Kolom

Macron, Maulid Nabi, dan Kebebasan

Abdul Hamid Al-mansury - detikNews
Jumat, 30 Okt 2020 10:04 WIB
Macron memicu kontroversi ketika mengatakan bahwa islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.
Umat muslim dunia kecam Presiden Prancis (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Beberapa hari terakhir jagat maya dan dunia internasional diramaikan dengan kabar penghinaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad. Itu berawal dari pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Momentum kejadiannya yang pas di bulan kelahiran Nabi SAW yaitu Rabiul Awal yang seharusnya diramaikan dengan pembacaan salawat malah diramaikan dengan kecaman-kecaman, aksi pemboikotan produk Prancis, dan sebagainya.

Di sisi lain, pernyataan Macron dimanfaatkan oleh negara-negara yang sedang memburuk hubungan politik luar negerinya, seperti Turki yang gencar menyerang Prancis. Saya tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi di Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim dan terbesar di dunia. Coba Anda bayangkan kalau Macron itu presiden Indonesia, sudah tentu jutaan umat Islam akan turun ke jalan menuntut dihukumnya Macron.

Sekelas Gubernur DKI Jakarta, Ahok, waktu itu berhasil diseret ke penjara oleh jutaan umat Islam dengan tuduhan penghinaan terhadap al-Quran. Untungnya Macron presiden Prancis; selamatlah ia dari jeruji besi dan selamatlah jabatannya. Tetapi ia harus menanggung akibatnya, yaitu hubungan buruk dengan dunia internasional terutama negara-negara berpenduduk muslim.

Motto Prancis

Sajak meledaknya revolusi industri di Prancis, negeri Menara Eiffel itu memiliki tiga motto yaitu liberte (kebebasan), egalite (persamaan), dan fraternite (persaudaraan). Motto tersebut dipegang teguh hingga hari ini. Kalau kita gali lebih mendalam, tiga motto tersebut merupakan ajaran atau nilai-nilai Islam dan sebetulnya Prancis terinspirasi dari ajaran Islam. Maka, tidak heran ada seorang tokoh modernis Islam yang mengatakan bahwa ia menemukan Islam di barat dan sebaliknya.

Ada yang menarik dari kejadian tersebut, yaitu pembelaan komunitas muslim di Prancis terhadap negara dan pemimpinnya. Rupanya mereka mulai menikmati kehidupan disana dengan tiga motto tersebut seperti juga yang dialami pendahulu-pendahulunya.

Dunia Islam harusnya bersyukur dengan adanya negara Prancis yang menganut kebebasan (liberal). Kita tidak boleh melupakan sejarah; berkat Prancis dunia Islam bisa mengenal pan-Islamisme dan bisa bergerak ke arah apa yang disebut kemodernan serta karena Prancis juga meledaklah revolusi Islam di Iran.

Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh merupakan dua tokoh dalam dunia pemikiran Islam. Dari perjalanan hidupnya yang penuh dengan intervensi dan pengasingan akhirnya Al-Afghani berlabuh di ibu kota Prancis, Paris. Kemudian dia disusul oleh muridnya dari Mesir yang juga mengalami pengasingan yaitu Muhammad Abduh.

Mereka berdua membentuk perkumpulan Al Urwah Al Wusqa yang berpusat di Paris, dengan tujuan memperkuat solidaritas Islam demi kesejahteraan umat. Dari perkumpulan ini, lahir sebuah majalah dengan nama yang sama, kontennya adalah ide-ide Al Afghani. Al wahda Al Islamiyah (Islamic Unity or Islamic Union) adalah salah satu artikelnya yang paling terkenal. Penerbitannya kemudian dihentikan karena dunia Barat melarang masuknya majalah tersebut ke negara-negara jajahannya yang berpenduduk muslim.

Begitu pun dengan Imam Khomaini. Tokoh utama revolusi Islam Iran tersebut mengalami pengasingan dari rezim Syah Reza Pahlevi. Mula-mula, Khomaini diasingkan ke Irak kemudian pada akhirnya berlabuh di Paris. Di sanalah ia melancarkan ide dan gagasannya melalui rekaman dan tulisan kepada para pengikutnya yang ada di Iran. Akhirnya, meletuslah revolusi Islam Iran pada 1979.

Tentu masih banyak tokoh Islam yang hidup dan berkembang di Prancis. Selain Jamaluddin Al-afghani, Muhammad Abduh, dan Khomaini ada juga tokoh pembaharu Islam kenamaan seperti Muhammad Arkoun dan tokoh Islam lainnya.

Maulid Nabi

Bulan kelahiran Nabi Muhammad ini seharusnya kita maknai lebih mendalam. Makna yang lebih mendalam adalah "melahirkan kembali" perilaku atau akhlak Nabi SAW. Sebagai orang yang mengaku pengikutnya, sudah seharusnya kita berpanutan kepada beliau dalam semua hal termasuk dalam menyikapi pernyataan Macron.

Nabi tidak pernah memarahi orang yang membenci apalagi menghinanya. Berkali-kali Nabi dihina dengan perkataan sebagai penyihir, orang gila, dan ujaran hinaan lainnya. Tetapi Nabi tidak membalasnya karena Nabi bukanlah orang yang pendendam. Beliau tidak balas dendam kepada orang yang menyakitinya walaupun memiliki kesempatan besar untuk balas dendam. Terbukti ketika beliau menang telak saat pembebasan Mekah (fathu Makkah).

Nabi malah menyuapi makan kepada orang yang menghinanya. Setiap hari hingga menjelang wafatnya, Nabi menyuapi makan kepada orang Yahudi yang buta matanya. Sembari makan, orang tersebut menghina dan memaki Nabi. Ini perilaku yang perlu dicontoh oleh kita semua --tidak merasa terhina ketika dihina; sebaliknya, orang yang menghina akan hina dengan sendirinya.

Makna Kebebasan

Kebebasan adalah fitrah manusia. Karena kefitrahannya, maka kebebasan merupakan hak setiap individu manusia. Islam juga mengajarkan nilai kebebasan serta bagaimana melakukan proses pembebasan tersebut. Islam itu membebaskan manusia dari perbudakan, kebodohan, kejumudan, pembungkaman, dan sebagainya hingga akhirnya manusia memiliki hak yang sama dan semuanya sama.

Maka dari itu, negara hadir untuk melindungi kebebasan setiap individu warga negaranya. Namun, kebebasan yang ada di Prancis menurut saya adalah kebebasan yang kebablasan karena kebebasannya melabrak kebebasan orang lain. Mungkin Samuel Paty tidak akan mati mengenaskan apabila ia melakukan dialog dengan umat muslim di Prancis sebelum menayangkan kartun Nabi Muhammad.

Begitu pula dengan Emmanuel Macron tidak akan dikecam, produk-produknya tidak akan diboikot, dan politik luar negerinya tidak akan memanas terutama dengan Turki bila tepat dalam menyampaikan pernyataan.

Komunitas muslim Prancis berjumlah sekitar 8% atau terbanyak di Eropa Barat. Maka menjadi penting melakukan dialog antarumat beragama. Dialog tersebut akan membuka pintu pemahaman, saling memahami, dan toleransi satu sama lain yang akhirnya berujung pada perdamaian dan persaudaraan antarumat beragama. Di sinilah pernyataan Macron yang seharusnya disampaikan bukan pernyataan yang dapat memicu kebencian antarumat beragama terutama dengan negara muslim lainnya.

Abdul Hamid Al-mansury Pengurus BPL PB HMI 2018-2020; tinggal di Pamekasan, Madura

(mmu/mmu)