Kolom: Obituari

Selamat Jalan Figur Pemersatu Ormas Pendidikan Islam

Saiful Maarif - detikNews
Jumat, 23 Okt 2020 12:50 WIB
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo KH Abdullah Syukri Zarkasyi, meninggal
Kiai Syukri Zarkasyi (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Kiai Syukri Zarkasyi wafat pada 22 Oktober 2020. Kiprah dan ketokohan Kiai Syukri dikenal luas sebagai pencetak lulusan Pondok Moderen Gontor yang memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa dan negara. Namun demikian, terdapat kiprah lain Kiai Syukri yang sangat kuat dalam pendidikan Islam namun tidak cukup terekspos selama ini.

Kiprah tersebut adalah kepemimpinannya sebagai Ketua Umum dalam Majelis Pertimbangan dan Pemberdayaan Agama dan Keagamaan (MP3A) Islam dari awal 1998 hingga 2015. Yang spesial, MP3A adalah wadah hampir seluruh organisasi Islam yang memiliki afiliasi terhadap lembaga pendidikan Islam, mulai dari pondok pesantren, madrasah, hingga perguruan tinggi.

Hampir semua organisasi Islam terkemuka di Indonesia memiliki lembaga pendidikan Islam. Karenanya, perwakilan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al Irsyad, Persatuan Umat Islam (PUI), Al Washliyah, Persatuan Islam (Persis), Mathla'ul Anwar, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), dan beberapa lainnya bergabung dalam MP3A.

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dengan sendirinya, keberadaan pendidikan Islam memiliki peran dan posisi strategis dalam konteks berbangsa dan bernegara. Keberadaan MP3A dan kepemimpinan Kiai Syukri di dalamnya dalam menyatukan berbagai ormas pendidikan Islam menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan Islam pada khususnya, dan pentingnya upaya menjaga keguyuban dalam perbedaan pada umumnya.

Salah satu misi penting MP3A adalah memberikan masukan dan pertimbangan kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama dan pihak terkait dalam bidang pendidikan Islam. Masukan dan pertimbangan tersebut berasal dari berbagai hal yang terjadi di lapangan yang dihadapi lembaga pendidikan Islam dengan beragam corak dan latar belakang tersebut.

Selain itu, masukan tersebut juga kerap berkenaan dengan konteks regulatif, karena Kiai Syukri memberi perhatian kuat terhadap regulasi pendidikan secara umum.

Berdiri bagi Semua Pihak

Salah satu titik strategis peran Kiai Syukri adalah kemampuannya untuk berdiri bagi semua pihak dengan latar belakang yang berbeda dalam perspektif pemahaman keagamaan Islam. Kemampuan untuk mengakomodasi kepentingan banyak pihak seperti ini tentu tidak mudah.

Dalam konteks kiprahnya, hal demikian menjadi lebih sulit lagi, karena sedikit banyak kepentingan tersebut beririsan dengan perbedaan pandangan pemahaman keagamaan antarormas Islam. Perbedaan tersebut mudah menajam saat pembahasan mendalam tentang substansi rekomendasi dan pertimbangan tentang Pendidikan Islam disusun.

Saat ini, kemampuan seperti ini tidak mudah ditemukan dalam figur pemersatu yang ada. Berbagai perbedaan dan friksi dalam masyarakat yang terkait dengan ormas Islam, belakangan lebih berwarna reaktif, reaksioner, bahkan dalam beberapa hal provokatif. Kondisi seperti ini dalam banyak hal bisa jadi karena tiadanya figur pemersatu yang mengayomi dan menjembatani gap yang ada.

Dalam mengelola MP3A, Kiai Syukri piawai memainkan peran sebagai mediator antarkepentingan berbagai ormas Islam. Hal ini terlihat dari guyub dan solidnya kebersamaan dan misi yang diusung.

Selain itu, lewat MP3A, Kiai Syukri adalah juga inisiator penting dalam mewarnai perjalanan Pendidikan Islam di Indonesia. Jauh sebelum lahirnya berbagai regulasi yang makin menegaskan keberadaan, peran, dan layanan pendidikan Islam dalam satu dekade terakhir, MP3A telah menyuarakan pentingnya perspektif kekhasan yang perlu dikembangkan lembaga pendidikan Islam.

Pasca diberlakukannya Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, terjadi silang pendapat mengenai pemisahan kewenangan dalam pengelolaan Pendidikan Islam. Di Indonesia, pendidikan berada di bawah pengelolaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama. Silang pemahaman di dalam pengelolaan pendidikan tersebut kadang mengedepankan ide perlunya saling mengambil kewenangan dan pengelolaan objek layanan pendidikan.

Dalam kaitan itu, ide tentang "diserahkannya" Pendidikan Agama Islam ke dalam layanan yang terdapat di Kementerian Pendidikan Nasional (nomenklatur waktu itu) sempat mengemuka. Ide ini kontan memicu reaksi keras dari berbagai ormas Islam, semata karena dilandasi kecurigaan yang tidak perlu kepada pemerintah.

Kiai Syukri lewat MP3A merembukkan hal tersebut dengan berbagai ormas Islam yang tergabung di dalamnya. Meski tidak mudah, langkah yang ditempuh Kiai Syukri berhasil meredam emosi kolektif yang sempat mengemuka dari berbagai ormas tersebut dan menyampaikan aspirasi mereka hingga ke berbagai pihak, dari Presiden hingga parlemen.

Kiai Syukri menengahi dan meredam gejolak yang ada, sekaligus memberi kritik dan solusi tentang pentingnya kekhasan model dan substansi pendidikan Islam. Kini, jejak ide dan konseptualisasinya mewujud pada, misalnya, pengembangan Madrasah Aliyah Kejuruan dalam dua tahun terakhir.

Minim Publisitas

Atas segala kiprah penting tersebut, "sayangnya", Kiai Syukri bukanlah figur yang mengutamakan publisitas. Capain sepenting itu tidak menjadi bahan utama yang perlu disampaikannya secara berlebihan. Akibatnya, kiprahnya dalam mempersatukan Ormas Islam yang berafiliasi pendidikan Islam tersebut tidak cukup dikenal luas secara publisitas. Namun demikian, peran dan dampak dari kiprahnya tetap mengena dan berdaya jangkau luas.

Pada perannya yang lain, Kiai Syukri senantiasa mengikuti dan mendengarkan problem dan permasalahan yang dihadapi ormas Islam di lapangan, terkait dengan penyelenggaraan pendidikan Islam. Pada konteks inilah, peran penting lain dijalaninya.

Dengan posisinya sebagai ketua umum MP3A yang mau tidak mau harus berdiri pada semua pihak, Kiai Syukri tidak lelahnya menyuarakan semua pihak terkait untuk benar-benar murni berjuang bagi pendidikan Islam.

Dalam semangat seperti ini, Kiai Syukri mengimbau perlunya menghindari kepentingan golongan dan sepihak dalam mengelola pendidikan Islam. Perspektif seperti ini menjadi penting untuk menempatkan negara hadir pada posisi dan waktu yang tepat, dan segenap elemen bangsa, khususnya ormas pendidikan Islam mampu menjaga dan mengembangkan kebersamaan dalam perbedaan.

Egaliterianisme dan pembelaannya untuk kepentingan bersama adalah teladan yang sangat penting untuk diwarisi bersama.

Saiful Maarif pegiat literasi

(mmu/mmu)