Untuk Kepentingan Indonesia, Benarkah Trump Lebih Baik dan Bukan Biden?

Susilo Bambang Yudhoyono - detikNews
Jumat, 30 Okt 2020 12:54 WIB
SBY kembali menciptakan lagu yang bertujuan untuk memberikan semangat di tengah pandemi virus corona COVID-19. Lagu ini pun dinyanyikan oleh sederet penyanyi Tanah Air. Mulai dari Yuni Shara, Sandhy Sondoro, hingga Lala Karmela. Seperti apa?
Foto: 20detik
Bogor -

Sebentar lagi rakyat Amerika Serikat akan memilih presidennya. Memilih kembali Trump, atau memilih penantangnya Biden. Kita lihat kampanye yang dilakukan oleh kedua kandidat makin seru. Bahkan, maaf, sering kali melampaui norma-norma demokrasi yang patut. Alhasil, politik Amerika yang sudah panas dan masyarakatnya pun sudah terbelah (divided), membuat situasi politik di negeri itu bertambah buruk. Apalagi saat ini korban pandemi virus corona juga makin meningkat di Amerika.

Sebenarnya, menurut pengamatan saya, situasi pemilihan presiden Amerika Serikat yang boleh dikatakan "cross the line", atau melampaui batas ini jarang terjadi. Saya pernah menyaksikan debat-debat capres Amerika sebelumnya. Mulai dari Bush lawan Al Gore, Bush lawan John Kerry, Obama lawan McCain, Obama lawan Mitt Romney, hingga Trump lawan Hillary Clinton. Kecuali Mitt Romney dan Trump, kebetulan saya pernah bertemu dengan mereka semua. Apalagi dengan Bush dan Obama, di samping bersahabat, kami juga pernah bekerja sama.

Sementara itu, rakyat Indonesia tahu, sebagai calon presiden saya juga pernah melakukan debat. Rasanya, sepanas apa pun suasana kontestasi yang ada, kami masih bisa menahan diri dan tetap menjaga etika. Tidak seperti yang ditunjukkan oleh Trump dan Biden ketika berdebat beberapa saat yang lalu. Saya kira sebagian rakyat Amerika malu melihatnya. Entahlah... Kalau begitu, meskipun negeri kita sering disebut sebagai "young democracy", bangsa kita patut bersyukur dan bangga dengan apa yang kita lakukan.

Sebenarnya pemilihan presiden di Amerika yang gegap gempita ini bukanlah urusan kita. Bukan urusan Indonesia. Namun, ada yang menarik bagi saya dan saya pandang perlu untuk saya angkat dalam podcast atau artikel ini.

Beberapa saat yang lalu, di Cikeas, saya berbincang-bincang dengan beberapa teman yang dulu pernah mengemban tugas bersama di pemerintahan. Topik yang kami bahas tiada lain adalah serunya perang kata, atau clash antara Trump dan Biden.

Tiba-tiba ada yang bercerita bahwa sejumlah temannya, yang dulu sama-sama berkuliah di sebuah universitas mengatakan bahwa bagi Indonesia Trumplah yang terbaik. Alasannya, Trump dari Partai Republik sehingga tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Tak juga ribut soal HAM, demokrasi dan juga perubahan iklim. Sebaliknya, masih kata teman itu, kalau yang menjadi presiden Amerika dari Partai Demokrat pasti kita dikejar-kejar soal HAM, demokrasi, the rule of law, dan lain-lain.

Pandangan ini relatif sama dengan kalangan yang lain di negeri kita. Artinya juga menjagokan Trump dan berharap dia menang lagi. Cuma alasannya sedikit berbeda. Kata mereka, kalau Trump yang menang, hubungan ekonomi dan bisnis akan lebih hidup. Lebih meningkat. Argumentasinya, Partai Republik di Amerika lebih pro-bisnis, termasuk punya keberpihakan kepada perusahaan multi nasional. Kalangan asing seperti ini digambarkan tak rewel. Saya mendengar bahwa sejumlah tokoh yang saat ini berada di pemerintahan juga punya pandangan dan harapan seperti itu.

Masih ada satu lagi yang ingin saya sampaikan. Suatu ketika, hampir dua bulan yang lalu, saya menerima tamu dari sejumlah insan pers yang ingin mewawancarai saya. Di tengah pembicaraan tentang topik wawancara, tiba-tiba mereka mengangkat isu pemilihan presiden di Amerika. Berbeda dengan pandangan-pandangan sebelumnya, yang pro-Trump, kelompok ini justru sebaliknya. Mereka menjagokan Biden, dan berharap Trump kalah. Ingin tahu alasannya?

