari mereka yang merasa agamanya dihina, sebab bersanding dengan umpatan.

Secara mendasar, sikap Macron seragam dengan Sukarno 80 tahun silam. Keduanya berhasil menarik kategorisasi umat beragama yang sikapnya menyeleweng dari ajaran. Sembari berharap moralitas baru mekar dengan sikap beragama yang berbunga-bunga. Lain dengan Macron, dia sangat berlebihan. Dia menggebyah-uyah perilaku Islam secara global. Persis Donald Trump.

Corak Baru

Memang ironis kalau simbol lebih dikenal daripada kenyataan. Arus ini yang fasih membentuk dua tipikal kelompok muslim di dunia. Pertama, mereka yang mengidealisasi Islam sebagai alternatif satu-satunya terhadap macam isme dan ideologi. Kedua, mereka yang menerima "dunia ini apa adanya". Tipe pertama adalah kelompok yang dikritik oleh Macron dan Sukarno, sementara tipe kedua jauh lebih banyak dan beragam, tapi sekali lagi, Macron menafikannya.

Sebenarnya apa yang diharapkan oleh Macron selain misi sekularisme? Sengaja menimang-nimang sekularisme baru dalam dunia muslim --kalau tidak mau disebut sebagai usaha pragmatis politik belaka?

Modern ini, sekularisme baru memang sedang menggejala. Arab Barometer, jaringan penelitian di Princeton dan Universitas Michigan memberikan sinyal gelombang sekularisme baru di lima tahun terakhir di enam negara Arab. Kepercayaan terhadap atribusi partai dan pemimpin Islam merosot. Memang trennya tidak besar, 8% orang Arab mendeskripsikan dirinya tidak religius pada 2013, dan mengalami sedikit perubahan 13% pada 2018. Bisa jadi Macron memanfaatkan kebangkitan baru ini untuk Islam di Prancis.

Di sisi lain, Macron sedang meniadakan fakta sejarah perihal pemahaman studi wilayah Prancis yang luar biasa. Mereka menjajah dari Pasifik Selatan, Timur Tengah dan Afrika. Tapi toh, ternyata yang dianggap sebagai warisan oleh Macron bukanlah keluasan wawasan pemahaman terhadap realitas tersebut, melainkan watak politis kolonialisme yang menempatkannya sebagai pemimpin kanan konservatif.

Dari absolutisme Macron yang buta realitas tersebut, ada hikmah terselip agar Prancis mendewasakan cara berpikir dalam upaya pencerahan (enlightenment). Dengan cara memberikan peluang bernapas bagi keragaman Prancis, sekaligus mengantisipasi kebebasan sebagai sebuah kebebasan sebelum ia berganti kelamin menjadi kebebasan sebagai perbudakan (freedom is slavery), kata George Orwell. Bukankah ketertutupan hanya membuktikan ketidakmampuan melestarikan keberadaan diri dalam keterbukaan?

Tetapi, apabila Macron tetap mempertahankan cara tersebut, barangkali yang muncul adalah wajah versi radikal dari pencerahan: sangat anti-Kristus dan jelas anti-agama, mengingatkan apa yang membuat Prancis menentang Gereja Katolik yang hegemonik.

Bagaimanapun, kita, muslim yang berakal, kita bisa berdamai, tidak ada perang, selayaknya senormal kondisi kebutuhan hidup manusia. Demikian pula, kita bia membela keyakinan kita tidak dengan teknik dogmatis, tapi dengan musyawarah dan kebajikan. Memberangus ketakutan terhadap agama, Islamofobia atau Xenofobia dengan kebaikan.

Dengan pikiran tersebut, jika saya pemimpin muslim Prancis, cara yang saya pakai untuk merespons Macron adalah: saya akan mengiriminya sepucuk surat hilm (kasih sayang). "Kami sangat menghormati kebebasanmu dalam berbicara. Kami ikut menyesali dan mendoakan kebencian yang bermuara dalam dirimu segera hilang. Tapi agama kami penuh dengan kasih sayang, bukan kebencian, apalagi angkara murka." Setelah itu, saya akan mengirimkannya sembari menambahkan buku pengantar yang membantunya memahami Islam, dan setangkup bunga violet yang indah.

Afrizal Qosim Sholeh kolumnis dan peneliti muda di Institute of Shoutheast Asian Islam

(mmu/mmu)