Sentilan Iqbal Aji Daryono

"Di Mana" dan "Di Situ" yang Tak Jelas Lagi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 17:40 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

"Prinsipnya kan jelas to, War. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sudah, sekarang pendatangnya siapa, tuan rumahnya siapa. Gitu saja. Kalau merasa pendatang, ya mesti tahu diri. Hormati nilai-nilai yang dipegang tuan rumah. It's that simple."

Saya kaget. Baru kali ini saya mendengar Agus mengucapkan kalimat bahasa Inggris. Mungkin sejak dia sering dapat undangan jadi pembicara di Jakarta, lalu rutin nongkrong di M Bloc Space. Tapi yang jelas, kalimat itu memicu obrolan berkepanjangan di Kafe Mainmain siang tadi.

Awalnya, Anwar memulai dengan nyeletuk tentang apa yang terjadi di Prancis baru saja. Kita tahu, seorang pemuda muslim asal Chechnya membunuh seorang guru, karena sang guru menunjukkan kartun Nabi Muhammad dari Majalah Charlie Hebdo.

Sebagai aktivis LSM perdamaian, tentu saja Anwar tidak membenarkan sebuah tindakan pembunuhan. Tapi sebagai santri yang sudah sarungan sejak usia dini, wajar saja dia punya ruang permakluman atas kemarahan si pemuda Chechnya. "Jangankan menunjukkan gambar yang menghina Kanjeng Nabi. Menggambarnya saja tanpa menghina pun sudah dapat diposisikan sebagai hinaan. Ya to?" katanya.

"Tapi faktanya, War," sambar Agus, "Prancis itu sangat menjunjung tinggi kemerdekaan berpendapat dan berekspresi, di bawah panji sekularisme. Bagi hukum Prancis, soal kartun itu bukan masalah sama sekali. Lha wong itu bentuk ekspresi kok. Yang penting kamu nggak mukul orang, nggak nyolong duit orang, nggak bakar rumah orang, di sana ya bebas mau ngomong apa, mau nggambar apa." Dari nada bicaranya, orang yang belum kenal Agus pasti akan mengira dia pernah kuliah lama di Sorbonne.

"Lho tapi masak menghina mau disamakan dengan kebebasan berekspresi to, Gus? Nggak usah jauh-jauh. Di tempat kita saja, mengkritik Pak Jokowi itu beda dengan menghina Pak Jokowi!"

Entah kenapa Anwar mengambil contoh Pak Jokowi. Kemungkinan besar karena dia tahu bahwa Agus mantap memilih Jokowi pada dua kali Pilpres, sehingga dia berharap Agus langsung kena dengan analogi itu.

"Lho ya beda kasuuus!" langsung terlontar nada tinggi dari mulut Agus. Saya dan Fairuz yang sedari tadi sibuk dengan HP kami pun langsung pasang telinga.

"Beda gimana?"

"Gini lho. Yang kamu sampaikan soal Pak Jokowi itu konteksnya Indonesia. Hukumnya hukum Indonesia, alam pikiran masyarakatnya ya alam pikiran masyarakat Indonesia. Padahal kita sedang bicara Prancis. Orang Prancis punya pandangan dunia sendiri, punya tata aturan hukum sendiri. Prinsipnya kan jelas to, War. Di mana bumi dipijak...." lalu kalimat Agus yang diakhiri dengan "It's that simple" tadi pun meluncur dengan derasnya.

"Ah, mosok segampang itu sih, Gus?" kali ini Fairuz mulai mengambil jatah bersuara, meski sepertinya dia tidak melandasinya dengan prinsip kebebasan bersuara ala Prancis. "Yang aku lihat malah tidak berhenti di kasus Pak Guru yang dibunuh itu dan si bocah Chechnya. Ini sudah lebih jauh lagi. Apalagi kalau sekadar bilang di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, ada perkembangan sejarah yang sudah bergeser. Dan, pepatah yang diajarkan guru Bahasa Indonesia sejak kita SD itu perlu di-in-ter-pre-ta-si ulang!"

Wah, interpretasi ulang. Saya mulai mencium bau-bau mantan anak musala yang habis baca Fazlur Rahman dan kawan-kawan.

Fairuz menyambung, "Gini lho, Gus. Kalimat di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung itu kan mengandung kata 'di mana' dan 'di situ'. Keduanya mengandaikan sebuah lingkup tempat, dalam batasan-batasan geografis. Sementara, kita sekarang sudah sampai pada fase peradaban ketika yang geografis-geografis tidak melulu bisa dijadikan pegangan secara zakelijk dan letterlijk."