Pertama-tama, mereka tidak suka dengan kepribadian dan gaya Trump. Yang kedua, apa yang diharap Indonesia dari Trump... yang terkenal sangat egois dan ultra-nasionalistik itu. Dia hanya mengutamakan Amerika (America First), dan tidak peduli dengan negara lain. Bangsa lain.

Nah, dengan semua cerita ini pasti teman-teman ingin dengar komentar saya. Mana yang lebih baik untuk Indonesia, Trump atau Biden. Atau kembali pada judul tulisan saya ini... "Ditinjau dari kepentingan Indonesia, benarkah Trump lebih baik dan bukan Biden?" Kira-kira begitu yang barangkali teman-teman ingin dengar.

Sebelum saya menyampaikan pendapat saya, perlu saya sampaikan bahwa saya menghormati semua pandangan dari berbagai kalangan di tanah air. Baik yang pro-Trump maupun yang pro-Biden. Saya juga tak ingin buru-buru mengatakan bahwa yang pro-Trump salah, atau sebaliknya justru yang pro-Biden yang salah. Mengapa?

Mereka yang berbeda pandangan itu punya alasan masing-masing. Alasan-alasan itu sebagian mengandungi kebenaran. Artinya tak ada yang salah mutlak dan juga yang benar mutlak. Orang yang bijak tak gampang menghakimi seseorang sebagai salah atau benar. Apalagi kalau secara absolut. Bahkan, bagi orang yang beriman... hanya Tuhan yang memiliki kebenaran yang mutlak. Bagi seorang muslim, setiap melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an selalu ditutup dengan kata-kata "Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Maha Benar Allah Yang Maha Agung".

Karenanya, pandangan saya ini akan saya sampaikan dalam bentuk cerita pula. Mungkin ini lebih baik dari pada kita, orang-orang Indonesia, berhantam dan ribut soal Trump dan Biden. Tak ada manfaatnya, dan tak ada pula pahalanya.

Saya ingin memberikan testimoni sebagai berikut.

Sewaktu memimpin Indonesia dulu, saya pernah bekerja sama dengan dua presiden Amerika Serikat. Yang pertama George Bush, sedangkan yang kedua Barrack Obama. Bush dari Partai Republik, sedangkan Obama dari Partai Demokrat.

Yang ingin saya ulas adalah benarkah hubungan bilateral Indonesia, dan sejak tahun 2009 telah kita tingkatkan sebagai kemitraan strategis, ditentukan oleh siapa yang menjadi Presiden Amerika Serikat?

Betulkah ada perbedaan yang sangat fundamental berkaitan dengan kebijakan Amerika terhadap Indonesia jika presidennya dari Partai Republik atau Partai Demokrat?

Terhadap dua pertanyaan penting ini, inilah komentar saya.

Di banyak negara, Amerika termasuk di dalamnya, tak selalu berbeda sikap dan kebijakan antara pihak penguasa dengan oposisi, jika menyangkut politik luar negeri (foreign policy). Bahkan sering kali pula, tajamnya perbedaan posisi dan kebijakan antara partai penguasa dengan oposisi pada urusan domestik, tak berlaku bagi hubungan internasional negara itu.

Sewaktu menjadi Presiden Indonesia dulu, kalau saya berkunjung ke luar negeri, hampir selalu saya diacarakan untuk bertemu dengan pemimpin oposisi (leader of the opposition), selain tentunya pihak yang sedang memerintah. Saya juga sering menerima pimpinan oposisi sebuah negara yang tengah berkunjung ke Indonesia. Sepengetahuan saya, kalau menyangkut hubungan bilateral dan kebijakan luar negeri mereka terhadap Indonesia, pada hakikatnya sama antara partai yang sedang memerintah dengan partai yang sedang beroposisi. Kalau toh ada perbedaan tidaklah banyak, dan juga tidak terlalu prinsip.

Kembali ke hubungan Indonesia-Amerika Serikat di bawah Presiden Bush, yang dari Partai Republik, dan di bawah Presiden Obama, yang dari Partai Demokrat, saya juga bisa menjelaskan seperti ini.

Tidak benar misalnya ketika Bush yang memimpin, Amerika tak lagi peduli dengan demokrasi, HAM, rule of law dan lingkungan, dan seolah hanya membicarakan urusan kerja sama ekonomi dan bisnis semata. Saya ingat, embargo dan sanksi militer terhadap Indonesia yang berlangsung selama 12 tahun, pada tahun pertama saya memimpin (tahun 2005) langsung dicabut, karena Bush dan Amerika yakin TNI telah melakukan reformasi dan juga menghormati HAM dan demokrasi.

