Kolom

Menembus Batas Imajinasi Politik

Ichwan Arifin - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 14:49 WIB
Gedung Sumpah pemuda yang menjadi tempat para pemuda menyatakan sumpah pemuda (Dok. Kemendikbud)
(Foto: Dok. Kemendikbud
Jakarta -

Saat itu, 28 Oktober 1928 di Gedung Katholikee Jongelingen Bond (Gedung Pemuda Katholik), Jakarta berkumpul para pemuda dari beragam organisasi. Ada Jong Java, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Jong Celebes, dan sebagainya. Mereka menggelar pertemuan yang disebut Kongres Pemuda.

Mungkin bagi sebagian besar rakyat, ide menggelar kongres yang mewacanakan kesatuan kebangsaan diinisiasi oleh Sugondo Djojopuspito, Djoko Marsaid, Mohammad Yamin, Amir Syarifuddin dan para pemuda lainnya itu ibarat menggantang asap.

Betapa tidak, ratusan tahun hidup dalam represi rezim kolonial membuat ide menyatukan seluruh kepulauan Nusantara menjadi satu entitas kesatuan politik berdaulat dapat dianggap gagasan "gila". Konsekuensinya berhadapan dengan pemerintah kolonial. Penjara sel kolonial dan pembuangan ke daerah terpencil sebagai risiko politiknya.

Belum lagi ditambah dengan faktor perbedaan latar belakang, suku, bahasa, agama, dan ragam perbedaan lainnya yang selalu ditonjolkan pemerintah kolonial. Menawarkan gagasan persatuan dan kebangsaan Indonesia seperti "mission impossible". Bahkan Indonesia juga belum menjadi nama kesatuan gugusan kepulauan Nusantara. Saat itu, kita bernama Hindia Belanda. Nama yang menegaskan bagian jajahan Negeri Belanda.

Namun, visi para pemuda tersebut menembus batas imajinasi dan represi pemerintah kolonial. Berangkat dari kesadaran sebagai anak bangsa yang mengalami penindasan dan laku sejarah yang sama mampu menembus batas perbedaan yang ada.

Kongres Pemuda I dilaksanakan pada 1926. Namun, produk monumental baru dihasilkan Kongres II pada 1928. Keputusan kongres tersebut kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Intinya menegaskan pengakuan sebagai putra-puri Indonesia yang bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia. Berbangsa satu, Bangsa Indonesia dan berbahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Kongres juga menyerukan azas tersebut disebarluaskan melalui media massa dan wajib dipakai oleh segala organisasi kebangsaan.

Bagi generasi sekarang, hal-hal yang dapat diadopsi dari peristiwa bersejarah tersebut antara lain; pertama, visi dan imajinasi tanpa batas mampu membongkar kungkungan mental dan pikiran kerdil, dan pada akhirnya menjadi lokomotif perubahan. Bayangkan jika pemikiran para pemuda saat itu tidak visioner, tentu momentum sumpah pemuda tidak pernah terjadi.

Saat ini, kita yang hidup tidak dalam era kolonialisme pun harus punya imajinasi tanpa batas. Khususnya terkait dengan perubahan kolektif masyarakat serta aspek lainnya seperti politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Tantangan berupa persaingan global --gelombang globalisasi tahap ketiga, perubahan zaman menuju era industri 4.0.

Contoh lainnya, gerakan Reformasi yang berhasil memaksa Presiden Soeharto mundur juga tidak akan terjadi jika para pemuda, mahasiswa, dan kelompok pro-demokrasi lainnya tidak punya imajinasi menumbangkan rezim Orba sebagai perubahan menuju tata kelola politik dan kenegaraan yang lebih baik.

Kedua, kesadaran kolektif tidak datang secara instan. Namun, memerlukan proses dan inisiatif untuk menggerakkan. Kesadaran kolektif dan pergerakan menentang kolonialisme yang lebih terorganisasi, tidak muncul begitu saja pada 1928. Jauh sebelumnya, Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Sumatranen Bond telah didirikan pada periode 1915-1924. Dalam konteks sekarang, jika kita punya gagasan baru, apalagi menyangkut perubahan sosial, maka harus ditransformasikan sejak dini dan terus menerus di-"suntikkan" pada khalayak.

Ketiga, usia muda adalah fase ketika otak kita dapat dipacu secara maksimal untuk memproduksi gagasan. Jangan sampai fase kemudaan itu terlewat tanpa pernah melahirkan ide dan pemikiran apapun. Bahkan untuk dirinya sendiri. Karena waktu tidak pernah dapat diputar ulang.

Tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga menggelorakan peringatan Sumpah Pemuda ke-92 dengan tema "Bersatu dan Bangkit". Di tengah potensi konflik antargolongan dalam masyarakat sebagai residu kontestasi politik, tema itu sangat tepat.

Terakhir, energi bangsa ini akan terbuang sia-sia manakala selalu dihabiskan untuk berkonflik antarsesama anak bangsa. Hasilnya, perbedaan makin melebar, kebencian makin menggumpal, dan --seperti pernah diungkap Bung Hatta-- bukan persatuan yang terjadi, tapi persatean.

Selain itu, jika tidak beranjak dari "zona" tersebut, maka bukan kemajuan yang akan kita capai. Namun justru kemunduran dan kejumudan peradaban. Selamat memperingati Sumpah Pemuda ke-92!

Ichwan Arifin mantan GMNI, alumus Pascasarjana Undip

(mmu/mmu)