Kolom

Merawat Heroisme (Sumpah) Pemuda

Najamuddin Muhammad - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 14:03 WIB
Sumpah Pemuda, Massa Bawa Bendera Merah Putih Kumpul di Tugu Proklamasi
Memperingati "Sumpah Pemuda" di Tugu Proklamasi, Jakarta (Foto: Adhyasta/detikcom
Jakarta -

Tanggal 28 Oktober 1928 adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada hari itu seluruh pemuda tanpa mengenal sekat organisatoris, etnis, dan agama memadukan dan menyatukan komitmen persatuan kebangsaan, persatuan tanah air, dan persatuan bahasa. Disebut pula sebagai Hari Sumpah Pemuda yang biasa diperingati sebagai sinyal untuk memperkuat dan memperkokoh jiwa kepemudaan yang penuh dengan idealisme dan sisi heroisme.

Memperingati Hari Sumpah Pemuda adalah upaya menilik ulang peristiwa sejarah masa silam hingga melahirkan sumpah setia dan membawa Indonesia lepas dari jeratan kolonialisme Belanda. Sumpah Pemuda oleh Roeslan Abdulgani (1986) diistilahkan sebagai penegas (1928) dari lahirnya jiwa perintis (1908) dengan lahirnya organisasi Budi Oetomo yang kemudian melahirkan generasi pendobrak (1945) dengan diproklamasikannya kemerdekaan yang banyak dipelopori oleh generasi penegas dan direstui oleh generasi perintis.

Sumpah Pemuda sebagai hari penegas merupakan peristiwa sakral yang banyak membidani lahirnya Indonesia secara fitrah dari rahim kekuasaan kolonialisme. Memang, penegas adalah memantapkan ulang dari komitmen yang sebelumnya telah dirintis, tapi tanpa penegasan dengan persatuan tanah air, tak mungkin peristiwa pendobrakan yang berujung pada 17 Agustus bergema.

Karena dengan Sumpah pemuda, organisasi yang berada di pelosok Nusantara disatukan menjadi satu tubuh, rasa, dan jiwa, kebangsaan kebahasaan, dan rasa persatuan tanah air. Peristiwa pada 1926 dan 1927 ikut menebalkan rasa nasionalisme dan patriotisme bagi kaum muda. Tragedi pelik, mulai dari krisis ekonomi yang membelit, penculikan para tokok nasionalis, dan pembunuhannya, menggetarkan rasa kaum muda untuk berpangku tangan menyatukan komitmen lewat Sumpah Pemuda.

Itulah sekilas potret nasionalisme kaum muda kita tempo dulu. Sebuah spirit nasionalisme yang tak hanya sebatas wacana, dan komitmen di atas tinta, tapi segenap jiwa dan raganya seakan dipersembahkan untuk tanah air ini. Hingga mati pun kalau itu adalah perjuangan kebangsaan tak gentar sama sekali. Karena perasaan mati dan hidupnya sudah menjadi satu jiwa yang tak dapat dijauhkan, apalagi dipisahkan antara dirinya dan tanah airnya.

Seakan Terasa Hampa

Memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan penuh optimistis akan lahirnya pemuda saat ini yang siap melanjutkan heroisme semangat pemuda tempo dulu seakan terasa hambar dan hanya ada dalam sebuah mimpi. Perbedaan ruang dan waktu serta peta perlawanan membuat pemuda saat ini terseok-seok membawa tujuan dan bahkan mereka hanya meludahi idealisme kepemudaannya.

Pemuda dulu datang dengan kesadaran nasionalisme yang mempersatukan sekat-sekat kedaerahan, mendobrak kungkungan penjajahan, hingga diproklamasikan kemerdekaan. Dan, pemuda juga mengisi kekosongan kekuasaan dengan semangat kemandirian NKRI. Ada pula pemuda yang pergi tanpa pamrih meski sebelumnya ia telah mengorbankan seluruh hidupnya. Pemuda dulu datang dengan penuh kesadaran dan pergi tanpa pamrih.

Kini, pemuda berteriak atas nama nasionalisme, bendera merah-putih dikibarkan dijalankan dengan teriakan yel-yel menuntut kekuasaan yang korup, seluruh organisasi intra atau pun ekstra dikonsolidasikan atas nama membela kebangsaan, tapi di belakang layar mereka menuntut kursi dan berkongsi dengan kekuasaan yang sudah bebal dengan mental korupsinya itu.