Sebaliknya pula dengan Obama. Juga tidak benar kalau Obama tak tertarik dengan hubungan ekonomi, investasi dan bisnis dengan negeri kita dan hanya tertarik pada urusan demokrasi, HAM dan lingkungan misalnya. Pada saat menghadiri pertemuan puncak East Asia Summit, yang dihadiri 18 negara di Bali tahun 2011, Obama menyempatkan pertemuan bilateral dengan saya. Di situ Obama menggaris bawahi pentingnya peningkatan kerja sama investasi dan perdagangan antara Indonesia dan Amerika. Bahkan, ingat saya, pada saat Obama berada di Bali dilakukan penandatanganan kontrak bisnis antara swasta Indonesia dengan pihak Amerika.

Saya harus mengatakan bahwa siapa pun presidennya, agenda kerja sama bilateral Indonesia-Amerika Serikat itu tetap luas dan mencakup sektor-sektor penting bagi kedua negara. Misalnya, kerja sama di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi, pertahanan dan keamanan, serta kerja sama bilateral di forum internasional.

Memang benar, sejumlah anggota kongres Amerika, termasuk para senatornya, sering memiliki perhatian khusus terhadap negara lain, termasuk Indonesia. Barangkali inilah yang mungkin kita rasakan terkadang berlebihan. Misalnya, urusan terorisme, HAM, lingkungan, kerja sama militer, investasi bisnis tertentu, masalah Papua, dan juga hubungan Indonesia-Tiongkok.

Hal begini memang terjadi, terlepas siapa yang menjadi presiden Amerika, apakah dari Partai Republik ataupun dari Partai Demokrat. Saya berpendapat, ini adalah bagian dari isu dan dinamika hubungan bilateral. Hal ini menjadi tugas pemerintah dan parlemen di kedua belah pihak untuk mengelolanya, termasuk para diplomat.

Pengalaman saya, isu seperti ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Semuanya dapat kita kelola. Tak perlu kita merasa ditekan atau disudutkan. Tentu, tak perlu pula kita takut atau gentar. Kita mesti punya sikap dan posisi yang kuat, sesuai dengan kepentingan nasional kita. Kepentingan Indonesia di atas segalanya, tanpa mengabaikan pentingnya kerja sama bilateral dan multilateral yang saling menguntungkan.

Dari semua cerita saya ini, dapatlah disimpulkan bahwa hubungan bilateral Indonesia-Amerika tidak semata-mata ditentukan oleh dari mana Presiden Amerika berasal ~ Demokrat atau Republik. Lagi pula, kenapa kita harus takut soal demokrasi, HAM, rule of law dan juga lingkungan, kalau memang kita tidak melakukan kesalahan dan penyimpangan yang sangat serius.

Sebenarnya, pentingnya kita menjaga nilai-nilai demokrasi, menghormati HAM, menegakkan pranata hukum secara adil dan memelihara lingkungan itu bukan untuk memuaskan masyarakat internasional. Apalagi karena takut kepada negara lain. Semuanya itu adalah untuk kita sendiri. Untuk rakyat kita.

Kalau kita masih takut pada pihak asing, berarti mental kita masih mental negara jajahan. Justru kita harus takut kepada rakyat sendiri, kalau kita lalai menegakkan nilai-nilai dan pranata yang itu menjadi kepentingan kita sendiri. Menjadi harapan dan aspirasi rakyat kita.

Ini pandangan sederhana saya.

Akhirnya, menutup pandangan dan pendapat saya ini, ada 2 hal yang ingin saya sampaikan.

Yang pertama, menanggapi wacana publik yang berbeda ~ antara yang pro-Trump dan yang pro-Biden ~ saya tidak setuju kalau hanya Trump yang akan membuat Indonesia beruntung dari segi hubungan bilateral. Sesuai dengan pengalaman saya bekerja sama dengan Presiden Bush dan Presiden Obama di waktu lalu, kepentingan nasional Indonesia tetap dapat kita capai dan perjuangkan siapa pun yang menjadi presiden Amerika. Karenanya, sejalan dengan apa yang saya ketahui dan alami itu, kita akan punya peluang yang sama apakah Amerika dipimpin oleh Trump ataupun Biden.

Yang kedua, dan ini yang menurut saya lebih penting, siapa pun yang akan terpilih menjadi presiden Amerika Serikat mendatang, kita harus siap. Indonesia, atas dasar prinsip saling menghormati dan saling menguntungkan, harus tetap bisa menjaga dan meningkatkan hubungan dan kerja sama bilateral dengan Amerika di masa depan. Di abad 21 ini, tak ada negara yang boleh bersikap menguasai dan hegemonik terhadap negara lain. Kesetaraan dan kemitraan menjadi norma dan semangat baru dalam hubungan antar bangsa.


Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-6 RI

(tor/tor)