Wah seru ini, kalimat bahasa Inggris dibantah dengan kata-kata bahasa Belanda. Saya tambah semangat menyimak.

"Kelamaan, Ruz! Intinya opo?" Agus tak sabar. Jiwa liberalnya tampak bergolak.

"Sekarang zaman internet, poinnya itu," timpal Fairuz sambil meletakkan cangkir kopinya. "Batasan-batasan geografis untuk wilayah negara itu masih jelas. Tapi batasan-batasan efek psikologis dari apa-apa yang terjadi dalam suatu lingkup fisik itu semakin tak jelas. Cair, kabur, bisa meluas dengan cepat. Intinya, apa yang terjadi di Prancis itu urusannya jadi tak bisa dihentikan cuma di Prancis. Kenapa? Sebab yang berkonflik bukan sekadar pemerintah Prancis melawan orang yang tinggal di Prancis macam si anak Chechnya itu."

Saya mulai bisa meraba-raba ke mana arah pembicaraan Fairuz. Dia melanjutkan lagi setelah memastikan Agus memperhatikan kata-katanya.

"Hasilnya, kita lihat yang marah sama Prancis bukan cuma teman-teman si bocah Chechnya. Tapi negara-negara lain juga. Ini ada dua sebab. Pertama, yang sedang berkonflik adalah dua cara pandang. Yang satu hukum dan ideologi negara, satunya lagi agama. Sementara kita tahu, agama Islam pemeluknya bukan cuma di Prancis."

"Kedua?"

"Sabar to. Kedua, dengan zaman ketika batasan-batasan fisik suatu wilayah negara semakin tidak bisa menjalankan peran sebagai garis batas dalam makna ketat, sementara kabar atas apa yang terjadi di sana bisa tersebar ke sudut-sudut dunia dalam hitungan detik, kata 'di mana' dan 'di situ' jadi tidak lagi bisa berlaku mutlak. Coba, kemarin akhirnya secara demonstratif gambar kartun ejekan kepada Nabi Muhammad itu disorotkan ke dua gedung besar. Itu buat menegaskan prinsip kebebasan ala Prancis, katanya. Juga sebagai wujud simpati buat Pak Guru yang jadi korban. Tapi jadinya, langit yang konon dijunjung di area geografis Prancis itu menjadikan negara Prancis menginjak-injak bumi yang lain secara serampangan. Kacaulah semuanya."

Saya manggut-manggut juga mendengar ocehan Fairuz. Tiba-tiba saya teringat serial Viking yang baru saya tonton sampai Season 3 itu. Di situ saya menyimak bagian-bagian menarik tentang gesekan antara dua kultur dan dua keyakinan. Yakni antara orang-orang Viking yang penyembah Dewa Odin dan dewa-dewa lainnya, dengan masyarakat Britania yang Kristen. Film itu menggambarkan dengan subtil bagaimana munculnya prasangka-prasangka antara dua iman yang berbeda, tapi sekaligus bagaimana terlokalisirnya gesekan-gesekan antara mereka.

Lalu bagaimana semua itu terlokalisasi? Ya karena zaman itu belum borderless, dan masing-masing masyarakatnya masih homogen. Di situlah kira-kira semboyan "Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung" menemukan relevansi paling utuhnya.

Sialnya, kita sekarang tidak lagi hidup di zaman Ragnar Lothbrok sang jagoan Viking. Ini zaman ketika manusia-manusia semakin berkerumun, bercampur aduk, dengan membawa bekal cara pandang masing-masing, tradisi masing-masing, keyakinan masing-masing. Sementara, secara fisik kita bersentuhan dengan mudahnya satu sama lain.

Ini juga zaman ketika kita terus berinovasi dan bereksperimen, dalam rangkaian upaya tanpa putus untuk menciptakan harmoni dan kesetimbangan, dengan sistem ini dan sistem itu. Semuanya ditempuh untuk mengelola varian rupa-rupa latar belakang para manusia yang bercampur aduk itu.

Sialnya, kadang kita lupa bahwa sistem-sistem dan segala tata cara baru semacam demokrasi atau kemerdekaan berekspresi itu hanyalah eksperimen dan inovasi. Dan hal-hal semacam eksperimen dan inovasi rasa-rasanya tidak pernah pantas dipatok sebagai harga mati. Sekali menutup dialog-dialog dan menjadi harga mati, ia akan berdiri menjadi agama tersendiri.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)