Sentilan Iqbal Aji Daryono

Nanti, Selepas Corona!

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 20 Okt 2020 18:31 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Kalimat itu sangat sering saya ucapkan belakangan ini. Mau janjian ketemu teman jauh di sana, mau mengeksekusi rencana datang ke sebuah kota, mau kumpul-kumpul untuk merayakan sesuatu, mau melakukan banyak hal lainnya, ujungnya sama. "Nanti yaaa, setelah corona!"

Awalnya, perih selalu mampir ke hati tiap kali saya mengucapkannya. Sebab di kalimat itu terkandung makna bahwa setiap rencana tidak bisa kita jalankan segera. Tapi lambat laun saya sangat menikmatinya. "Besok sehabis corona aja yaaa!" Tiba-tiba, saya merasa mendapatkan legitimasi moral atas satu kelakuan saya yang selama ini dibenci oleh para motivator dan pakar manajemen: menunda-nunda.

Saya memang jenis orang yang sangat suka menunda-nunda. Menunda dalam menyelesaikan pekerjaan, menunda datang ke sebuah janjian, menunda sembahyang (semoga emak saya tidak membaca ini).

Kalau ada janjian jam tujuh, saya akan berangkat dari rumah jam tujuh pula. Sebab saya tahu teman yang mau ketemu saya akan memberikan toleransi barang setengah hingga satu jam. Ini kelakuan dengan latar sejarah yang panjang. Dulu di masa kuliah, kalau estimasi waktu perjalanan sampai ke kampus 45 menit, saya akan mulai memacu sepeda motor 25 menit sebelum jadwal kuliah.

Demikian juga saat ini, saat saya telah terjebak dalam dinamika kehidupan pencari makan. Kalau ada pekerjaan menulis yang bisa saya lakukan selama sebulan, misalnya, saya pasti baru mulai mengerjakannya pada lima hari sebelum tenggat datang.

Saya paham, kalau saya terlambat, saya akan kena penalti, minimal honor saya dikurangi. Tapi justru karena itulah saya bisa bekerja dengan adrenalin tinggi, menyelesaikan pekerjaan dengan sepenuh tekanan, dan segala jenis tekanan ternyata memunculkan keajaiban-keajaiban. Persis ketika saya memacu motor waktu kuliah, yang cuma motor bebek butut biasa tapi pada menit-menit menjelang jadwal kuliah bisa berubah segarang Ninja.

Lalu, apa yang saya lakukan pada waktu-waktu sebelum tenggat mepet? Anda tahu jawabannya, sebab Anda pun salah satu pelakunya: tentu saja saya santai-santai dan bersenang-senang! Lebih-lebih lagi saat saya bingung untuk memilih mengerjakan tugas yang mana dulu di antara tiga atau lima. Ketimbang segera memilih salah satu, mending saya tidak memilih semuanya. Saya selalu mengingat, kalau ada dua ayam jago berebut satu betina, maka pemenangnya selalu ayam jago ketiga. Sebab memang begitulah hukum alamnya.

Dalam situasi kehidupan yang nir-manajemen seperti ini, kadang saya terkenang buku how to paling legendaris yang saya baca ketika masih mahasiswa, yaitu 7 Habits of Highly Effective-nya Stephen Covey. Kata Pak Covey, yang terberat dari ketujuh hal yang dia sarankan adalah "mendahulukan prioritas utama".

Jadi, agaknya itu memang merupakan karakter lazim bangsa manusia. Itulah sebabnya, saya yakin pengidap penyakit menunda-nunda itu bukan cuma saya. Anda juga. Ya kan? Ayolah mengaku saja. Dan karena ogah mendahulukan yang utama, maka hal-hal yang tidak utama lebih mengasyikkan untuk dilakukan selekasnya.

Ini bukan cuma terkait kita, dan urusan-urusan personal kita. Bahkan ini sama dengan beberapa isu publik yang belakangan memanaskan perbincangan massa. Tentang pengesahan UU Ciptaker itu, misalnya. Bagaimana di tengah gempuran pandemi, pemerintah dan DPR justru lebih memilih mengurus PR yang bisa dikerjakan nanti-nanti saja. Atau soal Pilkada. Bagaimana demi kemaslahatan kesehatan umat se-Indonesia, Pilkada Serentak yang potensial memicu kerumunan dan pembentukan kluster-kluster Covid baru itu semestinya diurus kapan-kapan saja.

Dengan kata lain, seiring sikap memilih mana yang lebih prioritas, kita juga bisa dengan lebih leluasa berkata kepada pemerintah, "Sudahlah, seharusnya yang dua itu ditunda saja! Besok selepas corona!"

Lagi-lagi, kita ibarat diantarkan kepada kesadaran baru bahwa sekarang ini menunda-nunda bukan lagi dosa. Kita tidak lagi harus bergerak secepat-cepatnya. Kita tak lagi perlu mengejar segala target dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Kita tak lagi harus berhitung dengan detail tentang gol-gol angka pertumbuhan, sebab di hari ini waktu tak lagi harus berarti uang.

Akhirnya, kita bahkan bisa menemukan satu ungkapan yang dirasa pas untuk itu semua. Bukan lagi menunda-nunda, melainkan "menanti saat yang tepat".

Bahwa ternyata pemerintah tetap ngotot dengan Omnibus Law dan Pilkada Serentak, itu soal lain. Yang jelas, kesan dan cara berpikir komunal itu sudah mulai terbentuk. Menunda itu tidak apa-apa. Menunda itu baik. Menunda itu bukan menunda, melainkan menunggu saat segala situasinya lebih aman dan leluasa. Kapan saat itu tiba? Tak ada yang tahu. Tapi, sudahlah, tunda saja.

Ini akan jadi cara pandang baru yang sangat menyenangkan, terutama bagi kaum penunda-nunda seperti saya. Kemarin-kemarin, pada beberapa kali momen ulang tahun, ketika usia saya terus merayap menuju tua, kadangkala saya meratap-ratap. Saya merasa terlalu banyak membuang waktu dalam kehidupan saya. Saya menua tanpa prestasi hidup, tanpa capaian-capaian sebagaimana diraih oleh kawan-kawan saya, tanpa merasa banyak berbuat apa-apa. Segala kebodohan itu terjadi ya karena saya sangat gemar menunda-nunda.

Tapi sekarang, saya mulai melihat warna yang berbeda. Apa yang saya lakukan selama ini dengan perilaku menunda-nunda sambil berleha-leha itu justru merupakan keberhasilan luar biasa. Dengan gemilang, saya telah sukses menjalankan skala prioritas. Sebab diam-diam sebenarnya saya memprioritaskan kebahagiaan dibanding target kerja dan kerja dan kerja yang menyiksa dan tidak menjanjikan kegembiraan apa-apa.

Dan, setiap Selasa, saya harus menulis catatan kecil untuk rubrik kolom ini. Waktu yang diberikan untuk saya tujuh hari. Tapi selalu saja saya baru mulai mengetikkan huruf pertama tiga jam sebelum deadline dari redaksi. Ini tentu bukan karena menunda-nunda. Saya menanti saat yang lebih tepat saja.

Adapun untuk segala rencana lain yang lebih serius dan lebih besar, bersama Anda semua, saya akan semakin menikmati kalimat ini: "Sudahlah, besok-besok sajalah, selepas corona!"

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)