Jauh-jauh hari Bung Karno telah mewanti-wanti pada setiap elemen pemuda dengan sebuah pernyataan bahwa "perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih susah karena melawan bangsamu sendiri". Pernyataan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi sebagai gambaran bagi pemuda agar bisa mengidentifikasi yang sebenarnya siapa lawan dan siapa kawan yang sebenarnya agar tak terjebak. Tapi melihat kenyataan saat ini sungguh sangat sulit untuk mengatakan bahwa pemuda tidak terjebak.

Kenapa pemuda saat ini begitu mudah berkompromi dengan kekuasaan yang korup? Kenapa atas nama uang dan bahkan kekuasaan idealisme kepemudaan luntur begitu saja? Apakah pemuda saat ini tidak bisa mengidentifikasi siapa kawan dan siapa lawan, atau mereka kaum muda sebenarnya sudah mengetahui tapi lebih memilih hal-hal yang pragmatis? Dan, kenapa pemuda lebih milih hidup berdasi dengan sepatu pantofel dan uang yang tebal dibanding hidup sederhana dengan idealisme tetap di muka untuk memperjuangkan kepentingan rakyat?

Pemuda Hari Ini

Membaca pemuda hari ini mengingatkan kita pada sebuah teori siklusnya Ibnu Khaldun (Mukaddimah) yang membagi tenggelamnya sebuah peradaban bangsa menjadi lima tahap, mulai dari tahap konsolidasi, tahap tirani, tahap sejahtera, tahap kepuasan hati, hingga tahap hidup boros dan berlebihan.

Pada tahap hidup boros dan berlebihan itulah lahir tiga generasi yang akan senantiasa tak akan membawa perubahan pada kesejahteraan hidup bersama. Negara pada tahap ini hanya tinggal menuju kehancuran. Inilah tahap tanda generasi yang akan membawa negara hancur. Pertama, generasi pembangun, dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk di bawah otoritas kekuasaan yang didukungnya.

Kedua, generasi penikmat. Inilah generasi yang diuntungkan secara ekonomi dan politik dari sistem kekuasaan. Generasi ini idealismenya sudah tumpul dan nalar kritisnya sudah tergadaikan pada pada kepentingan politik dan ekonomi. Generasi ini di depan publik boleh berbicara idealisme dan kerakyatan, tapi pada prinsipnya itu hanyalah lipstik untuk memoles kepentingan pribadi dan golongan. Generasi ini sudah tidak lagi peka terhadap kepentingan kebangsaan.

Ini banyak terjadi dalam organisasi gerakan intra atau pun ekstra kampus, di mana nasionalisme kepemudaan mulai tergadaikan pada pihak penguasa dan pemodal. Meskipun tidak setiap organisasi kepemudaan seperti itu, tapi saat ini sulit mencari gerakan pemuda yang benar-benar murni demi membela kepentingan rakyat.

Ketiga, generasi yang sudah tak lagi memiliki hubungan emosional dengan negara. Generasi ini sudah acuh tak acuh terhadap kepentingan negara. Apakah negara akan bobrok atau bahkan hancur sekali pun generasi ini tak akan pernah peduli. Ini benar-benar terjadi dalam lingkungan kita. Tidak sedikit pemuda saat ini yang sudah acuh tak acuh dan tidak ingin tahu ihwal kebangsaan. Mereka hanya berpikir tentang dirinya dengan tidak ingin tahu bagaimana nasib bangsa dan negara.

Bagi mereka, masa muda adalah masa untuk berfoya-foya. Bagi Ibnu Khaldun, apabila dalam sebuah bangsa sudah sampai pada tahap ketiga ini, maka keruntuhan sudah di ambang pintu. Saat ini kita masih mempunyai pilihan, apakah pemuda akan menjadi generasi pembangun yang senantiasa kritis terhadap kekuasaan, menjadi agen perubahan sosial, dan membela kepentingan rakyat.

Atau, memilih menjadi generasi yang penjilat kekuasaan dan generasi yang tidak tahu menahu tentang nasib kebangsaan. Kalau dua pilihan generasi yang terakhir ini terus bersemi, maka jangan salahkan suatu saat apabila kehancuran dan perpecahan NKRI akan menjadi kenyataan. Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Najamuddin Muhammad dosen Pendidikan STAINU Purworejo

(mmu/mmu)